Cermin: Belajar Pada Bunga-Bunga
Kita begitu gembira saat menabur bunga-bunga pada gundukan tanah cokelat yang masih basah. Sisa hujan semalam sepertinya masih menggembirakan bagi pohon kamboja di ujung tanah. Sukacita kita menebarnya. Berharap bahwa ini pun sudah cukup sebagai wakilnya. Cukup kematian menimpa yang didalamnya dan sebagai balasannya kita akan hidup selamanya. Karena itulah kita meratakan bunga hingga ke sisi-sisinya. Kita inginkan harumnya dapat menentramkan hati penghuninya. Lalu siraman air mawar akan melengkapi semerbaknya. Menenangkan gundah gulananya. Hingga yang mati menemui tuhannya dalam wangi yang sempurna. Memintakan untuk kita agar dipanjangkan penghidupannya, diluaskan rezekinya, berkah seluruh hajat-hajatnya. Tapi, bukankah wewangian itu lebih berhak untuk yang hidup? Kenapa kita begitu peduli pada diri yang mati sementara yang tegap ini kita sering tak peduli? Untuk menemui tuhan, yang mati ternyata lebih perhatian. Di mandikan, sisirkan, diberi wewangian, diberi pakaian yang teramat sopan. Berbanding terbalik, kita yang hidup seringkali urakan dihadapan tuhan. Bersuci seringkali berantakan, apalagi wangi nan menawan. Untung tuhan mewajibkan rahman dan rahim pada diriNya. Apa jadinya jika yang kita hadapi adalah raja-raja? Ah, yang mati ternyata lebih paham bagaimana cara memperlakukan tuhan. Kemudian kita gemakan doa-doa hingga memenuhi pekarangan makam. Dan aku jadi khawatir pada suara 'aamiin' yang berlebihan. *Refleksi Januari 2015 | Ciledug










