The Blues Power VS Blue-Blood Power
Siapa yang dapat memandang sebelah mata kekuatan The Blues Chelsea? 4 kali juara dan 4 kali runner-up England Premier League, 2 kali juara dan 4 kali runner-up Football League Championship, 6 kali juara dan 4 kali runner-up Piala FA, 4 kali juara dan 2 kali runner-up Piala Liga Inggris, 4 kali juara dan 5 kali runner-up FA Community Shield, 2 kali juara Full Members Cup, 1 kali runner-up Liga Champions UEFA, 2 kali juara Piala Winners UEFA, dan 1 kali juara Piala Super UEFA. Koleksi trofi klub yang didirikan 10 Maret 1905 ini adalah bukti nyata “The Blues Power”.
Sesaat setelah kedatangan arsitek baru yang bernama lengkap Luis Andre de Pina e Villas-Boas ke Stamford Bridge, aroma juara sempat tercium lantaran sejarah kesuksesan manajer muda asal Portugal ini, ditambah bayangan kesuksesan mentor terdahulunya – Jose Mourinho – yang pernah mengantar Chelsea menjadi klub yang sangat disegani.
Juni 2011, pada saat hooligans Chelsea menyambut baik manajer yang pernah mengantar FC Porto meraih juara Liga Primer Portugal sekaligus Liga Eropa UEFA dalam tahun pertamanya memimpin, saya justru menulis sebuah “lampu kuning” untuk bangsawan berusia 34 tahun ini. Lampu kuning untuk si biru! Si darah biru ini optimis akan memberikan 4 trofi kepada The Blues. Pada artikel olah raga berjudul “The Special One Chapter 2”, saya memberi isyarat bahwa Boas bisa saja menggenapi optimismenya tersebut, asal ia sanggup mengatur skema dan performa terbaik tim, serta meredam ego pemain-pemain yang lebih tua darinya. Hampir setahun berselang, 1 trofi pun belum dapat ia realisasikan. Bahkan AVB belum berhasil menyatukan keutuhan skuad di ruang ganti. Ya, lampu kuning yang saya pernah berikan sayangnya terjadi. Pemain-pemain senior The Blues mulai tidak mengikuti arahan pelatih muda ini, seperti Lampard dan Didier Drogba.
Inilah sisi lain dari “The Blues Power”. Kekuatan yang dimiliki tim elit benua biru ini tidak hanya terletak pada torehan prestasi selama Chelsea berdiri, tetapi pula kekuatan yang terletak pada ponggawa-ponggawa Chelsea – baik yang duduk dalam jajaran officer, skuad, maupun hooligans – yang selalu haus akan gelar juara, khususnya trofi UEFA Champions League yang masih belum bertengger pada lemari trofi di London. Sehingga Villas-Boas harus meladeni kekuatan lain The Blues ini sembari meracik kekuatan tim untuk mengalahkan keseluruhan “The Blues Power”.
Kini sang bangsawan berada di persimpangan; dimana banyak pihak menaruh beban besar di pundaknya yang jika tidak diwujudkan dapat berujung pemecatan. Perjalanannya di Chelsea pada 25 pertandingan Premier League musim ini, The Blues sudah menelan 6 kekalahan. Hal ini sedikit mengingatkan pada perjalanan pendahulunya, Carlo Ancelotti, membesut The Blues musim lalu. Pada jumlah pertandingan yang sama, Ancelotti juga membuat The Blues kalah 6 kali. Pada akhir musim, Don Carletto dipecat. Hanya membawa The Blues di peringkat 4 besar tidak cukup buat taipan asal Rusia, Abramovich - yang sekaligus mengingkan trofi “kuping besar” UCL - puas. Inilah peta kekuatan keseluruhan The Blues yang harus dilawan oleh si “darah biru” AVB. Apakah Andre Villas-Boas akan selamat dari tekanan?
Apakah Andre Villas-Boas benar-benar sudah di ujung tanduk? Sebetulnya tidak, karena masih ada jalan-jalan keselamatan baginya. Saya akan membuka jalan itu dengan dua opsi, yakni: Liga Champion dan Neraca Keuangan Chelsea.
Jika AVB sanggup mengantarkan Chelsea ke takhta tertinggi Benua Biru musim ini, UEFA Champions League 2011/2012, maka selamatlah ia. Maklum, hanya gelar juara Liga Champion Eropa saja yang belum dikoleksi Chelsea. Walaupun langkahnya terseok karena kekalahan 1-3 dari Napoli di leg I babak 16 besar UCL, namun selalu ada kesempatan. Jika kesempatan ini tidak dimaksimalkan dengan baik, rasanya sulit melunturkan hati pemilik Chelsea, Abramovich, yang terkenal tidak sabar menunggu pelatih-pelatih yang terlalu lama menghadiahkan gelar juara pada timnya.
Selain gelar bergengsi, neraca keuangan Chelsea sepertinya dapat dijadikan senjata penyelamat AVB. Pasalnya, neraca keungan Chelsea sedang tidak baik. Jika Abramovich memecatnya, maka ia harus merogoh kocek sekitar 69.1 juta pounds atau setara dengan 1,001,824,000,000.37 rupiah. Sungguh sebuah nominal yang besar bukan? Jika Abramovich tidak sudi menunggu AVB mempersembahkan trofi, manajemen Chelsea kemungkinan besar akan menahan niatnya memecat AVB lantaran untuk menyeimbangkan neraca keungan.
Penyelamat-penyelamat itu tidak lantas membuai AVB. Apa yang harus Andre Villas-Boas lakukan adalah membuktikan bahwa kepercayaan dan optimisme di awal musim masih tetap dijaganya hingga akhir musim (bahkan seterusnya). “Blue-blood” power still has a chance to win The Blues power!
Lebih dalam lagi, melihat tabiat Abramovich dan lalu lintas pelatih-pelatih hebat Chelsea yang datang dan hengkang, rasanya saya sangat menyayangkan sifat tidak sudi menunggu yang dimiliki bos asal Rusia ini. Terkadang membuang pelatih “gagal” adalah sebuah kegagalan. Andre Villas-Boas masih muda. Pelbagai masalah dan tekanan yang ia terima – jika dimaknai – akan menjadi modal yang kuat untuk menambah kekuatan The Blues. Saya sudah bisa melihat tangga keberhasilannya 2-3 tahun ke depan. Untuk kasus seperti ini, kita bisa lihat situasi yang sama terhadap manajer klub Inggris yang lain, yakni Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Lihat bagaimana Manchaster United dan Arsenal memperlakukan kedua pelatih ini, dan lihat bagaimana hasilnya.
Apapun yang akan menyelamatkan Villas-Boas, tidak ada yang lebih bisa menyelamatkannya selain dirinya sendiri. Si “blue-blood” harus tetap mengeluarkan power yang selama ini mengahantarkan ia masuk dalam jajaran asisten pelatih dan pelatih favorit, dengan tetap memaksimalkan power dari “The Blues” dan membuat filter untuk power lain The Blues yang menekannya. - (fjm)
- Findy Jacqueline Mandey (Indonesian Sport Donna)