Terima kasih, Bumi
Teruntuk, Bumi,
Perlahan aku mengerti bahwa bukan pundakmu yang selama ini ada menemani, melainkan punggung.
Ya, punggung, yang ternyata saat ini perlahan menjauh.
Bumi,
Kukira kau sedang mempermainkanku saat ini. Mengajak berdansa kaki-kaki rindu di lantai dansa pikiranku, sedang sebenarnya, rindu-rindu itu lelap pada hati perempuan yang masih beku.
Terima kasih, Bumi
Kamu tahu, lagi-lagi, aku selalu bisa menerima abaimu. Meski aku tak pernah bisa melihat punggungmu menjauh. Maka saat ini, biarkan aku memilih berdiam dalam rotasiku sendiri, tanpa lekang menatap punggungmu dan berpuisi dari rotasimu.
Terima kasih, Bumi
Telah mengizinkan luka ini mengering sendiri.
Berbahagialah.
Dari Saturnus.













