Duhai, kamu yang dikaruniai Allah paras indah. Ainun matamu yang cantik melirik. Wajahmu yang rupawan nan menawan. Senyum tulus yang manis, yang auranya menghentikan lamunanku karena pesona. Duhai indah, jangan berlalu dari situ dan tetap terjaga dalam jarak pandangku. Karena aku belum jua bosan menatapmu yang lugu. Belum mau kamu berlalu dan menghilang kala kedipku. Duhai indah, biarkan detik seolah terhenti sejenak waktu. Agar kamu tak cepat-cepat berlalu dari hadapku. Karena kamu lebih bening dari tetesan embun pagi ini. Lebih cerah dari mentari pagi fajar ini. Karena kamu cantik, kamu cantik dan menarik buatku terusik.
Mungkin aku hanya penyair bodoh yang hanya mampu mengagumimu lewat puisi. Atau mungkin aku hanya penulis cupu yang mendeskripsikan sempurnamu lewat lagu. Hanya itu, hanya beberapa bait tulisan ini yang mampu aku buat untuk menuangkan segala pesonamu pagi ini. Benar, kamu sungguh canti, kamu cantik dan menarik buat hatiku terusik.
Ada yang lain di senyummu hari ini. Mungkin ibu peri malam tadi memberikan sinarnya pada wajahmu. Atau mungkin suasana hatimu sedang segan untuk merasa pilu. Atau juga waktu, waktu sedang enggan membuatmu layu. Di sana kulihat pelangi, warna-warni menggetarkan hati. Jika memang indah, maka janganlah kamu akhiri. Jika memang indah, sepertinya layak untuk dibagi. Dan jika memang indah, sepertinya aku ingin menikmatinya sepanjang hari.
Aku tak ingin melihat bintang. Juga tak mau melihat awan. Apalagi merasakan sejuknya hujan. Aku tak ingin menikmati malam. Juga enggan menikmati melodi senja. Saat ini yang ku mau hanya menikmati waktu, waktu dimana kamu berlalu di hadapanku. Beberapa menit saja terhenti memberi senyum yang lugu. Cukup kiranya untuk memberi mimpi dalam tidurku malam ini. Duhai, kamu yang dikaruniai Allah paras ayu, maafkan aku diam-diam mengagumimu.
“bila kamu berlalu lagi nanti siang, semoga Allah memberikan waktu yang lebih lama untukku menikmatui indahmu”