"Ibu, masih bisa kah anakmu yang juga telah menjadi ibu ini meminjam bahumu sebentar hanya untuk menangis tanpa perlu mengutarakan semuanya?"
Ibu, bagaimana ibu bisa terus kuat?

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Yemen
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
"Ibu, masih bisa kah anakmu yang juga telah menjadi ibu ini meminjam bahumu sebentar hanya untuk menangis tanpa perlu mengutarakan semuanya?"
Ibu, bagaimana ibu bisa terus kuat?
Paket dari Ibu
Aku mendapat pesan dari kurir salah satu ekspedisi. "Kak, paketnya saya taruh di depan rumah ya", katanya. Tidak lupa disertai dengan bukti foto. "Wah, iya benar. Dari siapa ya?", batinku sambil memikirkan bahwa aku sedang tidak ada transaksi pembelian online begitu juga suami. Lalu aku mengirim pesan kepada suamiku tentang paket tersebut barangkali ia mengetahui darimana asalnya. Aku memang tidak langsung mengecek di depan pintu rumah karena sedang makan siang bahkan ingin membiarkan sampai sore saja atau ketika ada keperluan keluar. Tapi karena penasaran, selesai makan aku beranjak ke depan untuk mengambil paket. Dengan keadaan berdiri, aku langsung bisa mengenali darimana asal paket tersebut dari tulisan penerima dan alamat tujuan. Iya, dari ibuku. Itu tulisan tangan ibuku. Masih sangat sama persis ketika dulu aku sekolah di pesantren sering kali dikirim paket.
Sambil membawa paket tersebut ke dalam rumah aku berpikir, "Paket apa ini, kok tumben ibu ngga bilang mau berkirim paket. Apa paket yang mau dikirim ke ipar di Tangerang tapi dikirim dulu ke Jogja ya seperti saranku waktu itu." Tanpa berlama-lama dengan pikiran yang bertanya-tanya, kubuka paket tersebut. Paketnya cukup berat dan kurang lebih sebesar kotak sepatu. Ternyata isinya adalah kaleng makanan yang pernah kami bicarakan sebelumnya dan pisang. Sayangnya, pisang tersebut sampai di Jogja sudah sangat busuk. Sebenarnya aku juga tidak habis pikir mengapa ibu mengirim pisang ke Jogja. Tapi namanya seorang ibu barangkali ia memang hanya ingin mengirim putrinya makanan dan tentunya ibu pasti sudah mempertimbangkan. Aku langsung mengabarkan kepada suami bahwa ternyata paket tersebut dari ibu.
Aku langsung video call dengan ibu. Langsung berbalas tidak seperti biasanya. Cepat diangkat, alhamdulillah. Usai salam tanpa bertele-tele kusampaikan dan kutanyakan juga berterima kasih.
"Lho, Bu kok tumben kirim paket. Makanan ini kan bisa kapan-kapan dikasihkan ngga harus sekarang."
"Kapan-kapan itu kapan? Ibu belum bisa ke sana. Paketnya baru sampe?"
"Iya baru siang ini sampai. Di wa kurir sempat heran ini paket darimana ya. Ya, kalau misalkan aku pulang kan bisa. Ini juga kenapa kirim pisang? Pisangnya busuk sampai di sini", kataku tapi bukan dengan penyesalan. Aku tetap memahami barangkali ibu memang ingin memberikannya padaku. Kusambung, "Ibu kirim pisangnya dalam keadaan mentah?"
"Iya, mentah banget."
"Mmm, sampai sini tapi benar-benar busuk. Sudah ngga ada lagi yang bisa dimakan jadi kubuang semua", aku menyampaikan ini sebenarnya sebagai pemberitahuan dan peringatan kepada ibu untuk tidak sembarang mengirim buah apalagi termasuk jenis makanan yang cepat busuk. Kusambung juga, "Makasih ya Bu, jajanku yang kemarin ibu titipkan juga sudah habis." Jadi, sepekan lalu karena ada saudara yang tinggal di Jogja dan sedang pulang ke Kudus, ibu menitipkan makanan padanya ketika ia akan kembali ke Jogja. Hanya saja ibu tidak bisa menitipkan banyak karena bawaannya sendiri sudah banyak dan ia menaiki kendaraan umum yaitu bis.
Beberapa pekan silam ibu memang menyampaikan bahwa ibu menyimpan 2 kaleng sisa lebaran untuk diberikan padaku. Mendengarnya saja sudah merasa bahwa ternyata sampai kapanpun ibu akan selalu ingat dengan anaknya. Ibu akan selalu menganggap anaknya adalah anak yang masih kecil. Ibu akan selalu merindukan anaknya.
Bu, maaf ya anakmu belum bisa pulang. Tapi akan tetap berusaha untuk berkabar dan menelponmu. Meskipun ibu belum bisa melihat lagi cucunya secara langsung, akan ku video call agar ibu tetap bisa melihat dan merasakan perkembangan cucumu. Ya Allah ampunilah kedua orang tua kami, berkahilah usianya, sehatkanlah mereka, dan jagalah mereka kapanpun dan dimanapun.
Sebuah Temu
Aliran Rasa #2
Perjalanan hidup mengharuskan manusia berinteraksi dengan manusia lainnya. Entah itu temu yang direncana juga dinanti. Ditunggu dan dirindu. Bisa pula, tak sengaja untuk sebuah temu.
Satu hal yang pasti, "Tak ada yang namanya kebetulan dalam hidup". Allah al-Aliim Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Tentang sebuah temu, akan ada hari di mana bersamanya kau akan bahagia, sangat. Senyummu tak pura-pura ditampakkan, mengalir tulus dalam ramai pembicaraan. Nasehat yang tak menghakimi, rengkuh ilmu meniti kehidupan.
Tentang sebuah temu, ada pula yang membuatmu sesak. Rasanya oksigen menipis, suhu di sekitar memanas, tak tenang, resah. Kecewa pada keadaan yang tak siap ditemui. Suara jujur yang menyentil hati. Lengkingan nasehat yang tak mau ditemui. "Astaghfirullah hal 'adhzim" berulang kali dilafalkan, elusan lembut yang coba disampaikan pada gemuruh yang bertalu.
Ya Robb, bimbing aku untuk setiap temu. Ada yang menghantarkan kalimat hamdalah riuh, syukur bersambut. Adapula air mata yang mengiring jumpa serta istighfar yang coba dibawa.
Allah Kariim, berikan petunjuk Mu yang jelas dan bisa kupahami. Untuk temu yang meminta keputusan. Jangan biarkan salah menafsirkan dan memberi harap sebuah temu dikemudian. Jaga dari rasa yang salah. Jangan biarkan jatuh, terbentur hingga pecah dalam hal yang membuatMu marah.
Yaa Rahman Yaa Rahim, ajari dan bimbing diri untuk menjaga. Lisan yang nasehat diberi bukan caci. Pandangan yang tunduk bukan meluas tak tau batas. Pendengaran yang baik lagi manfaat serta menerima nasehat. Gerak jemari pada hal yang membawa kebaikan. Langkah kaki yang menggiring pada ridho dan membawa keberkahan. Bijaksana dalam temu yang Engkau ridho.
Bersabarlah dengan "sabar yang jamil". Terimalah dengan lapang. Jalani dengan tenang. Terima setiap ketetapan.
Allah guide me all the way^^
Jangan (Terlalu) Kecewa
Aliran Rasa #1
Setiap episode kehidupan manusia mengalami dua fase yang berulang, sabar dan syukur. Berkali-kali, kadang ada dititik "ahiya, aku udah sabar" atau merasa "aku selalu bersyukur dalam hidup".
Si Aku. Nyatanya, kamu harus belajar lagi. Uji coba dua fase ini akan terus berlanjut hingga masamu hidup di dunia selesai. Jangan, kamu jangan claim dulu. Lebih tepatnya "kita". Iya, bisikku pada diri sendiri.
Ketika setiap tanggung jawab yang diberikan kau ambil dengan segenap raga dan sepenuh jiwa. Matamu kau ajak bertahan. Istirahatmu kau minta dikurang. Jari-jemari kau support mengayun. Aahh, rasanya kau bahagia esoknya. Usaha itu "kau" rasa berhasil. Kau perhatikan detailnya, di mana salah dan kurang untuk perbaikan berikutnya dan kau lakukan "menurutmu".
Hingga suara lain datang. Dan kau belum siap menerima. Katanya, tutup dengan dua tangan. Tapi, datang lagi suara lainnya. Kali ini lebih nyaring dan semakin dekat di sisi yang berbeda. Kau mulai bertanya kan? "Kenapa harus suara dari jauh yang pertama menyapa?". Semisal, suara terdekat yang menyapa "gema"nya tak akan sebanyak ini. Kau, juga akan lebih mudah menerima. Mungkin.
Tak apa! Silahkan kecewa. Jangan terlalu ya^^
"Jika masih ada rasa sakit dan kesal coba cek hatimu, iya hati kita, bukan hati orang lain" benarkah langkah kita karena Dia? Atau masih ada goresan ingin dipandang manusia?
Ada juga yang bilang, "Jika kau memulainya karena Allah. Maka, jangan berhenti hanya karena manusia".
Sekali lagi, tak apa kecewa. Alirkan rasa. Kalau tidur, rasa marahnya jangan dibawa.
Dariku untukmu. Si Aku.
Pendakian 1 Dakaru Sleman
Ahad, 24 September 2023 di Galeri Hijau.
Di sini, kami bertemu dengan keluarga lain yang usia pernikahannya jauh lebih berumur karena perjalanan rumah tangga kami masih terbilang sangat muda. Bertukar kisah perjalanan yang membuat kami membuka pandangan lebih luas dan nyata. Bermain bersama dengan masing² anggota keluarga dan karena Hamka masih bayi, ya kami bermain berdua haha.
Perjalanan setiap keluarga pastilah memiliki tantangan masing² yang sepaket juga dengan pertolongan dan kemudahan yang Allah beri. Dengan bertukar cerita ini kami hanya tahu sekilas apa yang terjadi, kami tidak tahu bagaimana proses yang dilalui. Tidak untuk dibandingkan, tapi refleksi untuk disyukuri dan jadi motivasi.
Bertumbuh bersama sampai surga. Bagaimanapun dinamikanya, tetap bersama hingga akhir hayat, ya!
Diliputi sakinah mawaddah wa rahmah, semua.
Semoga Allah berkahi keluarga kecil, kita. Aamiin
.
.
.
Malam Minggu Bertabur Bahagia
Sabtu, 23 September 2023. Sebelum lepas dari matrikulasi kami mengadakan selebrasi sebagai apresiasi diri selama ini.
Sebelum dimulainya acara dan karena di rumah sedang kedatangan keluarga, iparku bertanya,
"Itu acara apa si?"
"Ibu profesional."
"Itu apa si, kumpulan ibu-ibu gabut ya?"
Hey, jangan salah. Aku bertemu perempuan luar biasa di sini tanpa harus merasa aku tak mampu apa-apa karena semua terbaik versi dirinya.
Aku bahagia sekali bisa menjadi bagian dari terselenggaranya selebrasi ini. Lagi² aku melibatkan diri menjadi tim editing video. Dengan waktu persiapan yang tidak lama hanya 3 hari kami memaksa diri mengeluarkan ide, waktu, dan tenaga sebaik mungkin. Bagiku ini bukan semata-mata demi kerennya selebrasi ini namun ada keinginan untuk terus belajar dan mengasah potensi diri. Aku percaya dengan niat kuat dan hati bahagia akan mampu memunculkan kebahagiaan yang lain. Ya, aku banyak belajar hal baru dibalik keriwehan sebagai ibu yang sedang membersamai tumbuh kembang bayi 5,5 bulan ini.
Acara berlalu, rasa bahagiaku bertambah. MaasyaAllah dan Alhamdulillah bisa sampai di tahap akhir matrikulasi dan melibatkan diri di selebrasi. Disini aku bertemu perempuan-perempuan luar biasa dengan latar belakang yang beragam. Bahkan setiap penampilannya (tidak hanya di kapal 5) aku jadi mampu melihat mutiara dalam diri yang memancarkan kilaunya. Semua terbaik versi masing-masing diri.
Selamat berproses dan bertumbuh dengan bahagia, ya!
19 September 2023
Sebagai kenangan untuk diriku di 19 September yg (anggaplah) ke-seperempat abad. Sudah sejauh ini Allah beri aku kesempatan menghamba. Alhamdulillah. Bertepatan dengan live FBG matrikulasi batch 11 bertajuk "Baruna Menyapa" tentang selebrasi kapal dan juga setelah menyelesaikan video selebrasi untuk IP Yogyakarta.
Insight yg kudapatkan dari peran yg kuambil yaitu editing video menggunakan canva adalah :
Ternyata untuk mengambil peran baru (di luar yg biasanya) tidak selalu harus ahli di dalamnya. Cukup punya niat, tekad untuk belajar, dan dukungan untuk berproses maka kamu akan menemukan hal baru yg bisa jadi bekal ke depannya.
Ternyata peran yg aku ambil selain untuk kepentingan bersama juga mampu membantuku merefresh dari rutinitas yg kadang membuat jenuh, bosan, dan lelah. Healing kali ini terasa lebih bermanfaat dan tidak sia-sia, haha.
Selamat berproses dan bertumbuh dengan bahagia!
.
.
.
[Selasa, 19 September 2023]
Cari Strong Whymu!
Memutuskan bergabung di sebuah komunitas yang menjadi wadah belajar dan meningkatkan kualitas diri perempuan sempat membuat dilema. Banyak alasan yang menguatkan tetapi juga berbanding lurus dengan kekhawatiran jika tidak komitmen dan konsisten. Namun, setelah menuliskan kekhawatiran dan alasan pendukung ternyata sisi positifnya jauh lebih banyak. Salah satu yang penting adalah adanya dukungan dari suami dan beberapa teman yang mendapatkan dampak dari komunitas tersebut. Selain itu, kemauan dan kesempatan tidak datang dua kali.
Tahapan selanjutnya setelah lolos verifikasi adalah welcoming party. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah sambutan dari founder komunitas; Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto, suaminya.
Ingin berbagi sedikit kata-kata Bu Septi yang mampu menampar diri sendiri untuk aku yang saat itu sedang mengandung anak pertama dan alhamdulillah terhitung hingga hari ini telah berusia 1 bulan 22 hari.
"Anak yang suka belajar perlu lahir dari ibu pembelajar."
"Ibu yang tidak percaya diri akan mendidik anak yang tidak percaya diri. Ibu yang tidak bahagia akan mendidik anak yang tidak bahagia. SAYA HARUS BERUBAH!"
"Semua ibu itu bekerja, hanya saja ranahnya berbeda. Publik dan domestik."
"Perempuan di ranah publik mungkin wajar bisa upgrade diri. Tetapi perempuan di ranah domestik juga perlu upgrade diri. Semata-mata untuk kebahagiaan kita bukan kebahagiaan anak."
Jangan berhenti belajar ya, bu!
Bismillah, mudah-mudahan semangat belajar tersemat hingga akhir hayat.
Push Your Limit!
.
.
.
[Sabtu, 27 Mei 2023]