MELUNASI HUTANG TULISAN #1 . Aku membutuhkan waktu hanya hitungan jam untuk berkenalan denganmu. Tak perlu waktu lama untuk saling bercengkerama denganmu melalui balas-membalas teks dengan batasan karakter tertentu itu. Kau masih mengingatnya kan? Saat aku kau permalukan di depan diriku sendiri tentang perkenalan kita? Aku salah menduga tentangmu Kau, pasti tertawa menang di seberang sana karena berhasil menipuku. Sering aku merenung ketika akhir-akhir ini saling bersapa denganmu. Kau dan aku seperti terigu dan air. Ah, tak usah kau protes jika perumpamaan kali ini tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Kau tahu kan, aku sedang berusaha menekuni bidang ini sekarang jadi maafkan saja. Terigu yang padat bubuk sedangkan air adalah cairan. Tapi jika diaduk bersama maka akan menyatu keduanya, menjadi adonan. :seperti kita Kau sebegitu detail mengingat semuanya, sedang aku harus malu ketika kau tanya kapan pelantikan di organisasiku. Kau selalu menyempatkan bertanya kabar, punya teman yang banyak di seluruh fakultas yang berbeda, sedang aku harus malu ketika kau menyebutkan beberapa nama yang kautanyakan namun kubalas dengan gelengan kepala tanda kekuperanku. Hey Gadis Kedua Lestari, siapa sangka kita wisuda bersama di bulan Juni. Meski sejak itulah terakhir kulihat punggung gagahmu. Semoga masih ada jumpa yang lebih lama. Aku banyak ingin bercerita dengan tatap wajah ramahmu. Aku juga ingin tahu, sedang hujankah di hatimu bersebab saban hari membersamai ayah-bundamu. Aku sedang kemarau di sini. Selamat menabung rindu! Gambar:google Nb: pemandangannya udah mirip sawah-sawah di linggau gak sih yaa wi? 😄 #bukanpuisi #tulisangakjelas #tapidibuatserius #darihati













