Tiga Puluh Menit
Aku tak pernah menyangka,
mendapat tempat mengais rupiah dengan jarak puluhan kilometer dari rumah.
.
Aku masih duduk di kursi yang sama.
Dengan nyaman kuletakkan punggung di sandarannya.
Mulai menikmati dan mengamati suasana sekitar melalui jendela.
.
Kuletakkan sejenak ponselku.
Aku tak ingin deringnya mengganggu pemandangan yang ada di penglihatanku.
.
Kaki rapuh yang masih kuat mengayuh;
Kaki mungil yang semangat mengayuh sepeda kecil;
Sopir-sopir yang tertidur di dalam truknya;
Balita yang nyaman berada di gendongan ibunya;
Tuna wisma yang masih terlelap beratapkan langit;
Ada yang sedang terburu-buru karena takut terlambat;
Ada yang pelan-pelan yang penting selamat;
Masih banyak aktifitas-aktifitas lain di luar sana yang mungkin tidak kulihat.
.
Seperti itulah pemandangan yang sering kutemui kala pagi dan sore hari melalui bus yang kutumpangi.
.
Terkadang seseorang tak memperhatikan sekitarnya.
Terlalu fokus dengan apa yang menjadi tujuannya.
.
Tiga puluh menit.
Mampu membuatku sadar bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan.
Setiap orang memiliki jalan yang berbeda.
Mungkin hidupku jauh lebih beruntung dari mereka.
Dan hal ini membuatku lebih banyak bersyukur.
Ternyata Allah Maha Baik.
Memberiku kenikmatan yang tak terhingga untuk insan-Nya yang penuh dosa.
.









