Submer: http://style.tribunnews.com/2018/03/28/ini-bukti-kebanyakan-netizen-indonesia-punya-mulut-pedas-dalam-hal-komentar-di-medsoskamu-termasuk?page=3
Melalui platform internet, semua bisa berkespresi. Kata-kata, ide, pendapat, tuliusan, beragam konten, dan berbagai jenis hal yang dapat di publikasi dengan mudahnya di beragam wadah di internet. Biasanya, orang-orang menyebar luaskan konten melalui situs atau media sosial. Dengan kemudahan yang ada, muncul banyak insan-insan kreatif yang memproduksi berbagai konten yang menarik perhatian banyak orang, baik itu positif atau negatif yang disebar di internet. Dari konten yang ter-publish tersebut, terbuka pintu bagi para audiens untuk ikut engage dengan konten tersebut.
Contoh paling mudah yang dapat atau sering kita lihat adalah kolom konten yang ada di platform media sosial. Di setiap konten yang dipublikasikan di dalamnya, semua orang bisa dengan bebas melihat apa yang di-post. Pada dasarnya, konten yang disebar di media sosial jelas diperuntukkan untuk dilihat oleh rekan, keluarga, atau paling tidak orang yang masih ada sangkut pautnya dengan pihak yang membagikan konten di media sosial. Namun, sekarang yang terjadi adalah semua hal yang disebarkan dapat di lihat, dikonsumsi, dan dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.
Apabila seorang perempuan bernama Asri membagikan konten seperti foto di media sosial, fotonya tersebut dapat dilihat bukan hanya oleh teman-teman atau keluarganya saja. Beratus bahkan beribu orang asing yang sama sekali tak ia kenal dapat ‘menikmati’ foto yang ia sebar di akun media sosialnya. Tak hanya sampai disitu, orang-orang memiliki kesempatan untuk juga ikut berkomentar terhadap foto yang ia post.
Kasus lain adalah apabila seorang microcelebrity atau orang tenar lainnya membagikan konten di media sosial, seringkali para ‘netizen’ ikut meramaikan bagian komentarnya. Dari kalangan fans selebriti tersebut hingga para pembencinya. Para fans jelas memberikan komentar yang baik dan menyejukkan hati. Namun, para haters yang berkomentar tak segan segan mengeluarkan komentar tajam menusuk hati.
Tak puas sampai disitu, yang lebih parahnya lagi adalah para ‘netizen’ ini tak segan untuk melemparkan hinaan terhadap masalah pribadi, latar belakang, dan diri individu yang mereka tuju secara langsung. Juga ada yang berkomentar bernada cabul dan tak senonoh yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual.
Hal ini terjadi karena di dunia maya, orang-orang yang berkomentar buruk ini tak mendapatkan beban moril secara langsung, berbeda ketika ia berperilaku buruk di dunia nyata yang konsekuensi perilaku buruknya dapat langusng dirasa. Fitur anonymous yang ada di dunia virtual membuat orang lupa akan etiket yang pada dunia nyata berlaku secara mengikat kepada semua orang. Sebenarnya, di internet ada juga hal semacam etiket bernama nettiquette. Namun, tak bisa disangkal bahwa nettiquette masih sedikit longgar karena pelaku tak secara langsung melakukan perilaku buruk di depan muka korbannya. Dengan adanya jarak, membuat para ‘netizen’ dengan komentar pedas merasa aman, sejahat apapun komentar yang ia lontarkan.
Jadi, sudah sepatutnya semua pengguna internet mulai sadar bahwa biarpun ia berkomentar di dunia maya, dampak negatif dari komentar-komentar mereka mungkin dapat melukai orang lain. Semua orang di internet memang punya hak untuk berpendapat. Tapi, tak boleh lupa juga, bahwa internet adalah duang publik (walau tak nyata) sebagaimana ruang publik seperti taman, bioskop, stasiun kereta di dunia nyata. Kita tak bisa seenaknya mencaci, mengejek, atau bahkan melontarkan komentar tak senonoh kepada orang lain.
Thorpe, Vanessa (2011) Women bloggers call for a stop to ‘hateful’ trolling by mysogynist men, The Guardian, Sunday 6 November.
http://style.tribunnews.com/2018/03/28/ini-bukti-kebanyakan-netizen-indonesia-punya-mulut-pedas-dalam-hal-komentar-di-medsoskamu-termasuk?page=3