Mozaik 1: Menulislah karena hati
Sejak kapan kamu suka menulis?
Mungkin sejak kamu bahagia menemukan bentuk-bentuk abjad, lalu kamu berlatih corat coret di atas kertas. Sampai hari ini, kamu terus menulis. Tak apa jika, tulisan-tulisanmu belum bermakna bagi orang lain. Kamu boleh sekali waktu, nanti kalau tulisanmu sudah berlembar-lembar, tengoklah: bahwa setiap tulisan: bertumbuh.
Seperti niat-niat baik yang senantiasa menyertainya. Mungkin awalnya karena apresiasi orang lain. Namun, bukankah apresiasi akan hilang? Maka, saat itu terjadi: tetaplah menulis, karena hati. Ia akan jadi musabab dari hal-hal yang munculnya dari hati akan sampai pula pada hati yang lain.
[Pagi hari, di sudut musala syaqeela. 25/6/24]












