Lusa sore lalu, ruang kerja kami kedatangan seseorang. Ruangan kerja kami memang sering disambangi orang-orang, bukan hanya sekedar mampir untuk memberikan dokumen-dokumen yang diperlukan, tetapi juga bertukar pikiran hingga curhat colongan. Terasa agak aneh memang, secara tugas kami adalah memeriksa kinerja mereka, tapi mereka senang sekali bercerita panjang lebar dengan kami, mengenai apapun, pekerjaan, hidup, agama, cinta, dsb.Walaupun mereka juga mengatakan sendiri selalu merasa deg-degan tiap kali kami meminta izin inquiry kepada mereka.
Meskipun diantara kita memiliki beberapa pandangan yang berbeda, aku rasa ini tetap pelajaran yang berharga. Bagaimana perjalanan mereka membentuk diri mereka, bagaimana mereka memandang kehidupan, mengapa mereka memilih jalan hidup yang mereka tekuni saat ini. Meski tidak menjalani sebagaimana mereka jalani, aku rasa tetap perlu memahami bagaimana persepsi mereka, agar kita dapat memandang lebih luas, memandang dan mengambil keputusan dalam hidup lebih bijaksana.
Karena sedang merasa lelah bekerja, saat itu banyak yang mengeluhkan nikmat-nikmat yang ada masih terasa kurang. Tiba-tiba seseorang—yang biasanya tampil paling nyeleneh diantara kita—berkata, Kepuasan itu hanya berbatas dengan rasa syukur kita.
Wess.. wess.. spontan seluruh yang ada di dalam ruangan tertohok dengan apa yang ia lontarkan. Mungkin kita pernah mendengar kalimat sejenisnya, hanya saja lucunya hampir dari semua lupa akan hal itu. Beruntung, ada yang berhasil menemukan hikmahnya lantas mengambilnya. Ketidakpuasan yang menjadi sifat manusia semestinya menjadikannya sebagai sebuah challenge untuk memperbesar syukur kita.
“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)
Pernah, dalam sebuah diskusi di ruang yang sama. Seseorang diantara kami dikenal sebagai pekerja keras, ia memiliki pekerjaan tidak hanya di tempat kami bekerja, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Banyak diantara kami heran dengan yang ia lakukan, bagaimana kamu menikmati hidup masa muda, dia adalah sesorang yang paling sibuk namun paling jarang kami dengar keluhannya.
"Haha.. oke, boleh saja anggap diriku tidak punya kehidupan, tapi aku tidak akan membiarkan orang lain tidak memiliki kehidupan karena diriku,"
celetuknya. Sejenak kami tertegun memikirkan kata-kata yang ia ucapkan. Kemudian ia melanjutkan, "lagipula aku bahagia kok. Hehe, apalagi kalo bisa membahagiakan orang lain, pasti kalian juga bahagia, kan?." Apapun yang ia korbankan saat ini, nyatanya di dalam hatinya bukanlah untuk pencapaian pribadi semata.
"Bukan hanya selagi muda, tapi selagi masih ada waktu, berkontribusi dimana pun kita ditempatkan, kita hanya perlu sedikit lebih lelah dari kebanyakan orang untuk unggul di garis final. Ya anggap saja sedikit, kan hidup juga terasa sebentar, kan."
Sepertinya kalimat terakhirnya itu diakhiri dengan titik, dia tak menanti jawaban, kami pun tak bergeming. Seketika atmosfer ruang kerja kami menjadi hening, barangkali kini setiap orang sedang beristighfar sebanyak mungkin dalam hati.
Sejatinya kita dapat belajar dari mana saja, bahkan dari hal-hal yang kita anggap buruk. Bukankah Tuhan begitu baiknya? Dia mengajarkan pada kita untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa, baik ataupun buruk peristiwa itu.
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah[1301]dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.“ (Q.S. Shaad, 38: 20)
"Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)." (Q.S. Al-Qomar, 54: 4-5)