(dia bilang) untuk Asrila
Namaku Asrilla, belum genap berumur 22 tahun. Sibuk menggerakkan tubuh dan mengolah pikiran merangkai kata kata, metode-metode penelitian untuk merampungkan satu hal yang kerap jadi trending topic di mahasiswa tahun akhir, bernama skripsi.
Hampir 4 tahun sudah aku menghirup udara, meminum air dan menginjak bumi andalas, Padang. Walaupun ibu dan ayahku berdarah asli Pariaman, tetangga dekat kota Padang, ia telah lama meninggalkan kota berjuluk bingkuang ini. Dilahirkan di Bangka Belitung, lalu berpindah-pindah, tradisi mengikuti seorang ayah yang ketika kontrak bekerja, menandatangani kesepakatan ditempatkan dimana saja, sebagai pegawai PLN saat itu. Ia telah berpindah kampung, begitulah, karena ibu dan ayahku memilih menetap di Palembang, dan aku melewati masa SMA dengan kenangan-kenanganku di kota mpek-mpek, sehingga mengatakan Palembang lebih dekat dikatakan kampungku, begitu daya magis kenangan kehidupan SMA dan daya tarik kerinduan kepada orang tua, mengubah pendapatku tentang kampung halaman, ya rantau telah aku tetapkan menjadi kampung halaman, seperti guman Sutan Sjahrir, yang merasa lebih dekat kepada Belanda dan budayanya, sehingga tidak merasa aneh lagi ketika awal berkuliah di negeri yang lama menancapkan taring jajahannya di Indonesia.
Lelakiku, ah aku harus menunda kata ini berimbuhan menyatu, ya harus ada jeda menunda diantara kata lelaki dan ku, karena dengan menunda kita menolak berkesimpulan dan baku, semua masih akan terjadi, bahkan lebih mengerikan dari semua perpisahan, dua kata yaitu lelaki dan ku mungkin tak akan menjadi lelakiku, di kamus apapun. Tapi begitulah, romantisme masa muda kadang membuat kita melupakan logika-logika, yang malah diakhir cerita kerap menyeret ke kesedihan berkepanjangan, karena percintaan kerap berisi gombalan yang umurnya lebih panjang dari umur hubungan percintaan itu sendiri.
Tiga tahun sudah ini, aku memilih berhubungan spesial dengan lelaki yang bergenetik gado-gado, berkampung halaman gado-gado pula. Sebut saja namanya izar, kerap dipanggil ucok, ya karena ayahnya bermarga siagian, marga dari suku batak yang kebiasaannya berbisikpun suaranya akan terasa begitu memekakkan. Tunggu dulu, ibunya berdarah minangkabau juga, sama sepertiku dan masih mempunyai suku yaitu tanjung, namun begitulah budaya patriarki, itupun karena ayah dari ibunya juga bersuku melayu asli Bengkulu sehingga budaya matrilineal di keluarganya tidak lagi terlalu pekat, dihadapkan pula pada ayahnya yang berbudaya patrilineal batak, akhirnya ibu dan ayahnya bersepakat menyematkan nama siagian warisan ayahnya dibelakang namanya, entah kesepatakan, entah ibunya yang merelakan.
Gado-gado secara genetika, ya gado-gado pula secara kampung, ayah yang berasal dari sumatera utara, dan ibu campuran melayu Bengkulu-minang, ia lahir dan dibesarkan di Bengkulu, belum pernah menginjak tanah kelahiran ayahnya, baru sekali pula menginjak kampung ibunya di Kampung Jambak, Bonjol, lalu ini memahami aku, yang awal bertemu menanyakan ia darimana, ia bingung, harus menjawab apa, ya karena ia lelaki gado-gado.
Sekarang, setelah menamatkan studi di Padang, kota kami bertemu dan bersemi, ia memilih melanjutkan studi ke Kota Bandung. Mengingat kota ini aku kerap was-was dan cemburu sendiri, kota yang jaman penjajahan dikatakan surga buangan, kota yang mempunyai cerita rakyat ibu yang bisa merawat kecantikannya hingga anaknya ketika tumbuh dewasa jatuh cinta kepada ibunya sendiri. Semakin layak dikatakan kota kembang dengan keparasan perempuannya, tapi, aku sedikit tenang, lelakiku bukan perayu yang handal, bisa dikatakan payah.
Awal pertemuan kami sebenarnya sederhana, ketika ospek, ya bisa dikatakan aku adalah KRS, etts, bukan kartu rencana studi, namun korban retorika senior. Itu dulu, karena bukan perempuan namanya jika tidak mampu membalik keadaan, ya saat ini aku rasa akulah yang sedikit menguasai hubungan, namun sudahlah cinta bukan permainan, walaupun memang aku merasa menang.
Karena harus mengikuti aturan ketika menjadi mahasiswa baru, aku harus meminta tanda tangan dan data-data unit kegiatan mahasiswa. Disanalah aku berkenalan dengan dia. Cimeeh, kata orang minang, adalah kalimat yang keluar dari mulutnya ketika mengatakan “ini kampus lagi sibuk entrepreneur, lebih baik pulang ke palembang jualan mpek-mpek”, semua di ruangan itu, detik itu juga tertawa sedang aku tetap tersenyum walau dalam hati begitu mengutuk ucapannya. Namun, mengingat aku butuh tanda tangannya yang kebetulan ketua unit kegiatan mahasiswa yang aku kunjungi, aku pun hanya diam, junior memang merasa tak punya hak apa-apa.
Sebelum pulang dan mendapat tanda tangannya, ia menanyakan namaku dan meminta semua yang hadir disana untuk meninggalkan nomor HP, katanya nanti akan dihubungi jika ada informasi mengenai kegiatan mahasiswa. Aku yang waktu itu masih polos belum memahami, ini cara halusnya untuk mendapatkan nomor teleponku dan menghubungiku, modus kata anak-anak jaman sekarang. Bodohnya lagi, ketika ia menghubungiku, aku pun membalas dan kita bertemu, hingga akhirnya menjalin hubungan saat ini. Aku telat membaca tesis Foucoult yang mengatakan berkenalan dan mengetahui adalah jalan pertama untuk menguasai.
Kami sebenarnya bukan pasangan yang banyak kesamaan. Aku yang dididik orang tua haji lebih banyak berpikiran positif, kata ayahku tak boleh suudzon, tidak mau berpikiran macam-macam tentang dunia apalagi Indonesia yang ada saja masalah yang tak pernah selesai ini. Disisi ini, ia berada diseberang. Dia, banyak membaca buku-buku teori kritik, jadilah ia begitu kritis melihat keadaan, Karl Marx, Tan Malaka, Sjahrir juga novel-novel Pramudya aku temui di kamarnya ketika membantu mengemas buku-bukunya yang ingin ia bawa ke Bandung selepas mendapat gelar sarjana di kota ini, yang juga menandakan lonceng hubungan jarak jauh yang harus kami lalui hingga hari ini. Selain itu, Walaupun kami seagama, ia berbeda pandangan denganku. Ia mengatakan, surga itu milik semua orang baik, apapun agamanya. Ia pula orang yang selalu memaksa aku untuk banyak membaca buku, sehingga pacaran kami banyak mengunjungi toko-toko buku. Sebalikya, jikalau aku mengajak makan ke tempat yang agak mahal, ia terus protes, katanya uang sebanyak ini untuk membeli makanan yang sebenarnya hanya menjual tempat bukan rasa, bisa digunakan untuk membeli tiga buku, begitu mubazir, begitu katanya.
Namun inilah orisinilitasnya, yang aku kagumi berbeda dari lelaki lain. Mungkin inilah yang lama dihimbau Sarte filsuf eksistensialis ini, yang mengatakan “manusia dikatakan manusia, jika telah menunjukkan orisinilitasnya”. Meski kadang aku terpikir, ini orang tidak cocok dijadikan pacar gaya anak muda sekarang, berfoto di tempat makan mewah, berbelanja ria dan lainnya, karena aku sebenarnya dari gerombolan anak muda dangkal seperti itu, hasil pergaulan SMA di kota besar Palembang, dan ketika itu ayahku menduduki jabatan penting di PLN, yang berarti gajinya naik, jajanku pun naik, menjajankan uang untuk satu bulan dalam satu hari biasa waktu itu bagiku. Namun dari semua perbedaan itu, hingga hari ini semua perbedaan masih bisa kami damaikan, ya bukankan semakin berwawasan, harus diikuti dengan semakin terbuka memahami perbedaan.
Jangan bayangkan pacaran kami berisi rayuan dan gombalan, berisi kemana akan bulan madu nanti dan banyak cerita indah yang dikarang-karang sendiri ketika pacaran, jangan pula banyangkan kami mempunyai panggilan kesayangan bunda-ayah, beb dan lainnya, percintaan yang seperti kutipan Sajak Esha Tegar “prosaku manis,gadisku manis, percintaanku muda lagi klimis”.
Yang ada, ketika kencan ia bercerita bersemangat tentang pertemuan-pertemuannya dengan orang-orang yang bagi ia begitu hebat karena perjuangan hidupnya atau bahan bacaannya yang begitu banyak, atau ia bercerita mengenai buku-buku yang baru ia baca. Ketimbang membaca buku yang ia beri, aku memilih untuk mendengarkan saja ia menceritakan isi buku yang ia berikan kepadaku. Ya dari beberapa lelaki yang pernah menjalin hubungan denganku, ia yang sedikit beda, katanya ia sosialis, namun aku sering menggerutu kalau ia cemburu pada teman lelakiku yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa, kataku, “katanya sosialis, tapi soal perempuan begitu privatisasi!”.
Disisi kesendirian karena LDR, apapun teknologinya, aku percaya tak ada yang bisa menggantikan raga-fisik yang hadir didekatku, aku memilih menulis. Menulis membuat aku dan kenangan ini abadi, ya karena kita dan kebersamaan adalah fana, yang lebih lama itu perpisahan, bukan pertemuan. Seperti bait puisi Sapardi Djoko Damono,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi bait-bait sajak ini,
Kau takkan kurelakan sendiri”.