Pelajaran Tentang Meminta Maaf
Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan yang telah kita lakukan dan setelahnya berupaya untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi bagi beberapa orang, meminta maaf hanyalah formalitas belaka. Meminta maaf bukanlah perbuatan yang hina. Meminta maaf juga tidak hanya dilakukan oleh sesama, misalnya antara orang dewasa dengan orang dewasa, dan anak-anak dengan anak-anak. Berapa banyak dari kita yang ketika berbuat salah dengan yang lebih muda akan membuat kita enggan meminta maaf?
Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja menyinggung perasaan seorang anak kecil. Tiba-tiba gadis ini menangis sesenggukan, “mengapa menangis, Nak?” tanya saya hati-hati. Dia tidak menjawab dan tetap menangis. Lalu tiba-tiba dia pergi keluar kamar dan menemui ibunya. Saya masih kebingungan dan mencoba merayunya untuk belajar. Setelah dipaksa ibunya, gadis kecil ini pun akhirnya keluar dan menemui saya.
Di tempat duduknya, dia masih saja diam. Sesekali mencoret-coret kertas dengan pulpen. Saya memandangi wajahnya dan mengusap lembut kepalanya. “Ade, marah ya? Aku minta maaf ya kalau bikin ade marah.” Tanyaku dengan wajah memelas. Gadis kecil ini masih saja tidak mau buka suara, coret-coretannya semakin banyak. Saya memilih diam juga untuk beberapa waktu, saya pun meredam emosi dengan beristighfar.
Emang enak apa diusir gitu? Aku kan ga ngapa-ngapain, apa salah aku Cuma nyanyi-nyanyi kayak gitu? Kan bisa bilang baik-baik kalau mau ngomong sama Kakak, gausah aku diusir dong.
Saya membaca tulisan itu di kertas yang berada persis di depan saya. Rupanya gadis kecil ini malas bicara dan memilih menulis sebagai tanda kekecewaannya. Seketika itu juga saya terkejut dan terdiam, saya berusaha mengingat perkataan yang mana yang dianggap gadis kecil ini sebagai kalimat mengusir.
“Tadi aku ga maksud ngusir Ade. Kan tadi udah bilang baik-baik kalau aku mau ngobrol dulu sama Kakak, Ade ga boleh denger.” Kata saya perlahan-lahan. Dari pipinya mengalir tetasan air mata.
“Aku minta maaf ya, De. Maaf kalau ade tersinggung sama kata-kata aku tadi. Maksudnya bukan mau ngusir.” Kata saya lagi. ”Di maafin, gak?” tanya saya sambil mengulurkan jari kelingking sebagai tanda permintaan maaf.
Gadis kecil ini masih diam saja, tapi mulutnya mulai terbuka, lalu beberapa menit kemudian keheningan di antara kami pun pecah.
“Tapi Kakak harusnya ga ngomong kaya gitu, kan ga enak diusir gitu.” Ujarnya.
“Iya, De. Aku minta maaf ya. Baikan, yuk?” pintaku.
Setelah melalui drama-drama merayu anak kecil, akhirnya gadis kecil ini memaafkan saya dan kembali ceria dan menyanyi riang seperti sedia kala.
Dari kisah ini saya belajar bahwa manusia seringkali tidak sadar kalau perkataan dan perbuatannya menyingggung dan menyakiti hati orang lain.
Kita seringkali harus ditegur dan diingatkan kalau hal-hal yang kita katakan dan lakukan tidak tepat. Kita selalu butuh orang lain untuk mengingatkan. Jangan marah jika diingatkan. Mungkin selama ini kamu telah lalai.
Ketika berbuat salah, meminta maaflah dengan tulus, dan berupayalah untuk tidak mengulanginya lagi. Kepada siapapun kamu berbuat salah; anak kecil dan orang dewasa, meminta maaflah. Jangan malu meminta maaf, dan jangan lelah memaafkan