Sorotan sebuah kata kesetiaan untuk kebanggaan
Matahari tengah beranjak naik ke angkasa untuk kembali memberikan sinarnya kepada makhluk alam tanpa terkecuali. Ahh.. sudah pagi rupanya, beginilah sebuah ucapan yang mengawali paginya seorang single melankolis tanpa pasangan sebagai penyemangat. Memilih melanjutkan tidur memang sungguh nikmat tiada tara setelah semalam ia menyaksikan dan menjadi saksi langsung dari sebuah kejayaan klub yang menjadi kehormatan kota besarnya.
Terlepas dari kepenatannya, simon (julukannya) tengah menikmati libur semester yang telah ia dambakan sejak awal masuk semester, dalam fikirannya hanya tidur yang mampu mewujudkan keinginannya, ahh.. apalah itu, intinya pagi ini ia ingin memberikan tubuhnya istirahat total karena nanti malam ia ingin menghadiri jamuan makan malam serta diskusi ringan komunitasnya.
Waktu terus berlalu, Simon masih tertidur pulas dengan mimpinya yang tengah asyik menyaksikan kebanggaan bersama para bidadari cantik yang ada dalam angannya, tiba-tiba getar alarm telepon genggamnya berdering seakan mengisyaratkan dia harus segera bangun untuk mengikuti jamuan makan yang sudah ia rencanakan pagi tadi.
Setelah bersiap diri, Simon berangkat dengan kuda besi yang setiap hari selalu setia menemani Simon kemanapun ia pergi. Sesampainya di lokasi dia berdecak kagum, meriah sekali rasanya ingin sekali cepat-cepat makan dan bercengkrama dengan saudara satu kebanggaan batin Simon. Ia yang sejak pagi tidak mengisi amunisi dalam perutnya tampa ingin melahap semua yang ada di meja saji, namun apa daya kawan dekatnya Bondan menyapa dan mengajaknya bercengkrama hingga gagal lah niatnya untuk melahap habis jamuan makan dan lebih memilih bercengkrama dengan kawan baiknya tersebut.
Diketahui, Simon dan Bondan sangatlah akrab hubungan mereka jauh melebihi ikatan darah, mereka dipersatukan oleh tribun yang sama saat sebelumnya mereka membela kebanggaan yang berbeda. ya, Bondan merupakan bagian dari komunitas pejuang kebanggaan yang menjadi lambang kehormatan kota Pahlawan. Simon dulu merupakan supporter dari tanah sunda, namun saat ini ia juga merupakan pendukung kebanggaan dari kota Pahlawan. Seperti dikabarkan kedua klub besar ini memang merupakan saudara dekat, jadi wajarlah bila Simon dan Bondan terlihat akur dan sangat akrab.
Manusia, tidak semuanya memiliki cara pandang yang sama, ada yang pro dan ada yang kontra, Pada malam itu, dalam kondisi setengah sadar terjadi diskusi ringan yang begitu membingungkan dan seketika membuat Simon harus berfikir keras. terlontar beberapa pertanyaan yang cukup membuatnya kehilangan akal untuk membuatnya kukuh dalam pendiriannya.
Sebuah Kesetiaan, ya.. Kesetiaan setia, tidak mendua, atau lebih namun terfokus pada satu arah tujuan hakikatnya. Jujur saja mencintai sebuah kebanggaan memakai hati dan jiwa melebihi mencintai pasangan -yaa itulah kenapa gue jomblo sampe saat ini, wkwkkwkwk- . Jika kamu saja tidak rela diduakan, mengapa kamu menduakan kebanggaan kami? kami tidak pernah memberikan larangan bahwa kamu turut bangga atas kebanggaan kami, namun dimana rasa memilikimu sebenarnya? Jika kamu dipertemukan dalam satu tribun yang sama, chant mana yang akan kau nyanyikan?
Ini bukan sebuah batasan maupun tuntutan, ini hanya sekedar pertanyaan dimana bukti setia yang dijanjikan untuk kebanggaan, jika memang tidak bisa setia, setidaknya jangan mengikat janji, cukup nikmati alurnya tanpa harus kau berteriak bahwa kamu turut mengikrarkan diri menjadi pendukung saat jatuh maupun berjaya.
Simon terdiam.. suasana hening, ia merasakan apa yang ada dalam pikiran saudaranya itu... Dia terdiam, terus terdiam sembari merenungkan.. ya, tanah sunda menjadi cinta pertamaku, dimana sejak kecil darah sunda mengalir dan mengiringi segala rutinitasku.. namun aku dibesarkan disini kota dengan rasa tersendiri yang bermentalita wani, dan jujur dalam hati aku memilih mencintai ini dibandikan ia. Apakah salah jika aku harus meninggalkan salah satu demi kata setia? Apakah dosa bila aku tetap menggenggamnya dan enggan untuk melepaskannya? lalu, siapa yang harusnya ku pertahankan?
Tak terasa jarum jam telah menunjukkan waktu dini hari, ia harus kembali pulang dalam perjalanan ia masih saja memikirkannya, maka kesimpulannya... silahkan beri saya saran wkwkwkwk :D