Seperti Kamu..
Kamu,
Manusia tidak berperasaan yang terlalu kuberikan perasaan, yang mampu meninggalkan setelah memberi rasa yang tidak tertinggal, yang mampu melukai tanpa mampu mengobati.
Apa esensi seperti kamu?
Tidak pernah terukir dalam tutur hidupku untuk seperti kamu.
Harus ku ikuti atau harus ku akhiri? Cerita bandara dari “menjadi manusia” tetap menjadi sebuah pilihan.
Pilihan memanusiakan aku atau hidup dimanusiakan dia? Tersiksa? Sungguh.. Tapi bagaimana bila siksaan itu begitu nikmat hingga “adiktif” adalah kewajiban menggambarkan siapa kamu?
Diatas terjawab kenapa aku tergila, tapi disini aku menjawab karena penasaran, terpermainkan duniaku hingga tidak berpaling kedunianya. Hingga tulisan ini dibuat aku masih mengindahakan siksaan itu tanpa ada perlawanan.
Terima Kasih untuk mengajarkan aku agar tidak seperti kamu..












