Sama-sama bekas kerajaan Mataram, masyarakat di Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat memiliki tradisi yang berbeda dibanding Keraton Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Jika Kasunanan dan Mangkunegaran, peringatan pergantian tahun Jawa ini diperingati dengan tapa bisu yang dibarengi dengan diarak dan dikeluarkannya tujuh Kerbau Kyai Selamat (Kasunanan Surakarta) dan kirab pusaka (Mangkunegaran), maka hal ini tidak berlaku di Kasultanan Yogyakarta. Masyarakat di Kasultanan Yogyakarta memilih melakukan ritual mubeng beteng dengan tidak mengeluarkan suara (tapa bisu). Adapun penyelenggaraan tapa bisu dilakukan oleh abdi dalem. Sementara untuk perhitungan pergantian tahun, Kasultanan dan Kasunanan kompak menggunakan perhitungan Jawa. Di mana perhitungannya menggunakan penggabungan antara perhitungan Hijriah dan Saka yang diinisiasi oleh Sultan Agung dan kemudian dikenal dengan perhitungan Aboge. 1 Suro kali ini adalah penanda memasuki tahun Dal 1551 Jawa. Tahun yang selalu muncul dalam 8 tahun (sewindu). Dal dalam kepercayaan yang salah kaprah selalu dianalogikan banyak tantangan dan larangan. Sebagian percaya bahwa pada tahun Dal, kebaikan melakukan kegiatan terletak pada bulan Jumadilakhir, Rajab, Pasa dan Syawal. #javanese #traditional #javaneseculture #culture #suro #javacalender #iphoneonly #iphonevideography #malamsuro #tapabisu #javanologi #javacalender #stories (at Daerah Istimewah Kota Yogyakarta)













