Kemarin pertama kali ikut jualan di holy market. Holy Market adalah sebuah acara pasar murah yang diselenggarakan dua kali setahun oleh ruangrupa pada bulan Ramadhan dan menjelang Natal. Pasar murah ini menjual berbagai artworks, pernak-pernik cantik, beraneka produk second-hand, plus barang-barang antik. Dari clothing, buku, sampai benda-benda koleksi, seperti: band merchandise, CD, kaset, toys, poster, komik, kamera, pajangan, hingga memorabilia dan benda-benda antah-berantah lainnya. Tahun-tahun sebelumnya gue paling cuma cari barang-barang gaib, nonton band, atau sekedar nongkrong. Holy market juga ada di penggalan kisah percintaan gue dan bini gue hahaha. Dari holy market gue juga liat beberapa teman-teman gue bikin sesuatu dengan senang-senang dan jadi usaha yang bisa diandalkan bahkan serius. Selain itu juga holy market jadi bazar pertama buat Tunion. Oiya Tunion itu adalah proyek mengkomersilkan tuna salad buatan rumah bini gue yang kadang dibuat pas sarapan di dalam kemasan toples kaca 200g.
Setelah beberapa bulan duduk ongkang-ongkang kaki dengan nyaman jualan lewat sosial media akhirnya gue berdua uji nyali (sok) ikutan bazar, karena nyali baru ada dikit makanya ikutan bazar yang diorganisir teman-teman dan yang pasti kita juga tau karakter pengunjungnya. Awal ikutan daftar lumayan deg-degan juga sih. Karena sebelumnya metode jualan kita made by order, jadi gak ada stok tuna salad kalo nggak ada yang pesan, ditambah target jualan kita agak khusus, karena gak semua orang suka ikan dan raw food. Setelah rapat dengan stakeholder akhirnya kita putuskan untuk jual Tunion dalam bentuk sandwich dan formula baru yang diramu bini gue beberapa minggu sebelumnya yaitu tortilla chips dengan Tunion mac mayo dip. Setelah belanja ini itu, bikin ini itu buat holy market ternyata lumayan merogoh kocek juga ya, semakin deg-degan dan pikiran campur aduk. Takut gak laku, kalo gak laku stoknya gak bisa disimpan lama, dan perasaan khawatir lainnya lah. Tapi dengan meminjam penggalan lirik one and only milik Adele… kira-kira begini “I don’t know why I’m scared, I’ve been here before, every feeling, every word, I’ve imagined it all, you never know if you never try…” akhirnya gue dan bini gue tetap optimis dan (sok) tetap tenang.
Akhirnya datanglah holy market. Persiapan peracikan Tunion malamnya agak diwarnai beberapa kendala, gue harus manggung sama band gue jadi gak bisa bantuin banyak, gagang food processor patah, es cooler box gak beku pas pagi mau berangkat, bahan baku kurang lah, drama sedih dan patah hati harus ninggalin Aruna seharian di rumah Datuk. Ditambah lagi perasaan-perasaan takut yang dari kemarin terus ada. Sesampainya di Taman Menteng langsung gerak cepat set up meja, gak ada kendala apapun. Bahkan gak lama lapak siap, pas gue lagi naro beberapa barang gak diperluin ke parkiran pembeli pertama kita datang, kita gak kenal sama sekali, perasaan senang luar biasa pun datang dan kiranya si pembeli pertama jadi mood booster banget, bahkan bini gue langsung ngajak nyebrang ke Sumo Sushi di sebrang Taman Menteng untuk merayakan pembeli pertama. Iya level gila sushi bini gue tuh udah masuk level pshyco bukan crazy fans lagi, bahkan doi yang pengetahuan tempat dan arahnya sangat kacau kalo lewat daerah yang ada restoran sushinya doi bisa tau.
Setelah beberapa porsi terjual, penjualan agak stagnan. Perasaan-perasaan takut datang lagi, bini gue mulai bosan menunggu bengong, sialnya doi lupa bawa buku, akhirnya doi liat-liat lapak lain cari bacaan. Setelah bosen muter-muter gak nemu bacaan doi balik ke lapak. Obrolan kembali ke dagangan, karena menu baru kita Tunion mac mayo mix tortilla chips baru laku satu porsi. Bini gue inisiatif bikin satu porsi buat tester gratis ke pengunjung yang lewat, setelah ditolak tiga orang, mungkin gengsi sebagai perempuan ditolak lalu doi minta gantian gue buat nawarin tester gratis. Akhirnya gue keliling taman nawarin tester sambil bagi-bagi stiker ala spg rokok yang seksi. Beberapa orang yang gue tawarin mau tapi acuh, beberapa tegas nolak, beberapa suka, beberapa suka dan nanya lapak kita, beberapa ternyata mas-mas jualan minuman seduh pake sepeda. Setelah satu porsi tester hampir habis gue balik ke lapak. Beberapa teman mulai datang dan beli dagangan kita, makin sore pengunjung makin ramai. Pembeli yang kita rindukan pun mulai berdatangan sampe bikin kita sibuk dan nyuekin beberapa teman yang nongkrong di sekitar lapak.
Malam datang dan mulai hujan. Pembeli semakin banyak berdatangan bahkan si menu baru yang diragukan penjualannya langsung ludes terjual habis, setelah habis pun pembeli masih terus datang dan menanyakan. Sayang sekali kita cuma bikin dikit, menu sandwich pun kembali menjadi andalan. Karena hujan semakin deras kita terpaksa menggulung kabel dan toaster, beberapa pembeli gak mau sandwichnya gak di panggang. Tetapi masih lebih banyak pembeli yang gak mempermasalahkannya, karena hujan beberapa pembeli jadi nongkrong dan jadi ngobrol. Ada satu orang dari Uni-Eropa di Indonesia yang kebetulan kuliah teknologi pangan sharing dan kasih ide tentang fermentasi, ada yang kasih buku, dan banyak lagi momen yang mungkin kita gak akan temuin kalo kita gak beranikan diri ikut jualan. Oiya dan ternyata Aruna sama sekali gak rewel di rumah Datuk, makannya banyak dan gak susah, laporan dari beberapa foto via whatsapp pun dikirimkan berkala kakak ipar gue yang bantuin menjaga Aruna. Gue dan bini gue lega banget dengarnya sekaligus agak tersinggung… jadi kalo gak ada kita kamu senang ya Aruna hahaha.
Holy market kemarin menjadi momen paling beda dari tiap penyelenggaraannya buat gue dan bini gue. Kemarin kita gak jadi pengunjung dan penikmat acara, bahkan kita sama sekali gak menikmati banyak line up band bagus yang main, gak berburu barang-barang gaib. Meskipun capek banget juga secara bisnis dan matematika kita gak hit BEP. Kita bersyukur dan bahagia banget buat momen dan banyak pengalaman dari kemarin yang gak bisa dibeli. Lagi-lagi kita mengamini kalo rejeki itu sudah diatur dan gak bakal ketukar. Pesan moral dari jualan kemarin buat gue seperti mengaplikasikan kutipan motivasi Andrie Wongso yang sebenernya common sense dan pernah gue liat beberapa kali di timeline sosmed, kira-kira bunyinya “Jangan takut gagal sebelum mencoba, jangan takut jatuh sebelum melangkah, kesuksesan milik orang yang berani mencoba apa yang tidak mungkin seringkali belum pernah dicoba!.” hahaha klise sik tapi iya itu yang gue rasain.
Dipenghujung acara pas gue beberes bini gue menyempatkan diri beli dua CD di lapak Demajors. Mini album orkeslah kalo bergitar Om PMR dan satu lagi gue lupa karena lagunya random abis. Kiranya nomor Time Is Money OM PMR cukup menyentil dan beberapa track cover Naif, Seringai dan Efek Rumah Kaca lainnya juga sangat menghibur perjalanan kita pulang menebus rindu seharian ninggalin Aruna. Coba kasih standing applause dulu buat Chef kesayangan gue yang seharian masak kemarin, gue sih cuma bagian kasir. Terima kasih banyak teman-teman juga semua yang datang, mampir berbagi banyak hal ke lapak Tunion kemarin di holy market Menteng.