Kita adalah Individu yang merdeka
Ada satu cerita menarik ketika kemarin sempat bersua dengan dua orang teman lama. Selang beberapa bulan tak jumpa, salah satu dari temanku datang membawa cerita.
“Sekarang aku pengen sigle aja” ujarnya setelah menaruh handphone di atas meja
“Memang kenapa? kamu sudah nggak cinta dia?” jawabku menimpali pernyataannya.
“Ngga juga si, tapi sekarang aku sudah capek, dia terlalu berlebihan menurutku, masa setiap ketemu maunya dia baca seluruh chat ku, aku ga suka aja”.
“Udah kamu obrolin sama dia?” tanyaku lagi
“Udah, kata dia “yaa memang kalau pacaran kan harusnya gini, saling tau biar sama-sama percaya”.
Akhirnya aku bertanya kepada temanku yang lain, dia sedari tadi hanya menyimak percakapan kita berdua.
“Kamu memang sama suamiMU juga harus tuker-tukeran hp? saling baca chat juga?” tanyaku penasaran
“hah? ngga ah aku si nggak sampai baca-baca chat di hp pasangan masing-masing, saling percaya aja, malah kalau kaya gitu jatohnya malah curiga”.
“tuh kaan, yang udah nikah aja nggak kaya gitu. Mereka paham, mana privasi mana yang harus dibagi. coba nanti kamu komunikasiin lagi, kalau kamu ga suka sikap dia yang terlalu mendominasi dan akhirnya bikin kamu merasa terbebani kaya gini”. timpalku sedikit menasehati
Dari percakapanku dengan dua temanku kemarin, akhirnya aku berfikir sepertinya ada yang salah dari cara berkomitmen ataupun berpacaran di masa sekarang ini. Setiap dari kita adalah individu yang merdeka. Merdeka dengan membawa segala hak dan kewajibannya.
Ketika seseorang memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan, baik hanya berkenalan, berpacaran, bahkan hingga membangun sebuah pernikahan pada dasarnya mereka membawa individu masing-masing (yang merdeka) untuk menjadi teman bukan malah mendominasi salah satunya.
Memainkan peran masing-masing dalam porsi yang seimbang, membebaskan pasangan dengan segala bentuk privasinya adalah satu tanda cinta pula. Ketika salah satu dari pasangan tersebut merasa terbenani dan tertekan, ia bukan lagi individu merdeka menurutku, karena telah ada orang lain yang menerobos masuk kedalam daerah privasinya walaupun ia adalah orang yang ia cintai.
Bahkan seorang ibu dan ayah saja memiliki batasan sejauh mana ia menyelami kehidupan anaknya. Mungkin ada beberapa pasangan yang mentolelir bertukar handphone untuk saling mengecek itu wajar, yaa silahkan saja asal, memang sebelumnya sudah saling berkomunikasi dan tidak ada yang terbebani.
jadi, menurutku Inti dari sebuah hubungan adalah percaya dan komunikasi.