30 Juli 2016
Aku dan teman-teman kantorku sedang trip ke jogja weekend ini. Kami sedang membicarakan tentang perkenalan dengan orang asing yang kami temui. Saat temanu pulang ke Jogja, dia diajak ngobrol oleh seorang mas-mas. Masnya bertanya tentang nama temanku. Dan keesoka harinya berakhir dengan social medianya temanku terdapat permintaan pertemanan oleh masnya. Masnya pun selalu memposting ucapan-ucapan gombal perkenalan sampai mengajak menikah. Dan hal ini berlangsung hingga beberapa bulan.
Temanku yang ain, saat dia berada ditravel dalam perjalanan pulang. Dia diajak berkenalan dengan bapak-bapak. Bapaknya berbicara lamaaaaaaaa tidak ada jeda. Bahkan temanku sambil mendengarkan lagu dihape pun masih saja diganggu bapaknya. Kemudian si bapak menceritakan tentang anaknya, entah ingin menjodohkan atau bagaimana.
Terkadang dari perkenalan dengan orang asing bisa saja itu adalah awal sebuah cerita tentang jodoh.
Namun salah seorang temanku tidak mempercayai hal itu. Baginya masalah jodoh harus dimulai dari tahap perkenalan, istilah awamnya adalah pacaran. Katanya, “beli sepatu aja au milihnya lama. Apalagi soal jodoh.”
Dan aku tidak setuju dengannya. Kalau aku akan membeli suatu barang, maka aku akan merasa berjodoh dengan barang tersebut. Missal sepatu, awalnya aku akan melihat-lihat semua sepatu yang diapajang di took. Sampai hingga saatnya mataku akan jatuh pada sepatu yang aku taksir. Dan kemudian aku akan membelinya. Seperti hatiku akan tergerak untuk membelinya. Dan memang sepatu itu untukku.
Maka untuk masalah jodoh pun aku percaya bakal langsung sreg dengannya *eh














