Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) baru saja diumumkan. Riuh kebahagian siswa dan guru berbanding lurus dengan nilai yang dicapai dari hasil UNBK. Itulah salah satu momen paling membahagiakan bagi seorang guru, khususnya guru mata pelajaran UNBK; sebuah hasil dari kerja keras maksimal dari para guru mata pelajaran UNBK yang sangat membanggakan. Setidaknya, guru-guru mata pelajaran non-UNBK masih dapat berbangga hati saat siswa memperoleh nilai yang tinggi pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) atau Ujian Sekolah (US) atau Ujian Akhir Semester (UAS). Guru mata pelajaran masih dapat bergembira saat siswanya mengikuti sebuah perlombaan dan berhasil pulang membawa piala. Tetapi, guru bimbingan konseling? Dapatkah guru bimbingan konseling juga memiliki momen kebahagiaan dan kebanggaan seperti yang dirasakan oleh guru lainnya?
Saya tidak pernah membayangkan diri saya menjadi seorang guru. Saya tidak suka mengajar. Masih teringat jelas di pikiran saya ketika saya menangis di hari wisuda SMA pada 2012 silam karena saya tidak diizinkan untuk melanjutkan pendidikan S1 di bidang psikologi seperti yang saya inginkan, melainkan di bidang keguruan dan ilmu pendidikan matematika. Sebuah keputusan berat yang harus saya ambil karena orangtua menghendaki saya untuk melanjutkan kuliah pada jurusan ilmu pendidikan agar nantinya dapat menjadi guru yang berstatus PNS. Masih tersimpan pula di memori saya ketika salah seorang guru SMA saya mengatakan bahwa saya sangat cocok untuk menjadi seorang guru, namun saya langsung menolak keras pernyataan tersebut. Menjadi guru benar-benar sebuah hal yang tidak pernah masuk dalam daftar mimpi atau tujuan hidup saya. Bagaimana pun, inilah saya sekarang: seorang guru bimbingan konseling SMA Negeri Sumatera Selatan.
Mungkin semua ini terdengar seperti karma, tetapi saya sadar bahwa saat itu saya hanya belum melihat diri saya secara lebih dekat. Selama tiga tahun lebih saya menempuh pendidikan di bidang psikologi—setelah bernegosiasi dan mengusahakan jalan tengah kepada orangtua saya—, saya akhirnya harus mengakui bahwa saya memiliki ketertarikan yang sangat besar di bidang pendidikan. Dari sekian banyak bidang konsentrasi dan spesialisasi pada jurusan psikologi, saya memilih psikologi pendidikan. Saya merasakan kegembiraan dan kepuasan tersendiri saat berbagi ilmu dengan teman-teman dan adik tingkat dalam program tutorial di kampus. Saya rela untuk datang lebih awal di kelas psikologi pendidikan dan psikologi konseling. Saya selalu tidak sabar menantikan pertemuan saya dengan konseli saya saat praktikum mata kuliah psikologi konseling. Sederetan pengalaman tersebut telah menyadarkan saya bahwa saya memiliki ketertarikan untuk menyelami dunia pendidikan dan membuat saya akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru bimbingan konseling.
Kembali berbicara mengenai kebahagiaan guru bimbingan konseling. Tidak ada target nilai akademik yang butuh diraih oleh guru bimbingan konseling sehingga harus membuat kelas tambahan di luar jam pelajaran normal. Alih-alih membuat kelas tambahan, guru bimbingan konseling hanya memiliki satu jam pelajaran saja setiap minggunya untuk mengetahui kondisi mingguan siswa, mendengarkan cerita dan keluh-kesah siswa secara klasikal, atau memberikan materi yang dapat mengasah kecerdasan emosional dan persiapan karir siswa di masa depan. Bahkan, tidak sedikit jumlah sekolah yang guru bimbingan konselingnya tidak memiliki jam pelajaran di kelas. Ditambah lagi, tidak ada pula kompetisi yang dapat diikuti atau dimenangkan oleh guru bimbingan konseling bersama siswanya sehingga di suatu hari di awal pekan akan terpanjang senyum kegembiraan pada sebuah “dinding” jejaring internet karena telah menjuarai sebuah kompetisi. Meski semua hal tersebut tidak dapat dialami oleh guru bimbingan konseling, saya sebagai guru bimbingan konseling menyatakan bahwa kebahagian bagi guru bimbingan konseling itu sangat unik, begitu sulit untuk dijelaskan, hanya bisa dirasakan personal, terlalu kasat mata, tidak ternilai, dan tidak dapat ukur.
Saya sangat bersyukur bahwa SMA Negeri Sumatera Selatan memberikan ruang bagi guru bimbingan konseling untuk memiliki pertemuan tatap muka secara klasikal dengan siswa di kelas. Dengan begitu, saya dapat memperbaharui pengetahuan saya mengenai perkembangan dan permasalahan siswa secara terjadwal setidaknya setiap satu minggu sekali. Satu hal yang sangat berkesan bagi saya sebagai guru bimbingan konseling di SMA Negeri Sumatera Selatan yang merupakan sekolah berasrama, yaitu jadwal pertemuan individual saya dengan siswa sangat tidak terprediksi. Terkadang saya harus rela mengesampingkan waktu luang saya di sore atau malam hari untuk mendengarkan keluh-kesah dan curhatan siswa mengenai berbagai hal. Seringkali, saya harus menyediakan waktu luang yang saya miliki untuk mempersiapkan diri dalam menggapai impian yang belum tercapai bagi siswa yang sedang berapi-api menceritakan impian dan semangatnya untuk lebih maju.
Mungkin hal tersebut terkesan sangat biasa saja, namun saya sangat menghargai kepercayaan yang diberikan oleh orang lain untuk menceritakan impian, masalah, dan hal-hal terdalam pada dirinya kepada saya. Saya ingat dan ikut merasakan setiap semangat siswa yang sedang menceritakan targetnya, setiap kekhawatiran dalam mencapai target tersebut, setiap keluh kesah dan kesedihan saat menghadapi hambatan dan kegagalan, dan setiap tangisan kebahagian saat siswa berhasil membuat sebuah langkah perubahan ke arah yang lebih positif bahkan ketika langkah tersebut hanya langkah yang sangat kecil. Semua hal tersebut memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi diri saya; kebahagiaan yang tidak dapat dilihat ataupun dirasakan oleh orang lain.
Jadi, jika ditanya apakah guru bimbingan konseling memiliki momen kebahagiaan dan kebanggan? Tentu saja; bahkan setiap hari. Bahagia dan bangga mengetahui siswa menerima kondisi dirinya sekarang dan melakukan hal positif setiap harinya untuk membuat dirinya menjadi lebih baik; bahagia dan bangga saat siswa dapat menentukan jalan hidupnya ke depan sesuai dengan kemampuan dan ketertarikannya; bahagia melihat siswa semangat dalam memperjuangkan impiannya bahkan ketika hambatan dan kegagalan datang bertubi-tubi; dan tentu saja bangga saat siswa berhasil mencoret setiap daftar target yang sudah dibuatnya. Sekarang, saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa saya menikmati pekerjaan saya menjadi seorang guru bimbingan konseling. Terima kasih, siswaku, atas kepercayaan yang telah diberikan. Terima kasih telah mengusahakan yang terbaik untuk memaksimalkan segala potensi yang terdapat dalam diri kalian. My dear students, you are never the second©
A very late-night-thought