Manusia sering merasa kurang di tengah kecukupan — mungkin karena ia lebih sibuk mencari kepemilikan daripada kedamaian.
seen from South Korea

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Poland
seen from China

seen from Japan
seen from United States

seen from France
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from France
seen from United States
seen from China
seen from Brazil
Manusia sering merasa kurang di tengah kecukupan — mungkin karena ia lebih sibuk mencari kepemilikan daripada kedamaian.
Batinmu lega saat kata terucap, seperti sungai akhirnya menemukan muara.
Namun tenang tak kau temukan— sebab sebagian telinga bukanlah telaga, melainkan cermin yang memantulkan luka.
Mata Cermin
Dengan mata, kita tidak dapat melihat diri kita sendiri, kita melihat diri kita melalui cermin. Sedang cermin, hanya menampilkan apa yang kita inginkan. Apa yang kita lihat sebenarnya adalah ilusi dari apa yang tersembunyi dibalik kulit, bersembunyi di antara tulang-tulang, mengalir bersama darah.
Hanya ilusi. Cermin juga seperti orang-orang, ia melihat apa yang dia inginkan dari kita, dan kita menampakkan diri sendiri sesuai dengan apa yang mereka mau.
Diri kita yang terlihat hanyalah kepalsuan. Orang-orang pun diri kita tertipu sebab kita terbiasa melihat hanya sampai ke kulit. Kebahagiaan menyembunyikan derita, kejujuran menyembunyikan kemunafikan dan cinta menyembunyikan benci begitupun sebaliknya.
.
.
@nidzomizzuddien
Jatuh. Ya memang sejatinya kita harus merasakannya. Tahu kenapa gak sih? Ya soalnya biar kamu tahu caranya buat berdiri.
Buang keraguan dan kegamanganmu, selama hal itu baik dan kamu tahu dasarnya. Lakukan semua itu dengan berani. Yakini apa yang hati dan pikiranmu percaya dengan menggali kebenarannya.
Konsep hidup ini macam cermin kereta. Kecil untuk lihat belakang itu, sekadar panduan. Sesekali jenguk apabila ada keperluan. Cermin yang depan kita itu pula, besar. Untuk jelas berjalan menuju ke depan.
- @arnamee
#UdahdiRumahAja bukan berarti menghabiskan banyak waktu untuk meratapi. Bukan juga untuk berjam-jam melihat film, drama, dan sejenisnya.
Harusnya, dengan diam di rumah mampu membuat kita bermuhasabah dengan sebenar-benar muhasabah.
Sudahkah kita menjadi hamba yang kian bertakwa?
Sudahkah kita menjadi anak yang shalih/ah?
Sudahkah kita menjadi suami/istri yang saling melengkapi?
Sudahkah kita memperbanyak amal shalih?
Sudahkah kita semakin mendekat padaNya?
Sudahkah kita mempersiapkan bekal akhirat kita?
Dan berbagai pertanyaan yang sejatinya akan mengingatkan kita. Saat tak ada wabah ini, diri kita begitu gencar mencari dunia. Seolah akhirat tak tampak nyata. Namun hari ini, dengan adanya wabah, tidakkah akhirat itu semakin nyata?
Lantas, masihkah pantas kita bersikap jumawa?
Bukankah hari ini juga membuktikan kita lemah tak berdaya? Tidakkah kita tersadar bahwa kita sebagai hamba yang harusnya bersandar dan menyerahkan diri sepenuhnya padaNya?
Semoga, dengan ini mampu menaikkan iman dalam dada kita. Dan membuat kita semakin sadar dengan kesadaran nyata bahwa tanpa Allah kita tak ada apa-apanya.
Akhir Perjuangan
Galeneio
Aku berkutat di depan laptop, kembali membaca tulisan yang aku buat. Sungguh ini sangat melelahkan. Memikirkan tiap kata yang disambung lalu dijadikan satu. Aku sungguh ingin menyerah rasanya. “Ini mau gimana lagi? Pusing lama-kelamaan!” Aku memijat kepalaku yang berdenyut pelan. Kembali aku menyusun kata itu, agar menjadi kiasan kata yang bagus dan menyayat hati. Ya, aku sekarang sedang menyelesaikan puisi untuk event lomba. Hanya saja, sekarang aku hanya mampu menyelesaikan dua dari lima puisi.
Aku menjauhkan tanganku dari keyboard laptop, mengusap wajahku kasar. Tanganku menopang dagu, sedangkan aku mencebik kesal. Sungguh aku frustrasi karena puisi ini. Kepala kujatuhkan ke atas keyboard, bingung mau melakukan apalagi. Berpikir sejenak, tetapi otakku beku seperti es batu. Tidak bisa memikirkan apa pun.
Netraku menangkap pena yang ada di seberang sana. Pena yang biasa kupakai untuk menggambar. Pena itu, seketika aku teringat akan sesuatu. Kenapa aku tidak membuat puisi mengenai perjuanganku dalam menggambar? Begitu tanyaku dalam hati.
Aku mengambil pena dan buku berisi lembar dotted. Aku mulai mencoret-coret buku tersebut, lalu merangkaikan kembali kata-kata yang hendak kupakai. Otakku serasa mencair, seperti air yang tiba-tiba saja lancar menulis kalimat itu. Aku kembali menyusun kata-perkata, hingga aku tersadarkan bahwa—“Wah, ini dapat satu puisi!” Aku bersorak senang. Sudah kudapatkan tiga puisi walaupun masih kurang dua lagi. Aku harus kembali lagi berkutat dengan pena dan buku itu.
“Berat juga ya, nulis puisi sebanyak ini.” Mulutku kembali meracau tak jelas. Sementara tanganku kembali menulis kata yang muncul dalam otakku. “Aduh, kalau begini mah. Mending aku mundur sejak awal!” Aku membanting pelan pena itu. Kembali perasaaan kesal meliputi hatiku.
Pikiranku kembali berkecamuk lagi. Ada perasaan kesal, menyesal, marah, sedih, dan bahagia yang bercampur jadi satu. Sisi hatiku berkata, berhenti saja. Akan tetapi, sisi lain berkata untuk melanjutkan. Tanganku terus bergerak menuliskan kata-kata itu. Lalu tiba di puisi terakhir, aku tiba-tiba blank. Karena ini puisi terakhir dan juga hari terakhir pengumpulan. “Satu lagi! Gimana kalau aku gak selesai?” rengekku kembali terdengar.
Aku menengadah ke atas, teringat akan pengalamanku saat menjadi guru. Lalu, bak menemukan oasis di padang pasir. Aku langsung menulis puisi mengenai guru. Akhirnya, lengkap sudah puisi yang harus aku kirimkan. Secepatnya aku langsung membuka google drive dan mengirim fail tersebut.
End
Gelap Malam
Akhirnya semua akan tiba pada sebuah tanda koma.
Seperti sebuah pilihan ke kiri atau ke kanan.
Semakin dipikir semakin kacau.
Apakah hari ini sudah selesai kawan?
Ataukah ada yang sedang diperjuangkan?
Katakanlah!
Besok atau lusa semuanya bias.
Tanpa suara kau nampak tersenyum?
Benar, bukan?
Atau mungkin,
aku yang mengigau akibat tatapanmu?
Dengan cermin di depanku
Aku bisa melihatmu kawan.
Kantung mata yang hitam itu, selalu indah dilihat.
Sayangnya, aku hanya bisa melihatmu.
Kemudian harus kehilangan jiwa.mu
24-11-19