“insya Allah” vs “insha Allah”
Manakah penulisan yg benar; insya Allah atau insha Allah?
Dulu, sebelum adanya media sosial (blog, facebook, twitter, dll) kita sudah terbiasa menulis kalimat arab “إن شاء الله” dengan “insya Allah”. Namun beberapa waktu lalu muncul kontroversi karena tulisan seorang ulama asal Inggris yg menyatakan bahwa tulisan yg benar adalah “insha Allah”. Lalu, manakah yg benar?
Sebelum membahas itu, mari kita kenali dulu apa yg dimaksud dengan alih makna (translation) dan alih aksara (transliteration). Alih makna atau penerjemahan adalah mengalihkan makna atau arti dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Contohnya, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, kata “you” (Inggris) berarti “kamu” (Indonesia). Alih aksara adalah mengalihkan huruf dari satu sistem tulisan ke sistem tulisan lainnya. Contohnya, dari sistem huruf Cyrillic (bahasa Rusia, misalnya) ke sistem huruf Latin (bahasa Inggris, misalnya), huruf “В” (Cyrillic, Rusia) menjadi “V” (Latin, Inggris). Alih aksara biasanya mengacu pada bunyi huruf asal disesuaikan dengan bunyi pada huruf tujuan, walaupun tak selalu demikian. Perlu dicatat bahwa transliterasi tak harus 1:1 karena bisa saja satu aksara di sistem huruf asal dialih-aksarakan menjadi 2 aksara (atau lebih) di sistem huruf tujuan. Contohnya, huruf “Я” dalam bahasa Rusia dialih-aksarakan menjadi “ya” dalam bahasa Inggris.
Di setiap bahasa, baik alih makna atau alih aksara mempunyai kaidah baku yg berlaku formal. Dalam bahasa Indonesia, kaidah baku yg berlaku mengacu pada EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yg diatur oleh beberapa peraturan dari kementrian atau departemen pemerintah yg terkait. Peraturan-peraturan EYD mengatur banyak hal, mulai dari baku ejaan, tata bahasa, metode penulisan, dan sebagainya. Beberapa contoh peraturan EYD misalnya: Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan; Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 146 Tahun 2005 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Pembentukan Istilah; Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K No. 158 Tahun 1987 tentang Panduan Alih Aksara Dari Huruf Arab Ke Latin Dalam Bahasa Indonesia; dan masih banyak lainnya. Dan tentu saja Kamus Besar Bahasa Indonesia resmi. Rincian setiap aturan-aturan EYD bisa dibaca di situs pemerintah terkait atau di Wikipedia, tak cukup jika semuanya dijelaskan di sini.
Nah, kembali ke topik utama, manakah penulisan yg benar; “insya Allah” atau “insha Allah”? Jawabannya, tergantung bahasa mana yg digunakan. Jika berdasarkan kaidah baku alih aksara dalam bahasa Inggris, maka penulisan yg benar adalah “insha Allah”. Hal ini karena kaidah baku transliterasi dalam bahasa Inggris, huruf ش ditulis sebagai “sh”. Jadi, ulama Inggris yg menganjurkan penulisan “insha Allah” itu benar karena beliau berbahasa Inggris. Namun, jika menggunakan bahasa Indonesia, maka penulisan yg benar adalah “insya Allah”. Hal ini karena dalam kaidah baku transliterasi dalam bahasa Indonesia, huruf ش ditulis sebagai “sy” (syin) bukan “sh”. Yg ditulis dgn “sh” dalam bahasa Indonesia adalah huruf ص (shad), sehingga jika kita menuliskan “insha Allah” justru malah salah secara bunyi dan makna. Dengan demikian, kebiasaan kita terdahulu itu sudah benar adanya.
Lebih lengkap tentang aturan transliterasi huruf Arab-Indonesia bisa dibaca pada laman Wikipedia berikut ini.
Jadi, ini bukan tentang ilmu bahasa Arab, apalagi ilmu agama, melainkan ilmu bahasa Indonesia. Dari kasus ini ada dua hikmah yg bisa kita ambil. Pertama, kita (termasuk saya juga) masih perlu lebih memahami bahasa Indonesia, bahasa kita sendiri. Ternyata masih banyak di antara kita yg belum paham bagaimana aturan transliterasi yg benar sesuai EYD sehingga kebingungan mana penulisan yg benar. Kedua, kita harus jeli dalam melihat suatu permasalahan, pahami lingkup dan konteks masalah. Tak semua yg datang dari barat, bahkan dari ulamanya sekalipun, itu dijamin benar. Perlu kita kaji sesuai lingkup dan konteksnya. Kaidah penulisan itu lingkup dan konteksnya adalah bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia, bahasa kita sendiri; bukan agama. Kita seharusnya lebih paham hal ini daripada seorang ulama Inggris.
Andai misalnya ada ulama asal Rusia menyatakan bahwa penulisan “إن شاء الله” yg benar adalah "инша Алах”, apakah kita juga akan ikut-ikutan menulis demikian? 😊
Semoga bermanfaat.









