[KESADARAN BERPENDIDIKAN] "Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku." - Mohammad Hatta Dimasa itu tidak banyak pemuda yang rela menghabiskan masa mudanya untuk memperjuangkan Republik. Kolonialisme yang mendarah daging seakan menjadikan keadaan baik baik saja padahal tidak. Kolonialisme yang katanya membawa " misi peradaban" nyatanya telah menghimpit rakyat pribumi dengan culturstellsel,rodi atau berbagai macam pajak yang membebani. Tidak sedikit kaum intelektual yang diam saja, asal perut kenyang. Lalu Sarekat Islam, Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia dan masih banyak lagi organisasi pergerakan lain muncul sebagai pemantik nyala semangat revolusi saat itu. Sekolah sekolah dibangun, tak ketinggalan tulisan tulisan di media cetak turut membangunkan tidur nyenyaknya rakyat Indonesia. Tidur dalam artian hilangnya kesadaran untuk berdiri lebih tegak, menjadi tuan di tanah sendiri. Pendidikan adalah kunci atas segala belenggu ketimpangan yang terjadi. Dalam hal ini bukan hanya pendidikan formal namun menyangkut segala substansi atas proses pendidikan yang terjadi baik formal ataupun non formal. Sebab pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah memperhalus perasaan, mempertajam kecerdasan dan memperkuat kemauan menjadi insan adabi yang titik kulminasinya adalah kebahagiaan akhirat. Aset terbesar yang dimiliki sebuah bangsa adalah manusianya. Dan di sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera kita bisa melihat pendidikan sebagai hulunya. Hari ini pendidikan -dalam arti luas- telah menjadi sebuah "gerakan" bukan hanya semata mata tugas dan wewenang pemerintah karena pada hakikatnya mendidik adalah kewajiban bagi kaum yang terdidik dan kesadaran itu yang harus dibangun terus menerus hingga kita mampu melihat pendidikan -kembali- menjadi "tangga berjalan" untuk kita semua (bersama-sama) melunasi janji janji kemerdekaan yang sempat tertangguhkan. #marimenangkan #throwbackifi2015 #pengajartangguh2













