Sebelum membahas Menanti diawali dengan pertanyaan “Perbedaan mau menikah atau siap menikah?”
Kalau siap menikah ada ikhtiar untuk mencapai tujuan dengan mencari ilmu, sebaliknya jika belum siap belum ada usaha atau ikhtiar untuk mencapai kesiapan menikah
Sudah siap, tapi ada yang belum menikah bisa jadi karena :
- Kurang sreg dengan pasangan yang ditawarkan saking perfeksionisnya kita
- Trauma dengan kegagalan masa lalu (contohnya kegagalan dalam ta’aruf)
- Jodoh yang tak kunjung datang
Inilah yang paling sulit untuk kita jawab. Karena semuanya ada hak prerogratif Allah semata. Yang bisa kita
Dalam masa menanti ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan, yakni :
1. Mencoba melalukan upgrade diri dalam segala hal. Upgrade diri dalam hal keilmuan, yang suatu saat nanti yang kita butuhkan saat berumah tangga. Contoh : ilmu berkomunikasi dengan pasangan, ilmu parenting, hafalan quran, hafalan hadits, dan meningkatkan kapasitas keilmuan lainnya. Kelak ketika menikah, itu bisa menjadi sumber jawaban dari masalah dalam keluarganya.
o Dalam proses upgrade diri tidak fokusnya pada SIAPA saya menikah, tapi pada upgrade diri untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan nantinya. Fokusnya pada diri kita sendiri.
2. Beriktiar dengan benar (proses ta’aruf-akad nikah)
o Jalan yang baik ada, jalan yang buruk sangat banyak. Berperasangka baik ke Allah. Maksudnya dengan ikhtiar yang benar di sini adalah berhusnudzon kepada Allah atas segala ketetapan-Nya serta menjemput jodoh dengan jalan yang baik
o Lewat murabbi/guru ngaji hanya 1 dianatara sekian cara yang benar. Ada keluarga, sahabat, teman kerja, dll.
o Libatkan pihak ketiga (harus) amanah dan kita yakini mampu mendampingi porses ikhtiar kita. Yang dimaksud amanah, pihak ketiga nya tidak boleh “bocor” karena proses ta’aruf belum tentu “berhasil” hingga proses2 selanjutnya.
o Kriteria yang diinginkan terlalu tinggi. Memilih pasangan fokuskan pada diin (agama)nya. Memilih pasangan “nepakke awak e dhewe”
o Mengabaikan jalan menemukan pasangan, dengan jalan yang baik.
Bergaullah dengan lingkungan yang baik sebab jodoh yang baik akan ditemukan di lingkaran orang-orang yang juga baik, dan sama-sama melakukan aktivitas kebaikan.
o Ini kliese, tapi harus kita yakini kebenarannya. Kalau Allah hadirkan jodoh di waktu yang tepat dan memberikan yang terbaik dalam segala hal. Jangan risau jika usia kita terus berjalan.
o Yakinlah bahwa dengan kesabaran tanpa batas, Allah akan memberikan jodoh yang terbaik. Entah itu dari aspek fisik, akhlak, kompetensi, maaliyah, ruhiyah, dan yang lain. Kesabaran. Akan menjadi proses tawakkal kita.
o Kita harus berdamai dengan keadaan = sabar
- Dalami ilmu agama, utamanya tentang kerumah tanggaan, hubungan suami istri, fiqh thaharah, macam-macam najis, dll
- Ilmu keterampilan praktis : memasak, menjahit sederhana, tata ruang rumah, berkebun
- Ilmu kesehatan : hamil, menyusui, tentang ASI, obat-obat sederhana. Rahim kita jaga dengan baik.
- Ilmu parenting : mendidik anak sesuai usia, dll
- Ilmu sosial : bertetangga, bermasyarakat, berperan dan berkontribusi di lingkungan.
o Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih serta memurnikannya untuk mengharap Allah semata, baik berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan.
o Sudah banyak wajihah (organisasi atau komunitas) yang bisa kita jadikan “pelabuhan” sementara penantian kita.