Denia, The Wanderer
Perkara hubungan antarmanusia ini terbilang sederhana. Asalkan tahu batasannya, tujuannya, hingga manfaatnya.
Begitu pula yang terjadi dengan Denia, gadis semata wayang Pak Kharisma.
Sepeninggal ibu Denia berpulang menuju ke hadirat-Nya, Pak Kharisma berubah total. Ia tak lagi menjadi ayah yang hangat bagi Denia. Seakan larut dalam kesendirian dan rasa kehilangan yang berkepanjangan, Pak Kharisma menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Setiap hari, hingga akhir pekan. Pergi pagi, pulang malam. Yang ia sisakan waktu untuk Denia, sang gadis tanpa dosa, hanyalah ucapan selamat pagi dan selamat tidur. Terkadang pula menanyakan bagaimana kegiatan sekolah hanya untuk berbasa-basi barang beberapa menit tatkala Pak Kharisma mengenakan dasi dan sepatu menuju kantor.
Itu saja.
***
Sosok kecil berambut ikal panjang dan piyama putih model dress selutut itu meringkuk di ujung kasurnya. Ia memeluk erat Pony, si guling kesayangannya. Rupanya, Pony saat itu tak hadir dengan 'pakaiannya' yang seragam dengan bedcover. Apa itu? Ya. Pony yang ada di dalam pelukan Denia berbalut gamis favorit ibunya.
Mendiang ibunya.
Bagi Denia, ia masih bisa merasakan kehangatan dan aroma tubuh Ibu. Ia baru bisa merasa tenang dan nyaman setelah beberapa saat memeluk Pony itu. Dan tak lama, ia akan tertidur dengan pulas, bak seorang bayi dalam gendongan sang Ibunda.
Sesederhana itu saja.
***
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun.
Denia pun bertumbuh menjadi seorang gadis yang tinggi semampai, berkarakter kuat, namun cuek pada lingkungan sekitar.
Bagaimana hubungannya dengan Pak Kharisma?
Tetap begitu-begitu saja.
Ia tak ubahnya memiliki hubungan maya dengan ayahnya. Bahkan, semenjak bisnis ayahnya berkembang, Denia hanya menghabiskan waktu di rumah berdua dengan Mbok Narti, seseorang yang sudah belasan tahun mengabdi pada keluarga Denia.
Praktis, tak ada sosok yang mungkin benar-benar memahami Denia sebagai orangtua.
Mengajari Denia bagaimana sesuatu itu tergolong hal yang benar atau salah, memberikannya kasih sayang ketika ia sedang gundah, atau sekedar melempar pelukan spontan yang hangat untuk menghilangkan beban pikiran.
Tak ada.
Mbok Narti dari balik meja dapur sesekali melempar pandangan iba yang panjang pada Denia, anak dari majikannya yang sejatinya ia sayangi seperti anak sendiri. Ya, sepeninggal keluarga Mbok Narti meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun, ibu dari Denia lah yang mengayomi kehidupan Mbok Narti. Mbok Narti sangat memahami dalamnya rasa kehilangan Denia terhadap Ibunya. Namun, sepeninggal kejadian itu, Denia tak lagi seperti Denia yang dulu periang. Dan Mbok Narti sudah mengeluarkan berbagai upaya untuk menghiburnya.
Namun, apa daya.
Hati gadis itu kini tertutup. Beku. Laksana dinding es yang menanti untuk mencair, entah sampai kapan.
***












