Kekinian: Identitas Generasi Milenial?
Foto di atas adalah empat kawanan yang kebetulan sedang bermain seluncur es di sebuah pusat perbelanjaan. Kami berusaha membentuk sebuah bintang dengan kaki berbalut sepatu khusus seluncur es dan mengambil gambarnya dari atas.
Saya dan teman-teman saya yang lahir pada tahun 1996 sering disebut termasuk generasi milenial, yaitu generasi yang lahir pada periode sekitar tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi kami sering pula disebut generasi Y yang dikenal dengan pengguna teknologi modern berkat dukungan dari perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga terkenal malas dan narsis. Banyak pula tren baru yang berkembang pada generasi milenial, seperti berswafoto yang memunculkan tongkat narsis atau tongsis, mengunggah beragam foto dan memperbarui (update) segala macam media sosial, hingga peralihan dari kertas ke layar untuk mengurangi penggunaan kertas.
Hal-hal tersebut kemudian menjadi identitas generasi Y yang membuat saya mempertanyakan keterkaitan berbagai tren tersebut dengan praktik yang dilakukan teman-teman di sekitar saya. Apakah benar salah satu identitas kami yang tercermin dari kebiasaan itu memang kami buat atau buatan orang lain yang kemudian menempelkannya pada kami? Saya sendiri dan teman-teman saya cukup sering melakukan tren yang ada di permukaan tanpa mengetahui asal usul dan alasan yang tepat kenapa melakukan tren itu sendiri. Uniknya, ide foto di atas pun diambil saat salah satu teman saya berinisiatif untuk membentuk bintang yang kemudian diunggah agar menjadi ‘kekinian’. Apa benar generasi milenial yang membentuk tren yang kemudian disebut kekinian, atau orang di luar generasi kami dan media yang sebenarnya membentuk kami sedemikian rupa sehingga mayoritas dari kami ingin menjadi kekinian? Sebenarnya siapa yang bisa menentukan hal apa yang bisa menjadi representasi generasi milenial sehingga dijadikan salah satu identitas generasi kami?
Menurut saya jika identitas tersebut dibuat oleh kami sendiri, tentu saja awalnya hanya ada kelompok kecil yang memulainya dan kemudian menyebarluaskan hal tersebut hingga menjadi tren dan dilakukan banyak orang. Tetapi apa yang membuat sekumpulan orang tersebut menjadi representatif bagi generasi milenial yang lain? Di sisi lain, jika identitas yang ada merupakan label dari generasi lain, hal-hal yang kami lakukan bisa jadi sebenarnya bukan original dari generasi kami sendiri. Besar kemungkinannya jika sebenarnya tren tersebut lebih dulu ada sebelum dijadikan kebiasaan oleh para generasi milenial, yang kemudian akhirnya dijadikan kebiasaan oleh generasi ini. Jika tren tersebut adalah hal yang positif maka akan baik-baik saja dan tidak bermasalah, tetapi jika tren tersebut cenderung negatif maka hal ini yang bisa menimbulkan masalah. Misalnya saja tren mendaki gunung bersama kelompok kecil yang kemudian juga dimanfaatkan untuk berswafoto, terkadang sembari membawa tulisan untuk seseorang dari ketinggian tertentu. Awalnya hal ini berdampak positif karena dengan mendaki gunung berarti berolahraga, tidak hanya duduk bermain game dan menatap layar seharian (yang juga merupakan kebiasaan buruk generasi milenial yang dikenal banyak orang), lalu swafoto yang diunggah ke media sosial juga menjadi sarana promosi gratis tentang wisata alam tersebut yang mendatangkan banyak keuntungan. Namun ternyata tren ini juga membawa dampak buruk seperti banyaknya generasi milenial yang nyawanya terenggut saat berswafoto karena kurang memperhatikan keadaan sekitar, banyak pula yang kurang mengerti pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar saat mendaki gunung sehingga mereka meninggalkan banyak sampah dan menganggu keseimbangan alam. Jika sudah terkena label negatif seperti ini, sebagian orang akan berusaha memperbaiki tetapi ada pula sebagian orang yang lain yang malah tetap melakukannya karena berpikir, “Toh orang lain sudah melabeli negatif”, jadi tidak ada pilihan lain selain melanjutkan saja apa yang sudah terlanjur. Hal inilah yang sebisa mungkin sebaiknya dihindari. Identitas suatu generasi pun menurut saya tidak bisa disamaratakan, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tetap ada garis besar yang sama. (578 kata)
Daftar Referensi
Hall, Stuart. 1997. “The Work of Representation” dalam Stuart Hall (ed.) Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: The Open University Press.
Keningar, Indy. Millennial: Generasi Narsis, Gila Gadget dan Manja? 4 September 2015. 4 November 2016 <http://global.liputan6.com/read/2309368/millennial-generasi-narsis-gila-gadget-dan-manja>.
Stein, Joel. Millennials: The Me Me Me Generation. 20 Mei 2013. 4 November 2016 <http://time.com/247/millennials-the-me-me-me-generation/>.












