AL-QUR’AN : Senandung Sang Pencari Hikmah
Alhamdulillah,.. Segenap ucapan dengan penuh kesadaran atas nikmat yang tak pernah terhitungkan, sebagaimana menghitung butiran pasir di lautan dan tetesan air dikala hujan. Sungguh benar-benar manusia itu penuh dengan limpahan kenikmatan. Maka, mari bersyukur atas nikmatnya bernafas yang tak akan pernah mampu terbayarkan, mata yang senantiasa berdecak kagum atas keindahan ciptaan-nya, kaki yang senantiasa melangkah di Bumi-Nya, dan segala kesempurnaan nikmat diri lainnya. Dan kesemua itu menjadi bukti kasih sayang-Nya kepada setiap jiwa. Tak lupa pula, nikmat Islam yang penuh kesempurnaan, keseluruhan, dan keindahan; dan nikmat Iman yang menjadikan manisnya ibadah dan sedapnya aroma ukhuwah.
Salah satu nikmat yang Allah karuniakan kepada setiap jiwa ialah Al-Qur’an. Sebuah mukjizat agung yang Allah berikan kepada kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga kerinduan kepadanya senantiasa menghujam dalam jiwa dan syafaatnya tercurahkan kepada kita semua. Al-Qur’an diturunkan sebagai bagian dari pedoman hidup yang utama, yakni sebaik-baik petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Ialah cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan. Sebagaimana hal itu diterangkan dalam Firman-Nya yang bermakna,
“…. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah al-kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah itu iman, akan tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siap saja diantara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki… (QS. Asy-Syura :52)
Sungguh Al-Qur’an itu mengandung Ilmu yang sangat menyakinkan, pengobat bagi hati yang mengalami kegundahan, pelenyap bagi segala kerancuan dan kebodohan.
“Wahai umat manusia ! sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu Al-Qur’an), oabt bagi penyakit yang ada dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus :57).
Ayat yang indah untuk menerangkan bagi setiap jiwa bahwa sejatinya Al-Qur’an menjadi sebaik-baik obat saat menyesaknya dada. Seakan ia menjadi isyarat untuk mengajak kita selalu mendekat kepadanya agar hati ini menjadi tentram dan damai. Karena hanya dengan mengingat Allah lah urusan hati menjadi tenang. Hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa terhimpun informasi-informasi yang luas dan luwes didalam Al-Qur’an, dari urusan-urusan tak tampak layaknya hati hingga urusan-urusan tampak layaknya ibadah haji.
Inilah Al-Qur’an, Ruh bagi setiap kehidupan yang menghubungkan dirinya dengan pencipta-Nya. Sebagaimana kita terhubung dalam kesehariannya melalui sholat, dalam tiap minggunya melalui puasa senin-kamis dan sholat jum’at, dalam tiap bulannya melalui puasa ayamul bith, dan dalam setiap tahunnya melalui puasa Ramadhan. Dan satu-satunya cara terhubung yang paling indah dan paling dahsyat bagi setiap manusia ialah Al-Qur’an yang mampu mengisi dadanya. Hingga kemudian Allah lah yang memberi kekuatan kepada Ruhnya dan ketika Ruh itu kuat maka ia tidak hanya bisa memikul ujian-ujian yang menimpa pada dirinya namun bahkan ujian-ujian yang lebih besar daripada itu. Tersebab itu, bagi setiap jiwa yang merindukan Tuhan-Nya maka hendaklah ia rajin untuk bermesraan dengan Al-Qur’an. Maka salah satu dari pertanda penyakit hati ialah ketika diri tidak kerasan dengan Al-Qur’an, ketika ia hanya dibuat pajangan, dan dilombakan ketika datang bulan Ramadhan saja. Padahal Al-Qur’an itu pembeda, antara haq dan batil. Namun ia hanya akan menjadi pembeda manakala dibaca, dipahami, dan diamalkan dalam kehidup sehari-hari.
Didalam Buku “Bagaimana menyentuh hati” yang ditulis oleh Abbas As-Siisi, Imam Syahid Hasan Al Banna memberikan perumpamaan tentang Al-Qur’an,
“ Disetiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga listrik. Para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel , setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran listrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga listrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik yang ada itu tidak dimanfaatkan”
Begitu pulalah sejatinya Al-Qur’an Al-Karim, ia adalah pusat pembangkit “tenaga” bagi kaum muslimin, yang mampu menerangi setiap relung jiwa dan memberikan cahaya bagi yang tersambung dengannya. Akan tetapi sumber kekuatan itu kini mulai dicampakan oleh kaum muslimin sendiri. Sehingga wajar ketika hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan menjadi rusak. Disinilah tugas kita para da’I sebagaimana tugas para pegawai listrik, yakni berusaha mengalirkan kekuatan ini dari sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya.
Demikianlah, kini sudah saatnya Al-Qur’an kita sapa dengan penuh rasa cinta dan penuh mesra. Cinta yang membangkitkan semangat dalam jiwa dan mesra yang menjadikan rindu semakin tak terkira. Cinta yang dengan senantiasa teringat padanya membuat pecintanya tidak rela pergi jauh darinya apalagi meninggalkannya. Mesra yang membuat dirinya semakin betah dengannya, seakan waktunya ingin senantiasa dihabiskan bersamanya. Inilah perasaan yang mesti kita hadirkan kepada Al-Qur’an yang sampai kapanpun akan terjaga kemurniannya. Jika menghabiskan waktu bersama gadget berjam-jam saja bisa, lantas seberapa lama kita rela menghabiskan waktu bersama Al-qur’an?
Bayangkanklah bahwa Al-Qur’an itu bagaikan hidangan paling lezat se dunia dengan berbagai menu yang ada didalamnya. Sehingga setiap kita melihatnya rasanya hati ingin mencicipinya, merasakannya, dan menikmatinya. Sehingga ketika sehari saja kita tidak mencium baunya, rasanya ada yang hilang dalam diri kita. Oleh tersebab itu, jiwa kita hendaknya senantiasa merindukannya dan menanti-natikan datangnya hidangan itu pada setiap harinya.
Inilah Al-Qur’an, bagaikan hidangan dengan berbagai menu makanan yang siap untuk dinikmati. ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an seakan-akan Allah sedang berbicara kepada kita kemudian mengisahkan berbagai kisah penuh makna. Ada kisah orang-orang yang Allah beri nikmat dan ada pula jalan orang-orang yang Allah murkai dan sesat agar kesemuanya itu memberikan pembelajaran kepada kita untuk menuju jalan yang lurus. Ketika kita sedang mendapat sedih dengan berbagai cobaan, Allah hibur kita dengan kisah Nabi Yusuf Alaihi Sallam.
Seakan Allah ingin mengatakan kepada kita, “ Wahai hamba-Ku, bersabarlah. Tidakkah kau tahu Yusuf ? Dia seorang hamba-Ku yang penuh uji. Seorang yang selalu dicibir dan disakiti saudaranya. Hingga akhirnya dia dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya. Ditemukan kabilah dagang namun kemudian dijual sebagai budak. Oleh seorang yang cantik dan menawan memasukannya kedalam sebuah kamar, kemudian semua pintu ditutup, dan robeklah baju bagian depan. Setelah lolos dari godaan malah kemudian mendapatkan fitnah dari wanita itu. Hingga akhirnya dipenjarakan. Setelah itu dibohongi temannya yang ketika itu dipenjara bersamanya. Setelah 7 tahun keluar dari penjara, temannya baru ingat kepadanya… Lihatlah, tidakkah itu sebuah ujian yang berat bagi Yusuf ? Namun Yusuf mampu melewatinya dengan kesabaran dan ketaqwaanya kepada-Ku dan bahkan dia mampu memaafkan saudara-saudaranya”.
Beranjak dari kisah lain yaitu Nabi Musa Alaihi sallam. Kisah yang begitu banyak tersebut didalam Al-Qur’an sebagai salah satu bentuk pelipur lara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikala menghadapi cobaan begitu berat dalam dakwahnya. Seakan Allah ingin mengatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ya Muhammad, bersabarlah. Tidakkah kau membaca kisah Musa ? dia seorang nabi namun susah berbicara dengan fasih sedang dirimu seorang yang pandai bertutur kata. Dia seorang yang diasuh dan dibesarkan oleh musuh besarnya yakni Fir’aun namun dia harus kembali untuk berdakwah kepadanya. Sehingga tidak heran ketika itu Fir’aun berkata kepadanya “oh jadi kamu Musa yang dulu aku rawat. Kamu kesini datang mengguruiku. Dasar tidak tahu malu”. Sedang kamu Muhammad, engkau tidak punya hutang budi kepada musuh-musuhmu. Musa pernah membunuh orang dimasa sebelum dia menjadi Nabi. Sedang engkau ya Muhammad, engkau seorang Al-Amiin bahkan semua kaum Quraisy percaya padamu”. Inilah kekuatan Al-Qur’an, Allah himpunkan kisah-kisah penuh hikmah didalamnya sebagai bagaian dari pembelajaran dan petunjuk jalan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Maka dengan demikian, sudahkah kita pahami bahwa Al-Qur’an memiliki kelezatan yang tiada tara. Maka mari bersabar meniti jalan yang lurus ini, bersabar untuk terus menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap relung jiwa kita. Sungguh, diri ini belum pantas untuk menampilkan hadist-hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbagai keistimewaan dan keutamaan Al-Qur’an. Sungguh malu rasanya karena hakikatnya diri ini juga masih berusaha memperbaiki diri. Setidaknya sedikit hal diatas sebagai penggugah bagi diri pribadi untuk tidak lengah dalam berinteraksi terhadap Al-Qur’an. Jika kesempatan untuk hidup yang singkat ini tidak mampu melunakan diri ini kepada tuntunan-tuntunan-Nya, lantas kapan kiranya untuk berusaha mendekati-Nya ?
Akhirnya, mari kita memohon kepada Rab segala pemilik isi hati. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita atas diri yang lemah dan tak berdaya, untuk senantiasa menghidupkan Firman-Firman-Nya dalam segenap asa. Mari berusaha untuk mencintai Al-Qur’an dengan segala usaha terbaik yang bisa kita lakukan. Hingga akhirnya suatu saat nanti Al-Qur’an menjadi pembela bagi kita saat bertemu dan menghadapkan diri kepada Rabb kita, Allah Azza wa jalla. Aamiin..yaa Rabbal Alamiin.
Memohon ampunan Allah atas khilaf dalam setiap aksara
Bumi Allah, 22 Oktober 2016