(via https://www.youtube.com/watch?v=XH3xPLNs0ao)
seen from China
seen from France
seen from Germany
seen from United States
seen from Japan
seen from China
seen from China

seen from Poland
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brazil

seen from Malaysia
(via https://www.youtube.com/watch?v=XH3xPLNs0ao)
Berlibur Plus Mengenal Sejarah Manusia Di Museum Sangiran Solo
Mendengar istilah belajar sambil bermain pasti sudah biasa, tapi sekrang kita ganti istilah itu dengan berlibur sambil belajar. Bukan belajar di dalam kelas, tepatnya mengenal sejarah manusia di museum. Sepertinya asik bukan?
Kamu tentu saja pernah menyebut nama Pithecantropus erectus? Atau Homo Erectus? Atau Sangiran? Atau manusia purba? Tentu saja, karena dalam pelajaran sejarah kita juga diajari tentang kehidupan manusia purba. Di Sangiranlah pertama kalinya rahang bawah dari Pithecantropus erectus ditemukan oleh seorang arkeolog dari Jerman bernama Profesor Von Koenigswald.
Dari pada hanya melihat gambarnya, bagaimaan kalau kita pergi langsung ke sana? Tapi, sebenarnya, dimana itu Sangiran? Sangiran adalah sebuah pedalaman yang berada di kaki Gunung Lawu dan jaraknya sekitar 17 km ke arah utara dari kota Solo, atau berjarak 3 km dari Jalan Solo-Purwodadi. Jadi, kira-kira diperlukan waktu selama 20 – 30 menit perjalanan dari Solo.
Hanya saja, Museum Manusia Purba Sangiran secara adminisitratif berada di Desa Krikilan Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Letaknya yang berdekatan dengan kota Solo-lah yang menjadikan museum manusia purba ini seperti menjadi satu paket perjalaan wisata bagi anak-anak sekolah atau wisatawan yang ingin tahu lebih banyak tentang arkeologi.
Di Museum Manusia Purba Sangiran, kamu akan disuguhi berbagai macam hal menarik dan misteri yang akhirnya terungkap. Sebagai tempat yang dipercaya menjadi situs manusia purba terbesar di Asia, fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran pun telah banyak memberi informasi dan pelajaran bagi kita tentang bagaimana gambaran kehidupan masa lalu.
Bahkan, dengan mempelajari dan melakukan penelitian terhadap fosil manusia purba yang ada di Sangiran, hasilnya sangat menakjubkan karena kita menjadi tahu lebih banyak tentang sejarah kehidupan manusia purba, habitat, binatang yang hidup saat itu, pola kehidupan dan tentu saja bentang alam yang terjadi sekitar 2 juta tahun lalu.
Koleksi apa sajakah yang ada di Museum Manusia Purba Sangiran ini? Untuk manusia purba, museum ini mempunyai banyak koleksi yang dipamerkan, seperti Homo sapiens, Pithecanthropus erectus, Australopithecus africanus, Homo Neanderthal Asia, Pithecanthropus soloensis, dan Pithecanthropus modjokertensis. Sedangkan koleksi hewan bertulang belakang yang dimiliki oleh Museum Manusia Purba Sangiran adalah Cervus sp (rusa), Rhinocerous sondaicus (badak), Mastodon sp (gajah), Bovidae (banteng, sapi), Sus sp (babi), Elephas namadicus (gajah), Felis palaejavanica (harimau), serta Bubalus palaeokarabau (kerbau).
Selain itu, Museum Manusia Purba Sangiran juga mempunyai banyak koleksi fosil binatang air, misalnya Foraminifera dan Chelonia sp (kura-kura), Hippopotamus sp (kuda nil), Crocodillus sp (buaya), Moluska (kelas Gastropoda dan Pelecypoda), serta hewan air lainnya. Disana, ada juga batuan yang bernama Agate, Kalsedon, dan Rijang. Sedangkan fosil tumbuhan laut yang dimiliki museum ini bernama Diatomit. Dan terakhir tentu saja berkaitan dengan alat-alat yang digunakan oleh manusia purba untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti serut, serpih, kapak penetak, bola batu, bilah, dan kapak perimbas.
Museum Manusia Purba Sangiran ini buka pada hari Selasa – Minggu pukul 09.00 – 16.30 WIB, dengan harga tiket masuk Rp. 3.00/orang untuk wisatawan domestik, Rp. 7.500/orang untuk wisatawan mancanegara, untuk penelitian Rp. 50.000 dan Rp. 2.000 untuk Ruang Audio Visual (minimal 25 orang). Semua koleksi yang berasal dari jaman purba itu dipamerkan di museum dan kamu pun bisa menyaksikannya di sana. Dan setelah puas melihat-lihat koleksi yang ada, sekarang tiba saatnya untuk berbelanja souvernir yang banyak dijual di kios-kios di depan museum. Menarik bukan? Selamat berlibur.
Mau Sensasi Liburan di “Rumah Raja”? Ke Taman Sriwedari Solo Yuk!
Kamu yang berencana liburan ke Kota Solo, harus meluangkan waktu untuk mengunjungi salahsatu tempat bersejarah di Solo, Taman Sriwedari. Disebut bersejarah karena taman ini dibangun tahun 1800an, tepatnya diresmikan pada 1 Januari 1902.
Pada awalnya, Taman Sriwedari merupakan tempat rekreasi dan peristirahatan bagi keluarga kerajaan pada masa Raja Pakubuwono X. Pembangunan tempat ini terinspirasi mitos tentang keberadaan sebuah taman di surga. Taman Sriwedari terletak di Jalan Slamet Riyadi Nomor 275 Kota Solo.
Di bagian depan Taman Sriwedari terdapat pendopo untuk pertunjukan kesenian. Tepat di depan pendepo ini, terdapat patung Rama dan Sinta. Patung yang terinspirasi dari salah satu fragmen sendratari Ramayana dibuat sebagai perayaan 100 tahun Taman Sriwedari pada tahun 2002.
Tempat lain di kawasan ini yang sering digunakan sebagai tempat pertunjukan adalah Gedung Wayang Orang. Seperti namanya, bangunan ini merupakan tempat pertunjukan kesenian khas Solo, wayang orang. Gedung pertunjukan ini pernah mengalami pemugaran pada tahun 1994. Pertunjukan wayang orang di tempat ini digelar secara rutin dari Hari Selasa hingga Sabtu. Mulai dari jam 20.00 WIB hingga jam 23.00 WIB. Tiket masuk menonton pertunjukan ini Rp3.000.
Selain itu, di dalam Taman Sriwedari, juga terdapat berbagai kios yang menawarkan aneka benda seni hingga budaya, jadi kamu bisa sekalian beli oleh-oleh buat keluarga ya. Datang ke tempat ini, kamu bisa menemukan kios yang menjual lukisan, wayang, dan sebagainya. Selain itu, di kios yang lain, kamu juga dapat menjumpai penjual kuda lumping, aneka kerajinan dari bambu, dan kerajinan lain.
Selain itu, pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada malam ke-21, Taman Sriwedari menjadi tempat penyelenggaraan Malem Selikuran. Malem Selikuran merupakan salah satu tradisi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan masyarakat Solo untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Pada malam ini, dilakukan kirab yang membawa 1.000 tumpeng dari halaman Keraton Kasunanan menuju Taman Sriwedari