Pesan terlugas yang pernah kuterima, mengantarkan dalam hidup baru, melangkahkan kaki bersama,
Kehadirannya bukan suatu yang baru lagi dalam hidupku. Pasalnya ia memang sudah dekat dengan ibuku sejak ia memasuki sekolah tempat ibuku bekerja. Namanya sering disebut dalam 2 tahun ini. Ia seperti menjadi anak pertama. Hadir dengan segala kemampuannya menyelesaikan hal sehari-hari.
Suatu waktu, kami bertemu. Pertemuan pertama, entah disengaja atau tidak karena saat itu ada acara resmi di sekolah ibuku. Acara bersama Psikolog Klinis handal dalam rangka memotivasi adek-adek kelas 3 SMA untuk semangat melanjutkan pendidikan. Kala itu, ia membelikanku es krim dan makan siang.
Saat itu, kami tetiba mempunyai geng berisikan aku, dia, dan seorang murid multitalenta di sekolah ibuku. Dalam grup obrolan tentu ada ibuku. Kami membahas berbagai hal mulai dari pelajaran, musik, hingga jalan-jalan.
Hadirnya dia menjadi memuakkan karena kecemburuanku terkait kedekatannya dengan ibuku. Aku anak pertama ibu namun ia yang selalu dipanggil ketika segala hal terjadi. Mengganti tinta printer, membelikan barang kebutuhan, dari A sampai Z dia ada. Aku membencinya hingga kukirimi ia pesan bahwa aku tak mau ada dia dalam hidupku, ia pun kuperingatkan bahwa ia bukan anak kandung ibuku bukan saudara sedarahku.
Hingga suatu hari, ibu mengalami kecelakaan, jatuh dari motor. Hanya ia yang dapat dihubungi dari sekian puluh orang yang telah di telpon meminta bantuan. Apakah itu memang takdir?
Aku pulang, karena hanya aku yang bisa mengobati ibuku. Pasalnya aku memutuskan tidak pernah pulang sejak aku membenci lelaki itu masuk terlalu sering dalam hidup kami.
2 bulan setelah kejadian tersebut, setelah emosiku mereda, ibuku mulai bercerita.
Ummi merasa cocok dengan mas karena ia lulus dari sekolah yang sama dengan adekmu. Ummi tidak pernah merasa ada hal lain selain dia orang baik. Namun, ayah ibunya sudah menjenguk ummi. Mungkin ia memang ingin serius menjadi anak ummi.
Kalimat itu akhirnya menjawab semua pertanyaanku. Secara alami, ia masuk dalam kehidupan kami. 2 tahun ia membersamai ibuku. Bahkan bertemu dengan ayahku. Orang tua kami juga telah saling bertemu yang entah membahas apa. Pertemuan para orang tua layaknya orang tuaku dan orang tua sahabatku bertemu, pikirku.
Namun, suatu hari, ia update story yang membuatku berkomentar dan ia membalas dengan sebuah pesan:
Jujur aq merasa terganggu dengan ini, karena aq harus berjalan dalam ketidak pastian, tanpa tujuan, dan jawaban... Hanya doa yang setiap malam ku panjatkan agar Allah meridhoi semua ini.
Toh dulu Syaidina Ali ketika ingin meminang Syaidah Fatimah dia harus mengurungkan waktu nya ber kali-kali , karena dia tahu siapa Fatimah, siapa Ayahnya dan siapa saja yang berusaha mendekati Fatimah. Hingga sampai pada satu masa, akhirnya Syaidina Ali memberanikan diri untuk menghadap Nabi dan mengutarakan hajadnya, dan Alhamdulillah takdir berpihak pada Syaidina Ali ,,, 😊
Dan dari semua ini, pada hari ini ku beranikan untuk jujur pada mu, tentang perasaan ku,,
"Izinkan aq masuk menjadi bagian dari hidupmu dek"
Ini adalah pesan terlugas yang pernah kuterima. Surat cinta yang dulu kupenasaran bagaimana isi dari surat cinta itu apa. Pesan ini membuatku berpikir amat sangat panjang untuk menjawabnya. Pesan ini juga yang mendatangkan berbagai rasa emosi datang bersamaan hingga menitikkan mata, hingga hari ini.