Balik Arah : Desa Tenojaya, Cimelati
Pagi itu hari Sabtu, aku teringat sebuah tempat yang pernah dikunjungi dengan keluarga. Sebuah rumah panggung di Cimelati milik kakek yang tiap bangun pagi sudah disajikan pemandangan gunung, terang atau tidaknya matahari. Sawahnya terbentang dari paling ujung kiri ke ujung kanan, lengkap dengan pemandangan para bapak dan ibu petani yang sedang memilah padi dari pagi hingga siang hari. Hawa dan airnya dingiiiiin sekali, sampai tak berasa belum mandi meski berhari-hari.
Aku ingat kontak si bapak yang jaga rumahnya dan ternyata masih aktif, dikirimlah alamatnya. Sebenarnya aku ingat patokannya karena terakhir kesana naik bus, tapi karena kali ini sama Toruk, pasti jalannya ada yang berbeda, Setelah selesai menyantap semangkuk nasi cah daging di sebuah tempat makan ala film Mandarin yang kipasnya berdebu dan sudah miring, aku bergegas kembali ke Bogor, melupakan rencana untuk semalaman berada di Jalan Sabang sambil menikmati dua-tiga cangkir kopi yang harganya sudah selangit.
Perjalanan sehabis magrib dan melewati jalur bukit benar-benar menguji adrenalin, penerangan yang minim dan berhenti beberapa kali untuk bertanya arah jalan ketika melihat secerca lampu menyala di pinggir jalan juga cukup bikin khawatir, tapi asik sekaliiiiii dan akhirnya sampai dengan seliter dua liter air mata sebelum bilang ke si bapak sudah sampai depan, untung sudah malam dan cuma ada binatang malam yang saling saut-sautan di pinggir sawah.
Rumah panggungnya sudah tidak ada ternyata karena rencananya akan dibangun yang lebih bagus, tapi tetap saja bikin menghela nafas. Sudah banyak perubahan ternyata, aku cukup kaget karena ternyata sinyal internet masuk dan lumayan bagus, sangat disayangkan pula karena keluarga pak Kus yang jaga rumah sudah sibuk dengan hp masing-masing, seperti pemandangan ibukota. Pagi pun sudah tidak terlalu dingin, apa karena aku sudah lama tinggal di kota yang adem jadi sudah terbiasa, mungkin?
Tapi tenang, pemandangannya masih sama, sawahnya masih hijau, dan para petani masih memilah padi dari pagi hingga siang hari.
Sekilas balik arah yang bisa dinikmati lewat lensa kamera :
Di pinggir jalan sudah ada beberapa spot foto untuk para kawula muda :
Ini Pak Yadi, beliau sedang menyangkul sawah untuk siap ditanamkan padi baru sejak subuh :
Ini ibu Yatmi, lagi memilah padi untuk selanjutnya dibawa ke penggilingan :
Jangan malas menghabiskan nasi, karena bapak dan ibu petani ga malas memulai hari menanam padi dan memilahnya lalu digiling dan dijadikan sekarung beras untuk makanan pokok kita.
Nah ini si Eneng, dia ditinggal kakaknya karena main sama teman-temannya. Sekolahnya kelas 4 SD dan dia ga takut main sendirian. Obrolan kita lucu, aku ga bisa bahasa Sunda si Eneng yang agak asing di telinga (padahal hidup di Purwakarta 6 tahun, tetep aja satu kalimat bahasa Sunda ga ada yang nyangkut), si Eneng pun agak ga ngerti aku ngomong apa, aku tanya apa si Eneng jawab bahasa Sunda, terus lah kita ngobrol yang sebenarnya ga nyambung, tapi tetap bisa dinikmati dengan tawa dan canda.
Balik arah, semata-mata untuk kembali tanpa berharap apa-apa dan jika beruntung, bisa mendapat ketenangan yang tidak didapat. Jangan lupa kembali, bukan ke aktifitas duniawi, tapi kepada diri sendiri.