Aku lanjutkan ya ceritanya, biar menjadi pencerita yang profesional. Hahaha.
Nggak lama setelah aku bangun, Mas Nug juga bangun. Dia ke kamar mandi. Turun dari ranjangnya sendiri, bawa infusnya sendiri. Seperti nggak ada yang salah, biasa saja. Aku melihatnya dia sudah terbiasa sendiri. Saat aku akan menolongpun, aku nggak ngerti harus bagaimana, jadilah aku diam saja. Hehehe
Menunggu dia di kamar mandi, aku rebahan di kasurnya. Lalu dia datang, gantian duduk-duduk di kursi. Wajahnya sudah segar, matanya kembali berbinar, sudah nampak sehat. Kita ngobrol-ngobrol random lagi dan dia bilang.
“Heh minggir, kebalik kita ki. Titi beres-beres sana, aku sing bobok kene”, katanya sambil ketawa dan menepukku.
Aku masih males-malesan dan aku bilang sakit perut.
“Titi ki banyak alasan”, katanya sambil mukanya mengolokku.
Aku ketawa sambil beranjak mematikan lampu dan membuka gorden. Gantian cahaya matahari membasuh kamar ini. Nggak lama suster-suster datang, mulai dari pelaporan piket jaga, memberi obat, cek infus hingga mengambil sampel darah.
Disinilah paniknya keluar, sifat bocahnya muncul sampai susternya nahan ketawa. Sedikit teriak. Selimut ditarik sampai kepala. Dalam hati pasti penuh sumpah serapah ke susternya. Hahaha. Lalu saat ditanya suster jatah sarapannya habis atau sisa, dengan muka cemberut dia jawab: “Nggak habislah, nggak enak, nggak nafsu saya”. Hahaha ngambeknya keluar.
Selanjutnya merajuk-rajuk ke dokter dan suster agar dibolehkan pulang. Dan dokter bilang, “Udah pengen pulang ya?” Lalu saat dokter membolehkan, dia teriak YES YES berkali-kali. Lalu joget-joget saat semua sudah pergi.
Tau nggak, kamu itu nggak ada keren-kerennya tau. Bagaimana aku bisa terpesona. Hahahaha.
Bersambung nanti lagi ya, aku laper mau makan dulu. Janji kok, makanku cepet. Hehehehe