Sayang bila hidup tidak pernah meninggalkan peradaban selama tujuh hari. Tidak ada televisi, listrik ataupun jaringan seluler. Berjalan dengan orang lima, selama sepuluh hari, tiga hari melewati perkotaan tujuh hari masuk ke dalam hutan. Apa kau tau bagaimana rasanya menghabiskan waktu selama tujuh hari dengan empat orang yang sama?. Sudah sifat alami manusia sebagai makhluk sosial dan berinteraksi. Dan kami adalah satu-satunya kelompok di dalam sana. Apa kau juga tau bagaimana rasanya makan sehari dua kali itupun kalo ada kayu kering untuk menyalakan api, tengah hari hanya ngemil kue bundar rasa cocopandan Dan apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya memanggul kerir dibelangkang punggungmu dengan beban belasan kilo di tambah ransel 30 liter di depan dadamu?. Kami biasa menyebutnya "Tandam Mode On" kalo kau pernah nonton pilem Everest, kami persis macam porter (kuli panggul) di gunung Himalaya itu, bedanya kami memasuki hutan hujan tropis dan mereka mendaki gunung salju abadi, bahkan jika kau mati di atas sana jasadmu tidak akan membusuk. Dengan beban hidup seperti itu kami harus berjalan lagi puluhan kilometer untuk menembus jalur Kandangan Hulu Sungai Selatan menuju Barabai, Hulu Sungai Tengah kalo tidak salah desa Batu Perahu bila tidak Batu Kembar. Kedua desa ini berdekatan tapi jarak dari satu desa ke dasa yang lain sekitar 8 jam dengan jalan kaki. Dalam perjalanan kau akan menemukan kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi cerita hidup. Dan pada akhirnya dalam perjalanan kau akan banyak belajar, belajar tidak melulu duduk dibangku lembaga pendidikan Belajar bisa dilakukan saat berjalan memasuki hutan, melihat pohon, menghirup udara pagi, dan minum dari mata air langsung pegunungan meratus. Belajarlah pada alam. -Singgih, 712 Hari yang lalu (Agustus 2017.) #salamlestari #lensaborneo #visithst #visithss #visitkalsel (di Peniti panjang,Gunung Periok,Gunung halau-halau dll)









