Puasa Pertama Jiya
Jiya sekarang sudah kelas dua sekolah dasar. Tahun ini adalah tahun pertamanya belajar menjalankan puasa Ramadan. Jiya sangat antusias. Hari ini ia bangun sendiri untuk makan sahur tanpa dibangunkan oleh Mama. Jiya juga bertekad kuat untuk menyelesaikan puasanya sebulan penuh tanpa bolong.
Seusai salat Subuh, Jiya diajak oleh teman-teman sekolahnya untuk jalan pagi keliling desa. Jiya tinggal di sebuah desa yang masih hijau dengan sawah dan sungai yang luas. Oleh karena itu, tidak heran jika udaranya pun terasa segar.
Matahari sudah terbit sempurna ketika Jiya tiba di rumah usai kembali dari jalan pagi. Meskipun tidak terlalu jauh, ternyata jalan pagi cukup membuatnya merasa haus. Seperti biasa Jiya meraih gelas di lemari dan mengambil air minum. Namun baru seteguk, Jiya kaget. Ia buru-buru memuntahkan air di mulutnya tetapi terlambat, air itu sudah tertelan.
Mama melihat Jiya menangis.
“Ada apa, Nak? Kenapa kau menangis?” tanya Mama kepada Jiya yang sesenggukan.
“Puasa Jiya batal, Ma. Jiya lupa minum air padahal sedang puasa huhuhu.” Isak tangis Jiya semakin kencang.
Mama tersenyum. “Boleh berhenti menangis dulu? Mama akan beri tahu sesuatu,” ucap Mama menenangkan Jiya.
Jiya mengangguk. “Rasulullah pernah berkata bahwa ‘barang siapa makan karena lupa sementara ia sedang berpuasa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum’,” kata Mama.
“Tetapi itu tidak berlaku jika yang dimakan berjumlah banyak. Jiya hanya minum seteguk, ‘kan?” Pertanyaan Mama dijawab anggukan kecil oleh Jiya.
“Nah maka dari itu, Jiya tidak perlu sedih karena masih boleh melanjutkan puasa,” pungkas Mama.
Jiya mengusap air matanya dan tersenyum senang. Ia memeluk Mama sambil mengucapkan terima kasih. Jiya juga senang karena mendapatkan pengetahuan baru di hari pertamanya berpuasa.
“Allah ternyata sangat baik,” batin Jiya.














