Yesssss.

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Albania
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Spain
seen from Germany

seen from Canada
seen from Yemen
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Spain
seen from Ukraine
Yesssss.
do not edit ✧ 별사탕
Stevia, si Hijau Manis
Tanaman Stevia rebaudiana atau dikenal dengan ‘sugarleaf’ yang termasuk dalam famili Asteraceae ini berasal dari Paraguay. Genus Stevia mempunyai lebih dari 200 spesies, salah satu yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah spesies Stevia rebaudiana. Tanaman stevia termasuk tanaman tahunan berbentuk perdu dengan batang yang mudah patah dan akarnya menyebar serta mempunyai daun kecil berbentuk elips. Perakaran stevia berbentuk rhizoma yang bisa digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetatif. Daun tanaman stevia mengandung zat yang disebut steviosid dan rebaudiosid A, dimana tingkat kemanisannya sampai 300 kali dari sukrosa (gula tebu).
Menurut informasi, stevia dapat tumbuh dengan baik pada tanah podsol, latosol, dan andosol. Media tumbuh tanaman ini membutuhkan pH yang sedikit asam, bisa juga tumbuh pada lahan-lahan marginal atau tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah. Namun berdasarkan pengalaman, stevia tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah salin. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah 20˚C-24˚C. Stevia sangat membutuhkan ketersediaan air, karena batang dan daunnya mudah layu, sehingga ketersediaan air yang cukup menjadi faktor pembatas untuk tumbuh dan berproduksi tinggi. Pengembangan tanaman stevia dapat dilakukan di wilayah dengan ketinggian antara 700 mdpl sampai 1500 mdpl dan mempunyai curah hujan rata-rata minimal 1400 mm/tahun dengan 2-3 bulan kering.
Saat ini beberapa petani di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar membudidayakannya secara komersial, dan telah bekerjasama untuk menyuplai stevia kering ke salah satu industri jamu terbesar yang ada di wilayah Jawa Tengah. Stevia dapat dibudidayakan selama 8 tahun (maksimal) dengan frekuensi panen 6 kali dalam setahun. Selain sebagai pemanis alami untuk makanan atau minuman, ekstrak daun stevia juga bermanfaat untuk kesehatan karena kadar kalorinya rendah, sebagai anti oksidan, anti jamur, dan tentunya non-karsinogenik.
Perbanyakan tanaman stevia dapat dilakukan dari biji, stek batang, anakan dari rhizoma, dan melalui kultur jaringan. Berdasarkan pengalaman kami di lapang, perbanyakan melalui biji keberhasilannya masih rendah dan hasil perbanyakannya tidak seragam. Perbanyakan melalui stek batang lebih mudah, praktis, dan cepat, tentunya dengan tingkat keseragaman yang tinggi. Bibit dari bahan stek batang harus disungkup dan ditempatkan pada kondisi yang sangat lembab untuk mempercepat pertumbuhan akar. Pertumbuhan akar dan daun di pembibitan membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu kemudian bisa dipindah-tanam di lahan. Selama menunggu proses pembibitan bisa melakukan persiapan lahan dahulu, tanah perlu digemburkan dan diberikan pupuk kandang. Setelah bibit dan lahan siap, tahap selanjutnya adalah penanaman bibit dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 30 cm. Panen daun stevia dilakukan pada saat tanaman berumur 40-60 hari dengan interval waktu antara 30-60 hari sekali. Cara panennya adalah dengan memotong batang atau tangkai sekitar 15 cm dari permukaan tanah. Setelah dipangkas kemudian daun-daun yang melekat segera dipetik dan dilakukan pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan secara alami dengan cara dijemur di bawah sinar matahari langsung atau bisa menggunakan oven. Penggunaan oven perlu diperhatikan pengaturan suhunya karena akan mempengaruhi kandungan stevisiodanya.
Pertumbuhan dan produksi stevia sangat dipengaruhi oleh pemangkasan bunga, pemupukan, dan populasi tanaman. Menurut beberapa sumber yang saya baca, pemangkasan bunga dapat meningkatkan produksi daun kering sekitar 17% dibandingkan dengan tanpa dilakukan pemangkasan bunga. Penyemprotan pupuk cair KNO3 dengan konsentrasi 5 g/l juga dilaporkan dapat meningkatkan produksi sekitar 20% dibandingkan yang hanya disemprot air. Hasil penelitian Indrawanto, et al pada tahun 2010 menyatakan bahwa populasi atau kerapatan tanaman stevia optimalnya antara 8-10 tanaman/m2 dapat dihasilkan sebanyak 0,30 kg daun kering/m2 dan 30,9 g stevisioda/m2. Dari informasi tersebut dapat dihitung dalam satu hektar dapat dihasilkan sebanyak 1000-2000 kg daun kering yang mengandung 60-70 kg stevisioda.
Ulasan di atas saya rangkum dari beberapa literatur dan berdasarkan pengalaman mendampingi petani stevia. Apabila teman-teman ada yang ingin mengetahui dan mempelajari beberapa literatur yang saya baca, berikut ini sumbernya:
Geuns JMC. 2003. Stevioside. Phytochemistry 64:913-921.
Gupta ES, S Purwar, S Sundaram, and GK Rai. 2013. Nutritional and therapeutic values of Stevia rebaudiana: A review, Journal of Medical Plants Research. 7(46): 3343-3353.
Singh S and Rao G. 2005. Stevia: The herbal sugar of 21st Century. Sugar Tech, 71: 17-24.
Indrawanto C, Purwono, Siswanto, Syakir M, Rumini W. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. ESKA Media. 40pp.
Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. 2014. Pengembangan tanaman pemanis Stevia rebaudiana (BERTONI) di Indonesia. Perspektif. 13(1): 25-33.
do not edit ✧ 별사탕
do not edit ✧ 별사탕
do not edit ✧ 별사탕
do not edit ✧ 별사탕
do not edit ✧ 별사탕