Merajut Cerita di Kota Atambua
Atambua menjadi saksi sejarah peristiwa jajak pendapat atau referendum kemerdekaan Timor Timur pada 30 Agustus tahun 1999 . Dari hasil referendum kemerdekaan Timor Timur lepas dari wilayah Indonesia dan menjadi negara bernama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Banyak kisah tumbuh dan hilang, keluarga yang terpisah di kota perbatasan ini.
Ada berbagai kisah terangkum diatas jembatan Mota’ain, salah satu jembatan bersejarah yang memisahkan Indonesia dengan Timor Leste 18 tahun lalu. Perbedaan pilihan pada referendum kemerdekaan terpaksa memisahkan satu keluarga yang utuh dalam satu dinding bernama perbatasan. Sejarah mencatat, Atambua sebagai gerbang utama untuk mereka yang ingin terus merajut cerita di Indonesia.
Dari data hasil referendum kemerdekaan tahun 1999 yang diawasi langsung oleh PBB, sekitar 344,580 (78.5%) jiwa memilih untuk merdeka. Sementara itu, sekitar 94.388 (21.5%) jiwa menerima status khusus dengan otonomi luas yang ditawarkan pemerintah Indonesia. Tahun 2002 Indonesia dan dunia internasional mengakui kedaulatan Timor Leste sebagai sebuah negara yang resmi.
Pasca fererendum kemerdekaan ‘memaksa’ Atambua untuk bersolek menjadi kota yang maju dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bisa dibilang, Atambua merupakan kota kedua di Pulau Timor yang ramai (dari segi ekonomi, jumlah penduduk, dan pemerintahan) setelah Kupang sebagai ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur. Jika dibandingkan Kefamenanu, Soe, Atapupu atau Wini di Atambua ini memang terlihat lebih hidup dengan berbagai aktivitasnya. Bahkan tanggal 27 Desember 2016 lalu Presiden Joko Widodo meresmikan pos lintas batas di Mota’ain, Kabupaten Belu yang menjadikan lokasi perbatasan ini semakin mudah untuk dikunjungi.
Akses menuju Atambua terbilang mudah dengan jalan raya yang tak kalah jika dibandingkan jalan yang ada di Pulau Jawa. Ada bis umum dari Kota Kupang menuju Kota Atambua yang ditempuh sekitar 8-9 jam perjalanan. Uniknya, bis di Pulau Timor ini bisa menjemput dan menurunkan penumpang sampai di depan rumah. Sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan hijau bukit yang tertata rapi. Perpaduaan biru laut dan langit bisa dinikmati secara gratis.
Tetun merupakan bahasa yang digunakan oleh mayoritas masyarakat yang tinggal di Atambua. Sebagai ibukota dari Kabupaten Belu, masyarakat Atambua terdiri dari beragam sub-etnis dan budaya. Termasuk mereka yang berasal dar Timor Leste sebagai penduduk eksodus.
Mayoritas penduduk Kota Atambua beragama Katolik, di mana Atambua juga merupakan sebuah Keuskupan. Keuskupan Atambua adalah salah satu keuskupan di Indonesia yang persentasi penganut Katoliknya sangat tinggi yakni 95% dari total jumlah penduduknya. Wilayah Keuskupan Atambua mencakup seluruh wilayah Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara.
by Nacota Yeshida Sapahuma
Atambua, 27 April 2017
Email: [email protected]
IG: @nacotayeshida









