Jika menjadi manusia utuh saja kau tak mampu. Paling tidak jadilah puing-puing yang melengkapi teka-teki dunia. Jangan cuma jadi sampah peradaban
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Canada

seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from South Korea
seen from France
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
Jika menjadi manusia utuh saja kau tak mampu. Paling tidak jadilah puing-puing yang melengkapi teka-teki dunia. Jangan cuma jadi sampah peradaban
Tentang "22" dan "Ini"
Jujur, hari ini, tepat saat diri menginjak usia yang baru, hati ini cukup deg-degan.
Entah saat kapan, aku pernah menuliskan beberapa target yang ingin dicapai di usia 22 ini.
Salah satunya, mengenai peran baru.
Status baru.
Ibadah terpanjang dalam hidup.
Ehem.
Sensitive content!!!
Hayoloo arahnya kemana nih.
Tumben banget, kan bahasannya.
Apapun yang kau pikirkan sekarang mengenai tulisan ini,
Iya, tentang itu.
Jadi, sudah siap?
Deg.
Aku bertanya-tanya pada semua orang yang sudah menjalani ini, memangnya, indikator "siap" itu apa ya?
Rasanya, semakin mempersiapkan, semakin merasa tak siap.
Semakin... "Eh belum belajar tentang ini, belum mendalami ini, belum jago begini, belum sanggup begitu."
Ternyata, ilmunya memang seluas itu.
Pernah ada yang bilang begini,
"Mengenai ini, memang nggak akan pernah siap. Karena, ini kan ibadah seumur hidup, belajarnya juga seumur hidup."
Oh, gitu, ya?
Oh...
Mungkin maksudnya "siap" itu bukan siap seperti yang dikira, ya.
Tapi, siap belajar.
Siap belajar menerima, belajar memberi, belajar memahami, belajar memaklumi, belajar menjalani, belajar mempertahankan, dan serangkaian pelajaran lainnya.
Kalau gitu, nanti kita belajar bareng-bareng aja gimana?
Kalau kamunya, sudah "siap" untuk ini?
Apa sih dari tadi ini-ini melulu?!
Apapun yang kau pikirkan saat membaca kata "ini",
Iya, tentang itu.
16 Juni 2020
menerima
Bagaimana kalau setiap ekspektaksi akan masa depan tak sesuai dengan kenyataan nantinya?, Bagaimana kalau nanti dibersamakan dengan seorang yang tak pernah kita harapkan?, Bagaimana mempersiapkan diri terlebih hati untuk menerima kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam hidup?. Dan masih banyak pertanyaan yang membuat pusing kepala yang berkeliaran dengan hebatnya.
“Kita tidak pernah bisa menolak takdir yang ada, tapi kita bisa merubah perasaan kita untuk menerima takdir”
Kamu sudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang berkeliaran di kepala bukan? bagaimana, kamu sudah paham?
Kamu seseorang yang penuh misteri. Memberikanku berjuta teka-teki yang aku sendiri pun sulit untuk memecahkannya. Sebenarnya, apa yang kaurasa? Akankah kaumerasakan perasaan yang sama denganku? Kau membuatku takut untuk berasumsi. Dimana hal tersebut bisa saja mematahkan segala yang aku harapkan. Ayolah, katakan dengan baik! Jangan membuatnya semakin berantakan. Sebab sejujurnya, bersamamu selalu membuatku dalam ketakutan. Ketakutan dimana aku akan merasakan kehilangan yang pernah kurasakan sebelumnya.
-akurin.du
Senyuman
Siapa yang tak bahagia jika mendapatkan sebuah senyuman yang sangat indah apa lagi itu dari sesorang yang dia kasihi. Senyuman yang merupakan salah satu dari sekian banyak ibadah yang dapat dilakukan. Senyuman juga dapat memberikan banyak arti dan makna dari setiap keindahannya. Senyuman juga menjadi sebuah bahasa yang mewakilkan perasaan seoseorang. Akan tetapi apakah orang tahu kisah dibalik sebuah senyuman yang terukir indah diwajah seseorang? Akankah itu memang sebuah kebahagiaan yang ingin ia bagikan kesemua orang yang ia temui? Atau itu hanya sebuah topeng dalam menutupi sebuah luka dalam yang terjadi? Tak ada yang tau dengan pasti sebuah arti senyum yang terukir. Oleh karena itu hargai setiap senyuman yang kau dapatkan. Walaupun kau tak tau apa arti dari sebuah senyuman itu.
Tawamu menemaniku disaat "malamku", tanpa sadar malam itu kau ubah menjadi "siangku".
tidak perlu menjadi wanita yang terkenal penuh teka-teki hanya untuk digemari dan minta dimengerti
kami bukan kudo shinichi, kami hanya pria pencari wanita yang mau dinikahi.
Cinta & rasa "suka" itu paradoks. "Rasa" yang seolah-olah bertentangan dengan realita, tetapi pada kenyataannya itu merupakan kebenaran. Dan tidak bisa disembunyikan.