AIB
Lalu setelah meraung,
kini tertegun.
Malu atas sajak-sajak pedihnya
kemarin.
Aku—yang seakan paling
merana—berbaring ramah,
meraba langit-langit kamar,
kemudian mengangkat telunjuk,
lalu menarik garis, memulai khayal
yang dulu lebih dari dua kali
dibuat.
Cinta itu seluruhnya.
Sakitnya, malunya,
tawanya, murungnya,
dan nafasnya.
Ah, sampah!
Memang pedulimu apa?
— Bandung, A.













