Hangat Bak Sengatan
Jika ditelisik lebih dalam,
Ruangan mu mungkin sudah penuh,
Tentu dengan buaian indah merayu.
Jika diselami lebih jauh,
Ingatan mu akan membuyar,
Bagai tumpahan cat merah muda jatuh dari langit-langit biru tangga.
Jika dilalui lebih intens,
Mungkin larangan itu terlalui,
Itu pun jikalau kau tak memegang kunci yg benar.
Jika diralat langsung,
Mungkin akan terperangah,
Menoleh ke arah berlawanan dari sudut berdiri mu, wahai temaram remang.
Dan
Jika diperingati tuk menepi,
Mungkin akan berontak,
Kala ribuan penglihatan dihalangi belukar liar yang tumbuh sembarangan.
Sekali lagi,
Jika diusik,
Goresan nya akan melepuh,
Terlebih oleh orang-orang di sekitar mu.
Wahai sosok pembangkit dahaga,
Sudah kah menyadari ?
Itu semua omong kosong,
Yang dilakukan oleh bagian kepintaranmu,
Yaaaa
Tentu dapat meredam tapi akan tersibak.
Jika hal itu benar adanya,
Haruskah ia atau dia ?
Sebagai pelerai imajinasi mu .
Sadarlah
Rengkuhlah
Menepi lah di penghujung doa
Teruntuk tinta darah yg membekas.
Jika mengunjungi,
Kan kau dapatkan peluru nadir,
Yg sudah sekian lama terjerembab.
HANGAT MENDIDIH











