Mereka malaikat
Hari ini, aku memulai hari masih dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Masih kelas jam 8, masih harus rapat setelahnya.
Di kampus berbagai aktivitas kulalui dengan menahan sakit agar kondisi tetap tampak prima.
Aku bersyukur ketika aku mengetahui bahwa Mama akan datang menjenguk. Mama mengatakan bahwa beliau tidak tega membiarkanku sakit sendirian.
Mama datang ketika aku baru sampai di kamar kosanku. Mama datang dengan beribu ramuan obat ditangannya. (anggep lagi baca cerita ninja). Aku bersyukur, laiknya malaikat Mama datang menolongku membersihkan debu-debu di tepian meja belajarku (read: kotoran dan sampah disekeliling kamar).
Malam tiba, aku ingat ada tugas kuliah yang belum kuselesaikan. Dalam hati aku berteriak, "Oh Tuhan! Bantu aku!". Kepala sakit, badan meriang, tugas menjerit minta dirampungkan. (it's a rhyme!) Aku berdoa kepada Tuhan, semoga datang malaikat lainnya.
Tanpa dinyana, seorang kakak angkatan mengirim pesan untukku. 'Review yang mana? Mari kubantu.' Astaga! kedua kali malaikat menghampiriku. Bagaikan ketiban emas monas rasanya aku dimalam ini.
Setelah bantuan datang mulailah aku mengerjakan tugas tersebut. Di tengah pengerjaan, aku kembali merasa kesulitan. Aku kembali berdoa, semoga ada malaikat yang lebih pintar (peace Risk, bukan berarti lo ga pinter, ini biar cerita seru aja) yang datang membantuku. Tring! Pesan lain datang.
Ternyata pesan ini datang dari seorang sahabatku, bunyinya "kukirimkan bantuan untukmu, semoga kau terbantu." Lagi-lagi tanpa dinyana, malaikat ketiga datang! Tanpa diminta sahabatku ini mengirimkan sebuah bantuan sederhana yang mampu menyelesaikan kesulitanku. Sungguh aku sekarang meresa seperti ketiban monas, semonas-monasnya!
Terima kasih malaikat-malaikatku di hari ini :)
P.S Tuhan, terima kasih atas tiga malaikat yang Kau kirimkan hari ini. Di kemudian hari, tolong kirimkan lima sampai tujuh malaikat untukku :)











