Kemarin, aku memulai hari dengan kepala pusing, tenggorokan terbakar, dan perut lapar. Kelas jam 8 pagi mau ga mau harus kujalani karena mata kuliah Bahasa Jerman yang sangat terlarang untuk dilewatkan (karena efeknya yg domino). Selesai kelas aku pun harus menghadiri rapat perdana PPKMB (ospek lah bisa dibilang) yang di mana aku menjadi salah satu petinggi (tampar aja aing).
Segala sakit harus ditahan agar performa tetap prima.
Selesai semua kegiatan aku pulang masih dengan kepala pusing, tenggorokan terbakar, dan perut lapar. Mampirlah aku di sebuah convenient store untuk membeli obat, namun ternyata di kasir lembaran 50ribu-ku ditolak oleh si Mbak Kasir. Dia berkata, "aduh ga ada kembalian teh, ya udah kalau perlu bawa dulu aja obatnya."
Semudah itukah dia mempercayaiku?
Kutolak saja anjuran Mbak Kasir tersebut, aku katakan bahwa aku akan mencari pecahan yang lebih kecil.
Kuhampiri sebuah kedai ayam goreng, aku memang berencana membeli makanan di sana. Setelah menerima pesananku, kuberikan lembaran uang yang tadi. Kemudian hal serupa terulang, "aduh Mbak ga ada kembalian. Bawa aja ayamnya, bayarnya nanti aja." Dua kali.
Pada akhirnya, dengan perjuangan, aku tetap langsung membayar semua pembelianku tanpa berhutang. Tetapi intinya adalah: KENAPA MEREKA PERCAYA PISAN SAMA AING?
Sepanjang jalan aku bertanya-tanya...