Ulum, mi ángel pelirrojo uwu

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Italy
seen from Italy
seen from Romania

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Indonesia
seen from Australia

seen from Argentina
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
Ulum, mi ángel pelirrojo uwu
Shout-out to improvdnd in chicago
Kobanı eylemlerınde akıbet dakıka kullanılmamıs ulum
Kobanı eylemlerınde akıbet dakıka kullanılmamıs ulum
VAN’da Persembe aksamı mahalle aralarında cıkan olaylarda ateslı sılahla yaralandıgı belırtılen Yunus Aktas tedavı gurdugu Van Bulge Egıtım ve Arastırma Hastanesı’nde yapılan tum mudahalelere ragmen kurtarılamayarak hayatını kaybettı, Aktas’ın ulumu ıle bırlıkte Van’da ulenlerın sayısı 2’yı yukseldı,
BU SABAH ÖLDÜ
Dunden berı hayatın normale dundugu Van’da cıkan olaylarda ulenlerın sayısı 2’ye…
View On WordPress
Pentingnya Kejelasan dalam Keputusan
Pernah merasa menyesal atas keputusan yang telah diambil? Menyesal dan tidak mau lagi mengingat-ingat kejadiannya atau orang-orangnya, pernah?
Tentu saja pernah, mengapa? Karena sel-sel pembentuk diri kita setiap saat selalu mengambil keputusan, kita pun hidup dengan serangkaian pengambilan keputusan, baik kita sadari ataupun tidak kita sadari.
Salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan adalah Clear (Kejelasan). Apa maknanya?
Bila kita analogikan dengan kaca depan mobil, Clear dalam pengambilan keputusan dapat kita sebut sebagai kondisi dimana kaca depan mobil kita bersih. Bila kaca depan mobil kita bersih, keputusan yang diambil saat mengendarai mobil pun kemungkinan besar akan lebih tepat dibanding saat kondisi kaca masih kotor, penuh debu, dan lain sebagainya.
Tapi, tidak hanya kaca depan mobil yang perlu dijaga kebersihannya bukan? Kaca spion juga perlu untuk bersih agar kita bisa menjaga keamanan diri dan penumpang dengan sesekali melihat ke belakang. Kondisi mata kita sendiri pun perlu untuk bersih dan sehat agar tidak terjadi kelalaian selama mengemudi.
Begitu pula dalam pengambilan keputusan. Apapun keputusan yang akan kita pilih, konsep "Clear" setidaknya akan terpaut pada 3 orientasi waktu; masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Pertama, "Clear" di masa lalu. Ini berkaitan dengan emosi. Sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk yang mengkonsumsi emosi, kita pasti telah menumpuk emosi-emosi, baik positif maupun negatif selama bertahun-tahun dari apa yang kita alami sehari-hari. Jernih atau tidaknya perasaan atas apa yang sedang dirasakan akan sangat mempengaruhi pola pengambilan keputusan.
Bila perasaannya baik, keputusannya pun akan baik. Bila perasaannya kacau, keputusannya pun akan kacau.
Jernih memandang masa lalu sangat penting sebelum mengambil keputusan, mengapa? Karena saat kita jernih memandang masa lalu, kita tidak akan lagi terbayang-bayang atau merasa beban karena apa yang sudah terjadi di waktu lampau. Itu "Clear" yang pertama.
Kedua, "Clear" di masa depan. Ini berkaitan dengan pikiran. Dalam Bukunya "Thinking, Fast and Slow", Daniel Kahneman menyebutkan istilah Ilusi. Karena otak kita menyerap informasi setiap saat, maka ketika kita menjelek-jelekkan orang lain, itu akan lebih mudah daripada ketika sedang mengkritik diri sendiri. Kenapa? Karena saat menjelekkan orang lain, muncul ilusi dalam pikiran kita. Dan bila keputusan diambil atas dasar ilusi semata, itu sama artinya dengan men-degradasi, menurunkan fungsi otak kita sendiri.
Contoh Ilusi, saat kita dihadapkan pada sosok "Jambret", seketika yang muncul dalam pikiran adalah bagaimana keseharian tingkah laku si tukang Jambret itu. Meskipun itu adalah saat dimana kita baru pertama kali bertemu dengan sosok "Jambret" itu, tapi kita sudah bisa membayangkan bagaimana pagi harinya, siang harinya si tukang jambret, bagaimana malam harinya.
Mungkin yang kita bayangkan adalah pagi hari dia bangun kesiangan, tidak mandi. Siang hari dia "beroperasi" mencari mangsa, lalu malam hari foya-foya.
Mungkin itu pula yang seketika muncul di benak-benak sahabat-sahabat. Daniel Kahneman menyebut itu sebagai Ilusi.
Bila kita memandang masa depan dengan berpegangan pada Ilusi, artinya kita belum "Clear" dan keputusan yang diambil dalam kondisi yang demikian akan merugikan.
Ketiga, "Clear" di masa kini. Inilah "Being in the moment", kejelasan atas apa yang kita pikirkan saat ini, apa yang kita rasakan persis di saat ini, serta apa yang kita lakukan sekarang, adalah makna "Clear" untuk orientasi saat ini.
Keselarasan antara Think, Feel, and Act adalah indikator jernihnya kita dalam memandang saat ini. Bila apa yang kita lakukan justru bertolak belakang dengan apa yang kita rasakan atau pikirkan, itulah kondisi dimana kita belum jernih, belum "Clear".
Pentingnya kejernihan dalam pengambilan keputusan ibarat meminum air dari sebuah botol yang bening. Kita bisa melihat apa isinya.
Saat kita mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak "Clear", tidak jernih, maka bersiap-siaplah. Bersiap-siaplah dengan kemungkinan terburuk, karena kita tidak tahu apakah air yang kita minum dari sebuah botol yang tidak bening itu berupa obat, penyegar, ataukah racun?
Akhirnya, mari senantiasa untuk jernihkan diri, hati, pikir, dan tindakan. Demi sebuah keputusan yang kelak tidak kita sesali.
Originally Created by Asep Saeful Ulum Decision Support Analyst Follow Twitter : @ulumDSA
DMoL by Ulum
Banyak yang menyesali nasib hidupnya, setiap hari hidup dirundung kecemasan, bayang-bayang masa depan yang suram, dan tak tahu arah kehidupan. Sering kita dengar gumaman orang-orang, “Hidup koq di bawah terus ya? Kapan bisa naiknya ya?”
Banyak yang sadar nasibnya tidak beruntung tapi lebih banyak lagi yang tidak tahu bahwa nasibnya justru besar dipengaruhi oleh pengambilan keputusannya. Mereka tidak sadar bahwa apa yang menimpa kita adalah akumulasi dari hasil pengambilan keputusan.
Jika keputusannya tepat, maka tindakan yang dipilihnya pun tepat. Sayangnya, banyak yang mengambil tindakan di awal, lalu memutuskan kemudian. Sehingga kita kini mengenal istilah “Menyesal selalu datang di akhir.” Padahal, bila kita telah ambil keputusan di awal sebelum mengambil tindakan, sebenarnya menyesal itu tidak perlu ada.
Pada kasus lain, dalam beberapa episode hidup, kita justru menjalani hidup ini berdasarkan keputusan orang lain. Karena kita tidak menjalaninya atas dasar keputusan sendiri, efeknya adalah kita jadi salahkan banyak orang, produktivitas turun, dan hidup tak tentu arah.
Kita harus mampu mengambil keputusan, setidaknya untuk diri kita sendiri. Saya menamakannya dengan DMoL (Decision Making of Life). DMoL adalah konsep bagaimana kita mengambil keputusan dalam hidup.
Ada 3 (tiga) yang ditawarkan agar kita mampu mengambil keputusan dengan landasan yang kuat dan tidak menyesal di akhir. Ketiganya termuat dalam 3 kata; Take, Clear, Value.
Pertama, Take. Ambil alih diri ini 100%. Stop salahkan orang lain! Seberapa sering kita masih menyimpan sekian persen hidup kita pada orang lain?
Kita ambil contoh, sering kita memendam rasa menyalahkan orang tua yang telah meminta kita memilih jurusan perkuliahan tertentu, atau menyalahkan orang lain yang telah memberi saran yang kita pandang keliru, atau membicarakan pimpinan di belakang.
Mengambil alih diri 100% berarti mengakui bahwa setiap kejadian di masa lalu adalah seutuhnya tanggungjawab kita, dan kita siap menatap masa depan dengan tanggungjawab pribadi yang bulat. Utuh. Tidak ada lagi menyalahkan orang lain.
Kedua, Clear. Kita perlu kejernihan perasaan dalam pengambilan keputusan. Bila tindakan dipengaruhi oleh keputusan, ternyata keputusan kita besar dipengaruhi oleh perasaan kita. Perasaannya baik, keputusannya juga akan baik. Maka wajar bila ada istilah yang muncul, “Jangan ambil keputusan saat hati sedang galau.”
Penelitian yang dilakukan oleh Miller, Christopherson, dan King (1993) terhadap para remaja yang hasil risetnya dimuat dalam The Journal of Sex ditemukan bahwa faktor utama yang mempengaruhi para remaja mengambil keputusan untuk melakukan seks pranikah adalah perasaan. Rasa cinta, rasa takut, dan rasa ingin tahu mengambil porsi utama dalam mempengaruhi remaja ketika mengambil keputusan.
Ketiga, Value. Kita perlu untuk periksa kembali apakah keputusan yang kita ambil sudah sesuai dengan nilai-nilai? Bila keputusan yang diambil ada dalam konteks pribadi, periksa apakah keputusan itu sesuai dengan nilai-nilai diri yang dianut? Bila keputusan yang diambil ada dalam konteks perusahaan, periksa apakah keputusan yang diambil sudah sesuai dengan nilai-nilai diri dan nilai-nilai perusahaan?
Ketiga cara DMoL di atas; Take-Clear-Value bisa kita latih setiap hari. Mengapa? Karena sejatinya hidup ini adalah serangkaian pengambilan keputusan.
Ambil keputusan Anda. Ambil kehidupan Anda.
-- ditulis oleh : Asep Saeful Ulum
Once a caravan of 'Aabideen (righteous worshippers) set out on a journey. Sayyiduna 'Ata Alaihi raHmah was also a part of the group. Their diligence in worship had caused sunken eyes, swollen feet and weakness. So weak, that it looked as if they had just come out of their graves. One of them fainted during the journey. Despite the fact that it was very cold, he started sweating out of fear. When he regained consciousness, people asked him about the cause of his perspiration, to which he replied, "When I crossed this area, the sin that I had once committed here came to my mind and an intense fear of the accountability on the Day of Judgment prickled my heart and I lost consciousness."
Ihya' Uloom al-Deen, Volume 4, Page 229