big yawn

seen from India
seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Israel

seen from United Kingdom
seen from Poland
seen from China

seen from India

seen from United States
seen from Malaysia
seen from China
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from India
seen from United States
big yawn
Video by @vampyyvixen on TikTok
TRANSCRIPT:
Let's talk about the BAFTAs situation.
Before I go into this anymore, I want to get this out of the way first: tics are not—whatsoever—what you are thinking, feeling, and they do not reveal anything about who you are as a person.
I have so many people making negative judgments about me and my character, as well as my mutuals and friends, based off of what type of tics that we have. They are always saying, "Oh, you just wanna say these things and get away with it by saying you have tics as an excuse." That is not the case at all!
I have struggled heavily to not isolate myself and I have also struggled heavily to stay here on this Earth, because my tics have caused so many problems for me. We cannot leave the house without preparing for the reality that we may be judged, misunderstood—or worse—confronted in a violent way or in an aggressive way about our tics.
So, yes, it is a tragedy for both parties that John Davidson had that tic. I feel terrible that Michael [B.] Jordan and Delroy Lindo had such a disgusting word shouted at them during a moment that is supposed to be one of the happiest of someone's life. But I also feel terrible for John Davidson that he has to live with having that word as a tic. Having tics already makes it so that you will be misunderstood and judged your whole life, but having slurs as tics, as I would know, just adds on to that. We do not gain any type of enjoyment from this. In fact, it is so immensely terrifying and causes us so much discomfort.
Yes, you are allowed to be upset, but that does not give you the right to be ableist. I see people saying that we shouldn't be allowed outside, that we deserve to die, or that we need to have muzzles on. We deserve just as much love and compassion and opportunities as you do! And, no, he did not need to be separated from everybody else. People there were warned that there was a person in the audience with Tourette's Syndrome, and they were warned that some of his tics may be inappropriate.
The movie was literally about him and his condition! He deserved to be there! He deserves to exist—and so do the rest of us!
There is no sides to this situation. There's only layers of understanding that needs to be had. So, please, educate yourselves and have compassion for others.
That is all I have to say on this situation.
Thank you.
Manifesto Batas dan Otonomi Jiwa
────────────────────
Boundaries adalah otonomi jiwa. Semakin jelas, dijaga, dan dihormati — semakin kuat pula inti diri seseorang.
Boundaries bukan sekadar pertahanan; ia adalah cara kita mencintai diri sendiri, sekaligus mengajari orang lain bagaimana mencintai kita.
Dalam hubungan, orang baik tetap bisa melukai — bukan karena niat jahat, tetapi karena pola tak sadar yang bergerak tanpa mereka sadari.
Karena itu, menilai seseorang dari kebaikan perilakunya saja tak selalu cukup;
kebaikan bisa tampak, tetapi pola tak pernah berbohong.
Kebaikan bisa muncul dari sopan santun, dari kebiasaan, bahkan dari rasa takut; tetapi karakter sejati hanya terungkap lewat konsistensi pola dan kedewasaan batin yang memberi rasa aman.
. . .
— Meneliti Asal Luka
Ketika hati terluka, kita perlu bertanya:
Apakah luka ini berasal dari kesadaran?
Jika seseorang sadar bahwa ia menyakiti dan merasa bersalah, maka maaf menjadi jembatan pemulihan. Penolakan untuk memaafkan justru berubah menjadi ego.
Atau luka ini berasal dari ketidaksadaran?
Jika seseorang melukai tanpa sadar pola apa yang bekerja, ia mungkin meminta maaf — tapi belum benar-benar memahami akar perbuatannya.
Dalam kasus kedua, masalah bukan pada kata maaf, melainkan pada pola yang akan terus berulang bila tidak dikenali.
Di titik inilah boundaries diperlukan bukan sebagai benteng keras, melainkan sebagai penjaga kasih sayang kepada diri sendiri.
──────────
Sebab membiarkan pola orang lain menyakiti kita berarti kita turut serta melukai diri sendiri.
──────────
. . .
— Sengketa Otonomi
Setiap hubungan adalah arena dua wilayah batin yang saling mendekat.
Di sana ada real boundaries dan fake boundaries.
Real boundaries lahir dari kesadaran, rasa aman, dan keutuhan diri. Ia bersifat ramah, hormat, dan stabil.
Fake boundaries lahir dari trauma dan rasa takut kehilangan kendali. Ia bersifat reaktif, manipulatif, dan sering tersamar sebagai ketegasan.
Ketika dua jiwa mendekat, batas-batas ini saling bersentuhan. Ada kalanya benturan terjadi — bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membentuk hubungan yang lebih dewasa.
Jika kedua belah pihak mau berdialog dengan jujur, tenang, dan rentan, benturan itu dapat mengikis batas palsu dan memperkuat batas yang sejati.
──────────
Di sinilah hubungan memasuki fase matang: ketika dua jiwa mengintegrasikan otonominya tanpa memusnahkan satu sama lain.
──────────
. . .
— Ketika Integrasi Gagal
Namun tak semua sengketa batas berakhir dengan kedewasaan. Ada fase di mana integrasi gagal — ketika dua orang saling melukai, namun tidak berani melepaskan.
Di sinilah bibit dari apa yang disebut “toxic relationship” mulai tumbuh:
pertengkaran yang berulang,
keintiman yang disusul kehancuran,
gengsi mengalahkan empati,
rasa takut kehilangan lebih besar daripada rasa mencintai.
Dari tanah yang getir ini muncul bayangan yang lebih gelap: trauma bonding — keterikatan yang dibangun bukan dari cinta, melainkan dari luka yang saling mengunci.
. . .
— Dua Jalan Keluar
Jika telah sampai di titik ini, jalan keluar hanya dua:
Membuka diri secara total — jujur, lembut, vulnerabel, dan menenangkan ego masing-masing agar dialog dapat berlangsung sehat.
Berpisah — bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai ruang untuk berbenah. Kadang jarak adalah satu-satunya cara melihat dengan jernih.
──────────
Karena manusia hanya berubah oleh tiga hal: kesadaran, kejutan, atau kehilangan.
──────────
Dan pada akhirnya, nilai sebuah hubungan ditentukan oleh satu hal: seberapa besar kedua jiwa mampu saling menjaga — bukan hanya saling bersama.
Sebab orang yang paling mengerti nilai “ada” adalah mereka yang terlalu sering merasakan “hilang.”
. . .
dinding kayu
aku berharap yang membatasi kita hanyalah dinding kayu. sehingga aku masih bisa menyampaikan pesan walau hanya lewat ketukan.
aku berharap yang membatasi kita hanyalah dinding kayu. sehingga aku masih bisa mengharap suara tetap terdengar.
aku berharap yang membatasi kita hanyalah dinding kayu. sehingga aku masih bisa menunggu waktu hingga semuanya lapuk.
tapi kamu sudah membangun dinding lain di balik sana.
𝐌𝐢𝐬 𝐩𝐫𝐨𝐩𝐢𝐨𝐬 𝐝𝐞𝐦𝐨𝐧𝐢𝐨𝐬 𝐬𝐨𝐧 𝐦𝐢𝐬 𝐩𝐞𝐨𝐫𝐞𝐬 𝐛𝐚𝐭𝐚𝐥𝐥𝐚𝐬.
-𝒔𝒏𝒉𝒏𝒌𝒌𝒎𝒏
The making of David Tennant's embellished 2024 Bafta Suit
ATRET
Ada sebuah kehangatan yang tumbuh tanpa izin. Sebuah kedekatan yang tak pernah tercatat dalam agenda, tahu-tahu sudah ada, bernapas di antara kami.
---
Tiba-tiba sebuah sentakan rantai menyeret sadarku. Pengingat akan jangkar yang sengaja kutanam dalam-dalam, untuk menahanku di tempat yang kurasa aman.
Maka, tanpa suara, aku mengambil kembali setiap jengkal diriku yang tak sengaja kuberikan. Melangkah mundur, ke semula yang tak pernah ada.
Roni. | 21 Juli 2025