Ramadhan di Swedia: Merindu Ramadhan di Tanah Air
Hari ke-11. Ramadhan seakan berlalu begitu cepat. Sudah sepertiga waktu dilalui, dengan kondisi fisik yang bisa dibilang drop. Rasa-rasanya tubuh masih belum berdamai dengan jam tidur yang tidak teratur. Belum lagi deadline tugas yang seakan menghantui, debat, grupwork, dan diskusi berat hampir menjadi makanan sehari-hari.
Rasa-rasanya sekarang bisa tilawah setengah sampai satu juz sehari saja sudah bagus. Menargetkan banyak seperti biasanya, namun juga harus mencoba membagi prioritas dan fokus lebih pada tugas kuliah dan juga persiapan akhir bulan ini. Ekspektasi awal adalah dengan singkatnya malam, tentu saja tidak akan tidur dan bisa memaksimalkan ibadah, namun nyatanya harus tetap membuka laptop untuk menyelesaikan segala deadline.
Terlebih lagi soal atmosfer layaknya di tanah air yang rasa-rasanya hanya bisa ditemukan di islamic center yang di batasi oleh tembok-temboknya, dan diluar itu seakan tidak ada atmosfer yang dirasakan. Tidak ada speaker masjid yang bertalu-talu, jalan raya yang dipenuhi takjil, majelis ilmu yang menyebar di setiap waktu, atau acara televisi khas ramadhan lainnya (nyatanya juga tidak pernah sempat melihat Televisi).
Walaupun begitu, saya bersyukur bahwa teman-teman saya begitu menghargai, dan memberi space saya untuk berpuasa. Memberi waktu tidur sebentar di tengah-tengah grupwork, bahkan terkadang mempersilahkan pulang dahulu ketika diskusi jika memang sudah tidak kuat. Namun saya tetaplah saya. Tidak mau terlihat lemah, masih ingin membuktikan bahwa puasa panjang bukanlah sebuah halangan untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi.
Barangkali memang harus meniatkan segala perjalanan menuntut ilmu, segala lelah dalam mengerjakan tugas sebagai ibadah terbaik untuk para perantau ilmu. Mungkin benar bahwa jika ada yang berkata bahwa ibadah itu luas macamnya, tidak hanya sebatas menyelesaikan tilawah, shalat, dan sedekah, tapi ikhtiar dalam menuntut ilmu setinggi-tingginya demi menggapai rinduNya. Barangkali ini adalah jalan terbaik untuk saat ini.
Setidaknya jika memang masih hidup dan diberikan kesempatan olehNya, masih ada ramadhan lagi di tahun depan yang harus dijalani. Sudah tentu barangkali akan jauh lebih berat sebab bersamaan dengan waktu thesis, akan lebih menantang sebab mengerjakan suatu hal yang sangat menentukan kelulusan, serta akan jauh lebih menguras tenaga sebab akan menjadi penentu langkah ini terkait fokus bidang yang akan diambil saat PhD nanti.
Semoga masih diberikan usia untuk kembali merasakan ramadhan di tanah air kelak. Semoga dikuatkan untuk para perantau ilmu di belahan dunia terkhusus yang merasakan panjangnya puasa.
LTH Studiecentrum, 17.28 - masih 3 jam menuju buka puasa.

















