Buku Alvi Syahrin ini bukan sekadar kumpulan kata. Ini semacam ritual: duduk di tepi danau pikiran, lalu melemparkan batu-batu kenangan untuk melihat riak-riak yang selama ini kita hindari. Sorry, My Younger Self, I Can't Make You Happy adalah percakapan intim antara Alvi sekarang dengan Alvi kecil yang dulu percaya bahwa “dewasa” adalah sinonim dari “sempurna”. Tapi ternyata tidak. Spoiler alert: hidup tetap berantakan, tapi kita bisa memilih untuk tidak menyembunyikannya di balik senyum palsu.
Yang Paling Relate dari Buku Ini
“Masa lalu bukan untuk dilawan, tapi untuk diajak minum kopi.” Alvi mengajari kita bahwa berdamai bukan berarti melupakan. Kadang, itu cuma soal mengubah amarah jadi rasa terima kasih: “Makasih ya, versi diriku yang dulu. Kau bertahan sampai aku bisa belajar memelukmu sekarang.”
“Bahagia itu seperti hujan—datang tak diundang, pergi tak bisa ditahan.” Buku ini nggak menjual mimpi happily ever after. Alvi justru menertawakan absurditas hidup: “Kita sibuk mengejar bahagia, padahal bahagia seringnya datang saat kita berhenti lari.”
Potret kegagalan yang indah. Di sini, gagal bukan aib. Ia adalah kertas uji yang menunjukkan seberapa kuat kita bisa menulis ulang kisah sendiri.
Untuk Siapa Buku Ini?
Kamu yang sering merasa “tertinggal” karena standar bahagia orang lain.
Kamu yang ingin menangis tanpa merasa lemah.
Kamu yang percaya bahwa kata-kata bisa menjadi obat, atau setidaknya, perban sementara.












