‘Kartu Remi’ - Short Story Tokyo Ghoul (YJ. 17)
Ini short story yang terbit di edisi 17 Young Jump, ditulis oleh Towada Shin, author dari novel Tokyo Ghoul juga.
Saya translate dari versi inggrish yang ada di sini
Ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Tapi rasanya sudah lama sekali.
“Uhm, onii-chan... Aku ingin main ini bersama yang lainnya.”
Pertarungan melawan Aogiri telah berakhir. Kaneki Ken sudah meninggalkan Anteiku dan membuat sebuah markas kecil di ward ke-6 untuk melacak keberadaan Kamishiro Rize. Hari ini Tsukiyama Shuu, sang ‘Gourmet’, mengunjungi mereka untuk menyampaikan informasi yang telah diperolehnya.
Kaneki dan yang lainnya selalu bersikap waspada terhadap Tsukiyama, namun bagi Hinami dia adalah sosok ‘kakak’ yang unik. Selalu datang membawa macam-macam hadiah, bahkan hari inipun dia tidak lupa membawa sesuatu.
“Kartu remi?”
“Yup. Tsukiyama-san memberikannya padaku.”
Mendengar kata-kata Hinami Kaneki dan Banjou langsung menatap Tsukiyama dengan tatapan curiga yang seakan-akan berkata, ‘Apa yang kau rencanakan sebenarnya...’
“Shock... Jangan menatapku dengan mata yang galak begitu, Kaneki-kun. Aku hanya ingin memberikan sedikit hiburan pada nona kecil yang terlihat bosan ini, walau hanya sesuatu yang sederhana—jadi aku memberikan kartu itu sebagai hadiah.”
Mendengar hal itu Kaneki tanpa sadar mengalihkan pandangannya dari Tsukiyama.
Walaupun dia memiliki kemampuan ghoul melebihi yang lain Hinami tetap masih kecil. Menempatkannya dalam bahaya bukanlah pilihan, jadi dia sering ditinggal sendirian untuk menjaga rumah.
Kaneki tau kalau Hinami pasti merasa kesepian karenanya. Kata-kata Tsukiyama mengena dengan telak.
“Apakah semuanya ada di sini? Kita main sesuatu yang mudah saja. Bagaimana kalau ‘Mencari Setan’?”
Hinami mengangguk dengan semangat mendengar tawaran Kaneki. “Istirahat dan bermain seperti ini sekali-sekali boleh juga...” Banjou menambahkan dengan setuju. Mereka duduk di lantai membentuk sebuah lingkaran. Hinami disebelah Kaneki, Banjou duduk di seberangnya.
“Kalau begitu biar aku yang menjadi bandar kartunya. Nona kecil, letakkan kartunya di tangan kananku ini...” Tsukiyama yang duduk di luar lingkaran menawarkan diri. Setelah memegang kartunya dia mulai mengocok tumpukan kartu itu dengan gerakan lihai seperti seorang pesulap, kemudian membagikannya.
“Geh!”
“Banjou-san, kau dapat ‘setan’-nya ya?”
“T-tidak kok!”
Banjou tanpa sengaja menaikkan nada bicaranya, terlihat jelas sekali kalau dia berbohong. Kaneki dan Hinami hanya menatap satu sama lain lalu tersenyum.
“Baiklah, Hinami-chan, ayo duluan.”
Hinami mengambil sebuah kartu dari Kaneki.
“Ah, ada yang sepasang!”
Dia beruntung, Hinami mengeluarkan dua kartu yang sepasang. Melihat Hinami yang senang Kaneki jadi tersenyum sendiri saat dia memilih salah satu kartu dari Banjou.
“Hmm, sulit juga ya.”
Dengan enam orang pemain mencari kartu yang sepasang jadi sulit. Ada helaan nafas kecewa serta ekspresi senang ketika ada yang mendapatkan kartu incarannya masing-masing. Mereka dengan cepat terlarut dalam permainannya tanpa memikirkan hal lain. Ini membuat Hinami senang, karena Kaneki terlihat menikmatinya juga.
“Baiklah, sekarang...”
Sekarang adalah giliran Kaneki lagi. Jarinya menyentuh salah satu kartu di tangan Banjou. “Uwo!” Banjou kelepasan dan memekik dengan semangat. Kaneki terkejut, tangannya tidak jadi menyentuh kartu itu untuk sejenak, namun kemudian ekspresinya berubah jadi tenang dan mengambil kartu tadi, menyelipkannya di tengah-tengah kartu lain di tangannya.
Beberapa saat kemudian kembali giliran Hinami. Hanya ada satu kartu yang tersisa di tangannya, kartu as wajik. Sedikit lagi akan menang. Dia menatap kartu yang ada di tangan Kaneki, lalu memutuskan untuk mengambil kartu yang paling kanan.
“…?”
Hanya beberapa saat sebelum dia meraihnya kartu itu bergeser, membuatnya mengambil kartu lain... kartu as hati.
“Yay!” Hinami menunjukan kartunya pada semua orang sambil bersorak senang.
“Tres bien! Menang dengan dua buah kartu as—Victora, dewi kemenangan, pasti sedang tersenyum padamu, nona Hinami.”
Tsukiyama yang berperan sebagai bandar sekaligus wasit permainan itu bertepuk tangan untuk Hinami. Banjou juga memujinya, “Kau hebat sekali, Hinami-chan.” Melihat Hinami yang senang begitu Kaneki jadi tersenyum lagi.
Mereka terus bermain setelah itu, Jiro, Ichimi, dan Sante satu demi satu menghabiskan kartunya dan selesai, yang tersisa hanyalah Bajou dan Kaneki. Kaneki masih memegang dua kartu, sedangkan Banjou tinggal satu. Kartu Joker yang menjadi ‘setan’ ada di tangan Kaneki, dan sekarang giliran Banjou mengambil kartu.
“Aku pilih yang...”
Semuanya menatap tegang saat Banjou memilih salah satu kartu.
“…Uwoahh! Yes!”
“Yah, aku kalah...”
“Fufu, sepertinya sang Joker terlanjur menempel padamu, Kaneki-kun.”
Banjou yang menang, dia meletakkan sepasang kartunya dan Kaneki meletakan Joker itu di atas kasur.
“Padahal aku ingin melihat Banjou-san kalah terakhir...”
“Hey!” Banjou mengepalkan tangan saat mendengar komentar Ichimi.
“Sudah, sudah...” Kaneki menenangkan mereka berdua.
“Sayang sekali kau kalah, onii-chan.”
Mendengar itu Kaneki mengelus pelan kepala Hinami, “Walau kalah tetap menyenangkan kok...”
Hinami tersenyum lebar, dia benar-benar senang.
Itu dulu.
“...Ayato-kun. Apakah kau pernah main ‘Mencari Setan’?”
Hinami yang memeluk kedua lututnya di ruangan gelap itu bertanya pada Ayato yang bersandar di dinding. Ayato mengernyitkan alis mendengar hal itu, “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?”
Saat itu kartu yang hampir diambil Hinami dari tangan Kaneki mungkin adalah Joker. Itulah kenapa Kaneki dengan sengaja sedikit menggeser kartunya.
Itu hanya sebuah permainan, tapi Hinami merasa kalau itu seperti penggambaran karakternya. Bagaimana dia mencoba menanggung semua masalah sendirian.
“Waktu itu...”
Dia harusnya mengambil Joker itu.
Sosok ‘Onii-chan’ yang telah lenyap. Semua ingatan Hinami tentangnya lembut dan indah, namun menyakitkan.









