Di era yang serba memikirkan untung-rugi, semuanya dihitung berdasarkan kalkulasi matematis, orang pun cenderung mau menjalin hubungan berdasarkan prinsip oportunisme.
Realitanya, ada jenis manusia yang lebih illogic berpikirnya. Harusnya 1 kebaikan dibalas dengan 1 kebaikan yang sepadan bagi mayoritas orang, tapi yang ini gak. Orang-orang ini menilai bahwa segala bentuk kebaikan itu hal yang bermakna bagi mereka. Sehingga balasan yang mereka kasih, jauh lebih besar dari nilai kebaikan itu sendiri.
Contoh. Ada teman kantor yang minta tolong dibookingkan tiket perjalanan secara online, dia merasa belum bisa ngikutin teknologi yang canggih makanya minta tolong yang lebih muda. Tau-tau pas otw dibookingkan tiket beliau bilang
“Tiketnya booking 3 ya mbak; saya, anak saya sama kamu. Mau ya ikut pergi jalan-jalan sama saya” eh pas ditolak malah beliau tetep kekeuh.
Atau ketika ada teman 1 klub olahraga mau UN, dia minta diajarin fisika. Bilangnya mau minta diajarin, nyatanya pas diminta belajar malah diajakin main. Pas pengumuman hasil, dia keterima di sekolah internasional. Lalu mamanya bilang sambil mohon-mohon,
“Mbak mau minta apa, saya bisa acc kan mbak ketrima kuliah di Un*** kalau mau. Saya wakil Dekan disana”
Terakhir, ada teman jaman kuliah D4 yang cuman dibantuin nyari referensi tugas dan nemenin ngobrol masalah kerjaan, timbal baliknya malah apapun yang beliau punya dikasihkan. Tiap makan dibayarin, sampai diajak travelling ke daerahnya tanpa keluar duit sepeserpun.
Dari orang-orang ini, ku belajar untuk : berbuat baik tanpa mikir untung-rugi ; ketika dapat kebaikan dari orang yang gak disangka-sangka, auto ngebalas secara maksimal dan totalitas ; paling penting lagi, gak semua kebaikan orang lain bisa diterima saat bantuan datang sebelum mulai usaha menemukan jalannya.
Sama halnya begini, seseorang punya kinerja seharga 1 juta tapi ternyata hanya digaji 750ribu. Bisa jadi 250ribunya adalah tabungan yang akan dibayarkan Tuhan di lain waktu. Beda lagi kalau kinerja UMR tapi digaji 5 juta, bisa jadi 1,2 juta itu pembayaran tabungan yang dulu-dulu. That's why gak seharusnya mempertanyakan dan menghitung-hitung kebaikan, karena hidup bukan arena transaksional.















