Jangan (Terlalu) Kecewa
Aliran Rasa #1
Setiap episode kehidupan manusia mengalami dua fase yang berulang, sabar dan syukur. Berkali-kali, kadang ada dititik "ahiya, aku udah sabar" atau merasa "aku selalu bersyukur dalam hidup".
Si Aku. Nyatanya, kamu harus belajar lagi. Uji coba dua fase ini akan terus berlanjut hingga masamu hidup di dunia selesai. Jangan, kamu jangan claim dulu. Lebih tepatnya "kita". Iya, bisikku pada diri sendiri.
Ketika setiap tanggung jawab yang diberikan kau ambil dengan segenap raga dan sepenuh jiwa. Matamu kau ajak bertahan. Istirahatmu kau minta dikurang. Jari-jemari kau support mengayun. Aahh, rasanya kau bahagia esoknya. Usaha itu "kau" rasa berhasil. Kau perhatikan detailnya, di mana salah dan kurang untuk perbaikan berikutnya dan kau lakukan "menurutmu".
Hingga suara lain datang. Dan kau belum siap menerima. Katanya, tutup dengan dua tangan. Tapi, datang lagi suara lainnya. Kali ini lebih nyaring dan semakin dekat di sisi yang berbeda. Kau mulai bertanya kan? "Kenapa harus suara dari jauh yang pertama menyapa?". Semisal, suara terdekat yang menyapa "gema"nya tak akan sebanyak ini. Kau, juga akan lebih mudah menerima. Mungkin.
Tak apa! Silahkan kecewa. Jangan terlalu ya^^
"Jika masih ada rasa sakit dan kesal coba cek hatimu, iya hati kita, bukan hati orang lain" benarkah langkah kita karena Dia? Atau masih ada goresan ingin dipandang manusia?
Ada juga yang bilang, "Jika kau memulainya karena Allah. Maka, jangan berhenti hanya karena manusia".
Sekali lagi, tak apa kecewa. Alirkan rasa. Kalau tidur, rasa marahnya jangan dibawa.
Dariku untukmu. Si Aku.














