Perjuangan itu belum berakhir. Tidak bisa sejak kemerdekaan Negara ini, kita lantas menyuarakan penjajahan sudah musnah. Toh, kini di depan mata segala bentuk penjajahan itu bertengger, kemudian menyerang secara halus, merusak akar dari tiap masing-masing orang.
Miris kalau lihat video yang beredar tanpa adanya ajaran. Yang sekacau itu dibebaskan, sedangkan yang punya nilai dan pesan kehidupan ditarik dari peredaran. Apa yang terjadi dengan dunia ini? Yang salah dibenarkan, dan yang benar dibiaskan hingga tidak terlihat benar. Atau orang-orang menutup mata pada kebenaran?
Perjuangan belum selesai. Lihatlah diri. Masih banyak yang perlu diurusi. Mulai dari kebutuhan pokok, jiwa selalu merongrong minta dipenuhi. Lantas kita bekerja, asal dapat kerjaan dan penghasilan. Sudah bekerja, digadaikan rasa kenyamanan. 45 jam dalam seminggu di lingkungan pekerjaan, mengerjakan yang kadang tidak sesuai dengan rasa cintanya pada suatu bidang. Tapi ya gimana lagi ini sudah jadi jalan kehidupan.
Seakan pasrah, kan awalnya demi memenuhi kebutuhan diri. Sandang, pangan, papan sudah tidak menjadi bayang-bayang lagi. Lalu apa kabar rohani? Dia tidak merongrong juga? Bukankah yang akan ikut pada akhirnya adalah roh bukan jasad?
Lagi-lagi harus berjuang, menyeimbangkan antara kebutuhan roh dan jasad. Mana yang lebih penting? Sama-sama penting memang. Saat roh butuh untuk saat ini dan masa depan, dan jasad tidak dapat dielakkan bahwa kita hidup sekarang ini butuh masukan pada jasad.
Kemudian akan terus berjuang. Bagaimana idealisme sejalan dengan realita. Kenyataannya realita lebih menang. Kita takluk pada sesuatu yang sudah nyata, mengejar menjadi bayang-bayang setiap waktu. Seperti debt collector yang menyerang ingin dibayar. Namanya juga realita, ya nyata. Lalu kemana idealisme? Kubur saja dulu, nanti gali kembali.
Sampai perjuangan hampir berakhir, kita masih berjalan di kehidupan realistis. Mengikuti pattern yang sudah ada. Sebab takut menjadi berbeda. Tergerus arus dengan keyakinan yang sudah terkubur.
Perjuangan ternyata tidak akan pernah benar-benar selesai. Berjuang meyakini diri. Melawan elemen yang mendistraksi kita saat ingin benar. Pertanyaan-pertanyaan kadang yang menjadi sumbernya. Ingin terlihat rapi dan bersih oleh orang lain. Berjuang untuk sekelumit masalah dan menemukan adanya kebenaran. Bagaimana sebetulnya kebenaran itu? Apakah ia bersembunyi atau kitanya saja yang sering menarik diri? Enggan tahu sebab takut dibilang ini itu sama mereka-mereka itu.
Berjuang untuk terlihat rapi dan bersih dimata orang. Hey kamu sedang mencari penilaian manusia? Lantas untuk apa? Ada yang keliru dari perjuangan itu.
Berjuang untuk orang lain, orang lain berjuang untuk yang lainnya. Ah aneh! Berjuang tidak serumit itu.
Looks delicious gak? Please pardon lantai dan bayangan tangan yang membuat gambar ini tidak menarik. Tanpa diedit, ini gambar asli, karena agak males sih ngeditnya, jadi yah tampil natural aja, oke?
Jadi gini, kemarin malem aku dan teman kostan - Dimitria Pranoto, mencoba membuat makanan yang kekinian banget. Awalnya kita pernah coba di salah satu tempat makan di Semanggi dan menabak-nebak rasanya, “ah inimah ketan, tinggal pake mangga dan saus santan”, yah namanya juga Mango Sticy Rice!
Kejadian itu udah lamaa banget, tidak pernah kepikiran mau trial suatu saat nanti. Mencoba makanan itu begitu saja dan berakhir dengan ‘oke cukup tahu rasanya’. Hari demi hari, eh kok makanan ini jadi membumi banget ya. Tiap liat timeline instagram, story orang-orang, rasanya gak bisa seharipun tanpa lihat si ketan mangga ini.
Biasanya kita belanja sayuran ke pasar tiap hari libur, berjalan biasa sesuai dengan apa yang mau kita beli dan yang bener-bener kita butuhkan. Saat aku beli pisang, disampingnya ada yang jual Mangga, kelihatan oke sih seger gitu, ada mangga arumanis, indramayu, mangga apel den permanggaan lainnya. Tiba-tiba otak random ini tercetus, “Eh Dim, bikin mango sticky rice yuk! so good tuh mangganya, kayaknya manis-manis deh.”
Tanpa pikir panjang (emang dasarnya kita ini adalah manusia yukemon alias gampang aja bilang KUY dan cus KEMON dalam hitungan detik). Jadi aja kita beli Mangga Indramayu 3 biji yang gede-gede. Lanjut beli perlengkapan bahan untuk keperluan membuat manggo sticky rice, sambil beli prioritas sayuran yang sudah direncanakan.
Aku kasih tahu ya apa aja resep buat bikin Mango sticky rice ala anak kostan yang dana dan alatnya terbatas. Kita gak punya buat kukus loh, hanya bermodalkan rice cooker. hahaha
Sebelumnya mohon maaf ya kita gak fotoin setiap kali prosesnya, dan alatnya apa aja, karena gak kepikiran sama sekali buat dokumentasiin. Cuma sekedar coba bikin dan menikmatinya. Itu aja.
Jadi bahan yang diperlukan untuk membuat mango sticky ricenya adalah :
Beras ketan, kita beli 1/2 kilogram, tapi yang digunakan hanya 2 gelas takar 200 ml, jadi beras ketan yang kita pakai adalah 400 ml.
garam seujung kuku
gula putih 2sdt
santan 100 ml
cara membuat:
Sebelum beras ketan siap diolah menjadi bahan dasar, beras ketan ini dicuci terlebih dahulu dan rendam selama kurang lebih 4 jam. Agar beras ketan ini menghasilkan tekstur lengket nantinya. Setelah selesai direndam, baru deh bisa diolah untuk membuat mango sticky rice.
Persipakan alat untuk mengukus. Karena kita hanya pakai rice cooker, jadi kita masak dulu air hingga mendidih lalu masukan ke dalam panci penanak nasi, air yang diisi hingga batas tempat masak ketan.
Masukan beras ketan yang sudah direndam ke dalam tempat pemanas yang biasanya ada di rice cooker ituloh. Sedikit tambahkan garam dan gula.
Setelah air mendidih, letakkan tempat ketan tersebut diatas air yang ada di dalam rice cooker. Lalu tutup dan tekan tombol untuk memasak.
Apabila sudah ada uap keluar, kita buka lalu aduk sebentar beras ketannya, masukan santan yang sudah diberi garam, aduk dan tutup kembali sampai ketan benar-benar matang.
Sambil nunggu ketan ini matang, kita buat dulu saus santannya. Saus ini akan disiram di atas ketan dan mangga. Bahannya pun simple banget, yaitu:
Kita pakai santai kara sebanyak 2 bungkus, diambil satu setengah bungkus karena setengahnya kita pakai untuk beras ketannya sendiri. Karena santan kara ini kental, jadi kita tambahin air sebanyak 300 ml.
Garam seujung kuku
Gula 3 sdm
Tepung beras 1 sdm
Cara membuat saus santannya yaitu:
Siapkan terlebih dahulu cairan tepung beras. Satu sendok makan tepung beras ditambahkan dengan air secukupnya, hingga tepung beras merata.
Masukkan santan yang sudah diberi air ke dalam panci, tambahkan gula dan garam. Letakkan diatas kompor menyala. Aduk hingga air santan cukup mendidih.
Masukkan secara perlahan cairan tepung beras ke dalam kuah santan sambil terus diaduk hingga kuah sedikit mengental.
Apabila sudah hampir kental, langsung matikan saja kompornya.
Agak lama memang masak beras ketan di rice cooker ini, hampir 30 menit lampu masaknya belum pindah ke warm, masih di cook terus. Sambil menunggu, kita kupas mangga dan potong menjadi dua bagian, lalu diiris dengan bentuk kotak-kotak.
Karena lama nunggu ketan gak mateng-mateng, akhirnya kita cek tingkat kematangan. Dengan bekal ilmu ala kadarnya, yang gak tau matengnya beras ketan itu segimana, akhirnya begitu kita coba dan sudah agak lembek kita anggap beras ketan itu sudah matang.
Tinggal eksekusi deh untuk dihidangkan.
Kita bentuk ketan itu dengan mangkuk kecil, setelah terbentuk kita letakan diatas piring. Tuangkan saus santan diatas ketan, setelah itu mangga letakkan di atasnya. Dan taraaaaaa si Mango Sticky Rice siap dihidangkan dan disantap dengan riang, yummyyy!
Itulah kreasi anak kostan yang serba terbatas ini. Kadang muncul ide yang tiba-tiba aja pengen masak sesuatu. Dengan bahan yang sudah aku tulis di atas, menghasilkan 2 porsi mango sticky rice. Dan itu kenyang bangeeet! Cocok deh buat makan malam sehat :-D
Ada yang kurang sebenarnya, yaitu taburan wijen. Kalau yang dijual diluar kan pakai taburan wijen dan tampilannya oke, mangganya ada yang diiris tipis dan potongnya serong. Ini kreasi sih, buat temen-teman yang mau nyoba di rumah, boleh mangganya diiris gimana aja sekreasinya teman-teman. Kemudian yang kurang juga adalah daun pandan, biar wangi gitu si ketannya. Paling tidak kalau gak ada daun pandan, bisa pakai serbuk vanilla biar wanginya bikin enak.
Selamat mencoba dirumah ya! Simple dan gampang banget kan? Bisa berkerasi sebebas mungkin. kalau mau ditambahkan rasa-rasa seperti greentea, durian atau apapun yang mengenakan boleh juga kok :-D
Terakhir, kenapa ala 22? Karena kostan kita itu nomor 22. Jadi, kadang kalau kita trial buat makanan apapun, seringkali menyebutnya resep ala 22. Begitu teman-teman, jangan lupa like, comment, dan subscribe yaaa! Eh lupa, ini bukan sosmed sebelah, hehehehe.
Ah sungguh! Novel karya Tere Liye biasa menggugah siapa saja yang membacanya. Aku pikir sih begitu. Karena aku baru saja rampung menyelesaikan novel yang tebalnya 400 halaman itu dalam 2 hari! Yap, awal membacanya itu berat, tapi aku paksakan karena tidak terlalu banyak aktifitas, tak ada alasan aku untuk tidak lagi membaca.
Bisa dibilang sudah lamaaa sekaliii aku tidak baca buku. Yap! semenjak disibukan dengan rutinitas pekerjaan yang, hmm never ending job, kerjaan itu semakin dikejar dan dikelarin, malah gak kelar-kelar loh. Artinya, setiap satu kerjaan beres, akan menambah kerjaan lainnya, Ya itu sih hukum alam, dimana kita telah selesai dengan sesuatu maka akan ada urusan lain yang perlu dihadapi, that’s it gaes!
Balik lagi ke judul, tentang pulang. Sedikit meresume secara sederhana novel berjudul pulang ini. Buku yang awalnya berat dibaca, setelah mencobanya jadi ketagihan gak mau berhenti. “Pulang” di novel ini mengisahkan perjalanan panjang tiap orang untuk kembali kepada sesuatu yang baik. Seburuk apapun masa lalunya, sekelam apapun yang dialami, tidak menutup kemungkinan ia untuk berubah mencari jalan terang, asalkan dia tau kemana harus pulang.
------------------------------------------------
Seorang anak yang tinggal di suatu kampung, diajak ke kota dengan dalih menjadikan hidupnya lebih baik, dan salah satu bentuk hutang budi atas jasa ayahnya yang sudah menyelamatkan suatu keluarga sebab telah terjadi pertarungan besar di masa silam. Ayah sang anak adalah seorang tukang pukul paling mahsyur turunan ayanya. Karena cintalah yang menyebabkan berhenti dari pekerjaan itu, cinta dalam arti sebenarnya: mencintai seseorang. Dia memilih tinggal di kampung, mengurusi ladang bersama istrinya yang sudah dia cintai puluhan tahun, tanpa restu.
Sang anak yang dikenal dengan nama “Si Babi Hutan” tumbuh dewasa dengan perbekalan ilmu pengetahuan sampai ke Negeri seberang, untuk menjalankan kehidupannya sebagai tangan kanan keluarga yang sudah membawanya pergi ke Ibu Kota. Menjadi garda depan dalam melaksanakan roda bisnis yang terbilang cukup ilegal, dia yang tidak pernah mengenal rasa takut berlayar kemanapun dia punya tujuan demi menggerakan bisnis keluarga yang dikenal dengan nama “Keluarga Tong”.
Musuh pasti berdatangan kala di puncak kejayaan, sudah hukum alam akan ada yang pro dan kontra pada kesuksesan seseorang. Keluiarga itu berhasil menguasai asia pasifik, dan perebutan kekuasaan mulai terjadi antar keluarga. Dengan segala macam dinamika, peperangan yang melibatkan nyawa berangsur-angsur terjadi.
Hingga pada titik dimana semuanya sudah usai, bukan karena lelah merebutkan, menang atau kalah. Tapi pemeran utama, alias “Si Babi Hutan” menemukan makna kehidupan yang tidak pernah ia cari. Dalam perjalanannya mengemban ilmu, baik ilmu yang menjadi kekuatannya berpikir dan ilmu ketangguhan fisiknya, setiap gurunya memberikan arahan dan pesan yang saat ia belajar tidak pernah tahu maksudnya, sampai ia mengerti ketika menghadapi situasi pelik dan hanya dirinya yang mampu memecahkannya.
Berkat bantuan saudaranya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, padahal saudaranya sudah jauh memantaunya. Ia kembali menemukan jalan “pulang”, tidak pernah ia merencanakan sebelumnya. Kepulangannya bukan hanya pada tempat/rumah dimana ia dibawa pergi ke Ibu Kota, bukan pada seseorang saja (sebab kedua orangtuanya sudah meninggal saat dia kembali pulang), tapi juga pulang kepada ajaran masa kecilnya.
Ajaran yang mengantarkannya untuk kembali menerima panggilan Allah, yang semula telinganya pengang saat toa masjid mengumandangkan Adzan, baginya suara itu memekakan dan mengundang kesedihan masa lalu. Disini, masa lalu, hari ini, dan masa yang akan datang itu berkelindan erat. Yang menjadi tindakan pada hari ini akibat apa yang pernah dirasakan di masa lalu, dan menjadi tujuannya di masa depan.
Membaca langsung novelnya akan membawa kamu mengerti apa maksudnya. Aku tidak pandai menceritakan ulang dengan membubuhkan dialog mana yang cukup tersirat, lupa begitu saja :-D
Ini sebagai pengingat, dimana ketika aku sibuk sembilan jam perhari bahkan lebih, ribuan sunrise dilalui dengan peluh, aku harus ingat pulang. Bisa saja yang aku lakukan dalam kegiatan yang memakan waktu, tidak ada elemen yang memautkan hati aku kepada-Nya.
Aku coba rangkum dalam beberapa hal pesan yang telah sampai padaku setalah aku selesai membacanya, pesan yang dirasakan tentu berbeda bagi setiap orang karena masing-masing punya kacamata yang berbeda. Selama itu baik, berbeda pesan pun tidak masalah. Dan ini pesan versi aku pribadi:
Selama apapun kita berkelana, tetaplah harus pulang. Bukan hanya pada tempat, seseorang, tapi juga ilmu baik yang pernah diajarkan, kembali menggenggam prinsip, sebab ini dasar dan pegangan utama untuk berjalan di bumi Allah
Serumit apapun masa lalu, bukan tidak ada hak untuk memiliki jalan yang lurus di masa depan. Walau waktu saling berkelindan, bukan berarti nasib akan tetap sama. Perubahan ke arah lebih baik itu keniscayaan.
Kebencian akan menjadi penyakit hati yang bersarang di relung dada manusia. Memeliharanya akan menggelisahkan dan mungkin saja berpilin menjadi tindakan kriminal. Ini tidak menyelesaikan masalah. Memaafkan adalah jalan terbaik. Semoga kita bisa menjadi manusia yang mudah memaafkan.
Penyesalan akan disadari diujung. Walau tidak terlalu dekat, tidak saling terpaut hati, ketika seseorang sudah tiada, rasa rindu itu terasa, bahkan bisa memuncak setiap harinya. Aku harus belajar bagaimana menicntai seseorang, bukan dimaksudkan untuk lawan jenis, tapi orang-orang dekat yang hadir dikehidupan kita.
Ketakutan dan keberanian bisa terjadi dalam satu waktu, ini pilihan. Apakah kita akan menggunungkan rasa takut dan menghilangkan kesempatan. Atau memupuk keberanian untuk menghadirkan kemenangan.
Apapun pesan yang tersirat semoga baik. Mengantarkan kita pada jalan “pulang”. Membahas tentang pulang, ngeri juga, kita memang sebenarnya di dunia ini sedang melakukan perjalanan untuk pulang. Merajut bagaimana cara dan dalam keadaan apa kita pulang nanti.
Semoga kelak jika kita pulang yang sesungguhnya, pulang ke Allah. Allah fasilitasi dengan kendaraan terbaik untuk diam dirumah masa depan, yaitu Surga yang Allah jamin keindahan dan tidak ada rumitnya keadaan yang pernah terjadi di dunia ini.
Selamat menemukan makna “pulang”. Pulanglah dengan tujuan, bukan hanya karena sempat.