Tentang Pandemi COVID-19, Mt. Everest, dan Sungai Indus
Tadi malam, sebelum tidur, saya (menyelesaikan) membaca majalah National Geographic Indonesia edisi bulan Juli 2020. Ada tiga tema besar yang dibahas. Pertama, masih tentang pagebluk COVID-19. Kedua, tentang misteri orang pertama yang berhasil mendaki puncak Mt. Everest. Ketiga, tentang air bersih dari sungai Indus yang ‘diperebutkan’ oleh masyarakat di India, Pakistan, dan Tiongkok.
Tentang pagebluk (wabah/epidemi) COVID-19 yang menggunakan istilah pagebluk membuat saya merasakan efek babak belur setiap kali membaca mendengar kata tersebut. Pada sesi ini disampaikan artikel dari para peneliti virus flu tentang bagaimana mereka memprediksi pagebluk yang akan terjadi. Betapa menyedihkannya menjadi orang yang tahu dan benar sebelumnya, ketika apa yang mereka prediksi meski tidak menyenangkan menjadi kenyataan. Pada level tersebut saya kira, mereka tidak lagi berkata “tuh kan benar apa kata saya”. Hal yang mereka rasakan adalah penyesalan karena sebagai seorang yang berilmu tidak berdampak penuh untuk mempersiapkan. Begitulah ilmu pengetahuan, bila tujuan penelitian tidak begitu praktis, sering kita mengesampingkannya. Masih belum kita anggap serius kerja-kerja dari para peneliti yang berjibaku melihat hal-hal yang tidak bisa kita lihat saat ini. Sama seperti saat ini, kita kelabakan.
Kita tidak dibentuk untuk kenormalan baru ini. Beruntung kita dengan akses teknologi, sehingga pekerjaan dan hubungan sosial lainnya masih bisa diupayakan berjalan. Adalah sebuah kemewahan bagi kita yang bisa menjaga jarak namun terhubung melalui internet. Semoga dengan demikian, pandemi ini tidak menginfeksi jiwa kita karena kebutuhan untuk interaksi sosial masih bisa dicari alternatif caranya. Akan tetapi, perlu empati untuk menyadari bahwa tidak semua bisa melakukan hal yang sama. Semoga di kesempatan berdiam diri dan menjaga jarak, kita bisa memberikan perhatian lebih pada orang tua kita, pada orang-orang satu rumah untuk saatnya mengurangi intensitas aktivitas di luar rumah, dan kembali menyelesaikan apa yang ditunda di antara kita semua.
Tentang Mt. Everest dan pendakiannya. Ada beberapa orang Indonesia, bahkan perempuan luar biasa yang mendaki gunung ini (bahkan gunung lain yang paling tinggi di setiap benua). Sebuah hal yang sulit saya bayangkan karena saya tidak punya ketertarikan yang cukup dalam mengenai ini. Pada segmen ini saya belajar betapa mendaki bukan hanya persoalan bergaya atau membuktikan diri. Saya jadi memahami perlunya orang-orang yang mengambil bagian untuk mendaki untuk menceritakan pengalaman kepada orang-orang seperti saya. Mereka bisa membantu saya memahami apa yang ada di puncak gunung dan bagaimana perjalanan menuju kesana. Saya baru menyadari bahwa Universitas Parahyangan mungkin perlu dipertimbangkan bagi setiap kita yang memiliki ketertarikan pada kegiatan cinta alam. Saya belajar mengenai penyakit ketinggian juga tentang misteri sebenarnya siapa yang pertama kali berhasil mendaki Mt. Everest? Ada prasangka mengenai dua orang pendaki yang sayangnya tidak kembali hidup-hidup, sehingga bukti bahwa mereka adalah orang pertama menjadi abu-abu. Segmen ini juga bercerita tentang Ekspedisi yang dilakukan tim NG untuk meluruskan sejarah.
Terakhir tentang sungai Indus, tentang air bersih. Erat kaitannya dengan situasi pandemi COVID-19 yang mengingatkan kita akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat salah satunya adalah mencuci tangan. Kegiatan ini membutuhkan air, yang sangat banyak. Air bersih adalah lagi-lagi sebuah kemewahan. Dengan perubahan iklim memberikan pengaruh pada pencairan gletser Himalaya yang berpengaruh pada aliran sungai. Air di sungai ini menyokong kehidupan 270 juta orang di tiga negara disebut di atas. Sejak kecil, saya belajar bahwa air adalah sumber daya terbarukan, sehingga saya hingga dewasa tidak bisa membayangkan mengenai kekeringan dan kekurangan air bersih. Begitu mudah hidup saya melihat air bersih yang keluar dari keran hingga saya pikir cukup boros juga saya menggunakan air tanah. Belakangan saya sedikit tercerdaskan agar bisa lebih menghemat air. Ada beberapa strategi yang saya lakukan, namun bisa jadi belum ada perubahan yang sangat signifikan. Air sebagai kebutuhan dasar, sulit rasanya ketika di tengah-tengah mandi kemudian air saya habis sehingga harus diisi kembali. Itu saja sudah membuat saya kesal, padahal tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di daerah kering. Membaca segmen ini membangkitkan semangat saya untuk lebih baik lagi dalam menghemat air. Mengubah pola pikir bahwa air sebagai sumber daya terbarukan, namun air bersih memang perlu dijaga dan diupayakan.
Saya senang tadi malam menyempatkan membaca majalah ini dari halaman pertama hingga akhir. Lagi-lagi ini sebuah kemewahan. Oleh karena itu saya bersemangat untuk membagikan apa yang saya pelajari, semoga ada yang juga bisa belajar dari apa yang saya baca. Semoga kita selalu menjaga kesehatan, berhemat air, dan berlatih senantiasa berempati terhadap apa yang dihadapi orang lain. Semoga kita juga selalu bersemangat belajar sedikit demi sedikit menjaga bumi kita semua.
















