Intens.id, Makassar – Di balik kedalaman Danau Matano yang sunyi di Sulawesi Selatan, tersimpan narasi besar tentang peradaban awal Nusantara yang sempat meredup dari catatan sejarah tertulis. Guna me...

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from South Africa
seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from Ireland

seen from United Kingdom
seen from United States
Intens.id, Makassar – Di balik kedalaman Danau Matano yang sunyi di Sulawesi Selatan, tersimpan narasi besar tentang peradaban awal Nusantara yang sempat meredup dari catatan sejarah tertulis. Guna me...
(3) The Untold Truth
Pawai Budaya Pembukaan Pesta Kesenian Bali
Pesta Kesenian Bali tahun 2025 hadir dengan semangat melestarikan warisan budaya serta merayakan kreativitas para seniman dari seluruh penjuru Bali. Mengusung tema “Jagat Kerthi: Loka Hita Samadaya, Harmoni Semesta Raya”, festival ini menjadi wujud nyata upaya pemuliaan semesta dan keseimbangan kehidupan melalui karya seni yang memukau. Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan festival seni tahunan…
SEBUAH momentum penting dalam hubungan kultural dan sastra antara Indonesia dan Jerman kembali terukir. Bertempat di Perpustakaan Habibie &
SEBUAH momentum penting dalam hubungan kultural dan sastra antara Indonesia dan Jerman kembali terukir. Bertempat di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, secara resmi diselenggarakan peluncuran buku ‘Antologi Puisi Agung Jerman’.
Karya literatur monumental itu merupakan hasil kurasi dan penyuntingan dari duet sastrawan lintas negara, Agus R. Sarjono (Indonesia) dan Berthold Damshäuser (Jerman).
Hadir dalam acara tersebut Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste; Direktur Goethe-Institut Jakarta, Constanze Michel, serta sejumlah penyair.
Menurut Dr.Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA., kehadiran buku itu diharapkan mempererat pemahaman emosional dan intelektual antar kedua bangsa melalui para pemikir besar Jerman.
Perekat Intelektual Bangsa
Ilham Habibie juga menekankan bahwa hubungan antara Indonesia dan Jerman tidak hanya dibangun di atas pilar teknologi dan ekonomi, melainkan kebudayaan.
Ngopi Boleh, Ngebul Silakan, Lupa Tuhan Jangan: Refleksi Budaya Kopi, Interaksi Sosial, Dan Spiritualitas Dalam Kehidupan Masyarakat Muslim Indonesia
SURAU.CO – Abstrak, Budaya minum kopi telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam berbagai komunitas, aktivitas ngopi sering kali tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi sarana interaksi sosial dan refleksi spiritual. Artikel ini bertujuan mengkaji hubungan antara budaya kopi, interaksi sosial, dan praktik zikir dalam perspektif…
ADWITI Resmi Berdiri di Bali, AWK Dorong Wisata Spiritual Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat
DENPASAR – Anggota DPD RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, S.E., M.Si. (AWK), yang juga dipercaya sebagai Dewan Kehormatan ADWITI menegaskan kehadiran Asosiasi Dharma Wisata dan Tirta Yatra Indonesia (ADWITI) di Bali menjadi momentum baru dalam pengembangan wisata spiritual yang mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Untuk itu, ADWITI berupaya memperkuat…
View On WordPress
Dampak Letusan Tambora dan Sejarah Kerajaannya
Sejarah Kerajaan Tambora: Dari Kejayaan Hingga Letusan Dahsyat Kerajaan Tambora, sebuah kerajaan yang terletak di daerah sekitar Gunung Tambora, memiliki sejarah yang menarik dan penuh liku. Meskipun terkenal karena letusannya yang sangat mengubah iklim dunia, kerajaan ini juga menyimpan banyak kisah yang layak untuk diketahui. Mari kita telusuri lebih dalam tentang sejarah Kerajaan Tambora. Letusan Gunung Tambora yang terjadi pada tahun 1815 menjadi salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah. Diperkirakan, letusan ini menewaskan sekitar 1 juta orang di berbagai belahan dunia. Dengan kekuatan ledakan yang setara dengan 1.000 megaton TNT, letusan ini jauh lebih besar dibandingkan letusan Gunung Krakatau. Suara ledakan bahkan terdengar hingga 2.500 kilometer jauhnya, dan abu vulkanik menyebar sejauh 1.300 kilometer. Peristiwa ini tidak hanya mengubah lanskap lokal, tetapi juga mempengaruhi iklim global selama bertahun-tahun. Namun, sebelum letusan tersebut, Kerajaan Tambora telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Diperkirakan berdiri pada abad ke-16, kerajaan ini muncul pada masa-masa ketika Majapahit mulai runtuh. Kerajaan Tambora berperan aktif dalam berbagai konflik, termasuk perang melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang merupakan perusahaan dagang Belanda. Dalam salah satu catatan, disebutkan bahwa Tambora terlibat dalam perang Buton yang menyebabkan rajanya diusir ke Maluku pada tahun 1665. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1675, Kerajaan Tambora berhasil merampas sebuah kapal VOC, yang berujung pada hukuman dari Belanda. Raja Tambora saat itu, Kalongkong, terpaksa menyerahkan keris pusaka kepada pihak Belanda sebagai bentuk penalti. Untuk mengurangi kekuatan Tambora, Belanda kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Pekat yang berada di bawah kendali Raja Insshied. Perjalanan sejarah Kerajaan Tambora terus berlanjut. Pada tahun 1687, Raja Jamaluddin meninggal dan digantikan oleh putranya, Nita-Anuddin. Namun, konflik terus berlanjut. Pada tahun 1687, terjadi perang antara Dompu dan Tambora yang memaksa Tambora untuk menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Dompu. Setelah kematian Abdurrachman, putranya, Raja Kadinding, diusir oleh Raja Makasar yang mengklaim dirinya sebagai Abdul Said dan mengambil alih kekuasaan di Tambora. Konflik antara Tambora dan Pekat kembali terjadi pada tahun 1750 dan 1757. Perselisihan juga muncul pada tahun 1799 antara Dompu dan Tambora, yang mengharuskan Kompeni untuk mematuhi keputusan yang telah diambil sebelumnya. Raja Tambora yang menjabat saat itu, Abdul Rasyid, meninggal dan digantikan oleh anak angkatnya, Abdul Gafur. Kerajaan Tambora dikenal sebagai kerajaan yang makmur, terutama dalam sektor pertanian dan peternakan. Pada tahun 1806-1807, hasil pertanian dan ternak, termasuk kuda, banyak diproduksi di Tambora. Penduduknya pun mengalami pertumbuhan yang signifikan, dari 4.000 jiwa pada tahun 1808 menjadi 8.000 jiwa pada tahun 1815. Namun, letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 membawa malapetaka bagi kerajaan ini. Sekitar 30 jiwa dari penduduk Tambora tewas akibat letusan tersebut. Sayangnya, bencana tidak berhenti di situ. Pada tahun 1816, banjir lahar melanda daerah tersebut, menyebabkan banyak korban jiwa dan mengakhiri eksistensi Kerajaan Tambora. Sejak saat itu, wilayah Tambora menjadi bagian dari kerajaan Dompu. Kisah Kerajaan Tambora adalah pengingat akan kekuatan alam dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Meskipun banyak yang telah hilang, sejarahnya tetap hidup dalam ingatan dan menjadi bagian penting dari warisan budaya di Nusa Tenggara Barat. Sejarah Kerajaan Tambora adalah cermin dari perjalanan panjang yang penuh tantangan, konflik, dan perubahan yang tak terhindarkan. Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom