Bingung mau ceritanya gimana, masih speechless. Hari ini banyak banget hal-hal baru terjadi padahal gak baru pertama kali ketemu sama TheOvertunes. Awalnya aku kira hari ini bakal jadi acara meet up biasa, ketemu, high five, signing, lalu pulang.
Aku, Hotma, dan Ismi yang rumahnya memang gak terlalu jauh dari Kalibata hanya butuh sekitar tiga menit untuk sampai di lokasi KFC Visit Store nya TheOvertunes menggunakan kereta. Baru kali ini aku ngerasain dapet antrean loket kereta yang panjang, biasanya kalau ke stasiun Pasar Minggu pasti sepi (atau mungkin kebetulan selalu dapet yang sepi). Setiap orang yang datang ke stasiun pasti mengucapkan istigfar atau setidaknya hanya menggeleng kepala karena kaget melihat antrean yang panjang. Hampir giliranku buat beli tiket setelah terjebak antrean, tiba-tiba ada seorang ibu yang baru datang dan menodongku dengan tiket dan satu lembar dua ribu rupiah sambil berkata, “Dek, nitip ya dek. Citayem, uangnya pas”. Mendengar permintaan ibu itu, beberapa orang yang juga ikut mengantre di samping kiriku langsung menoleh dengan tatapan datar tapi pasti dalam pikirannya terbesit “wkwkwk untung bukan gue yang dimintain tolong”. Akhirnya saya hanya tersenyum getir menerima permintaan ibu itu, bulan-bulannya ujian memang harus sabar. Beruntunglah kami, ternyata kereta siang itu tidak penuh, meskipun harus berdiri, tapi setidaknya gak sampai harus desek-desekkan kehabisan nafas.
Kami tiba di KFC salah satu plaza di Kalibata sekitar pukul 13.30, dan seperti biasa TheOvertunes tidak datang tepat waktu ha ha ha. Beberapa tunist ternyata juga sudah datang lebih rajin daripada kami bertiga. Setelah Hotma dan Ismi membeli makanan dan minuman kecil-kecilan alias jajan (buat gaya soalnya gak enak numpang duduk doang), dan menghabiskan camilan mereka itu, Hotma tiba-tiba menunjuk ke arah pintu masuk. Lads! Secara refleks kami pun dadah-dadah ke mereka yang sedang berjalan ke arah kami. Senangnya ketika mereka dengan antusias dan muka yang sumringah juga membalas dadah-dadah an itu, kebayang betapa malunya kalau mereka gak ngeh sama kami, pasti awkward. Mereka bertiga lalu segera ‘membajak’ meja kasir melalui pintu khusus buat pegawai KFC. Belum beranjak dari meja kami, Kak Mada dengan polosnya melambai-lambaikan Selamanya ke arah kami bertiga. Ternyata dia nanya apakah kami sudah membeli albumnya atau belum. “Udah! Udah!” jawab kami dari kejauhan yang dijawab lagi dengan anggukan dari Kak Mad. Kami dan Kak Mada berasa di hutan gitu, harus berbicara dengan gerakan mulut yang benar dan besar biar ngerti ngomongnya apa wkwkwk.
Lalu, sementara Hotma dan Ismi duduk kembali, aku yang tangannya udah gatel mau ngefotoin lads, akhirnya maju mendekati orang-orang yang sedang mengantre sekaligus berkesempatan ngobrol-ngobrol bareng mereka. Selain sama pengunjung dan tunist, mereka juga berinteraksi sama mas dan mbak pegawai KFC yang sedang bertugas, dan gak lupa groupie bersama Selamanya. Karena Kak Mad dan Mikha posisi berdirinya di depan meja kasir yang antreannya banyak (dan emang antrean pengunjung KFC), aku terpaksa harus menepi ke meja yang sepi, meja deketnya Kak Ugi. Di depanku ada dua orang tunist berjaket almamater gitu, tapi sayangnya aku gak sempat liat dari universitas apa. Setelah mereka ngajak ngobrol dan foto bareng Kak Ugi, tinggalah saya berdiri terpaku memegang kamera. Dang. Tiba-tiba Kak Ugi kayak goyang-goyangin Selamanya ke arah saya. Aku menangkap maksudnya seolah-olah mau bilang, “Hey it’s your turn now, come on say something”. Sedangkan aku bingung banget mau ngomong apa, dia notice saya sebagai tunist saja sudah senang. Kami berdua tahu kalau dia yang memang harus jadi pihak yang memulai pembicaraan, jadi akhirnya Kak Ugi menyapa saya dengan, “Bonjour!”. Flashback ke kemarin, aku iseng, tanpa niat serius, mengirim pesan via twitter kepada abang goals saya itu, kalo gak salah saya minta izin hari ini tanda tangannya juga disertai tulisan bahasa Perancis. Dan yang bikin kocaknya, karena kukira dia gak bakal baca pesan itu, jadi pesannya udah aku delete sebelum meet up hari ini. “Bonjour!” saya lalu menyambar tangan Kak Ugi buat salaman (buat ngilangin awkward moment) dan disambut dengan ketawa lima jari ala Reuben Nathaniel Brahmantyo.
Setelah puas ‘membajak’ kasir, disertai dengan aksi Kak Mada bermuka sangat polos yang sangat bersemangat melambai-lambaikan Selamanya ke arah pengunjung mall (buat promosi sampe segitunya), mereka bersiap-siap untuk signing session. Om Nabil ternyata mengatur tempat signing sessionnya di meja sebelah kami persis, jadi ketika lads datang, Kak Mada dengan sopannya izin ke Hotma untuk memakai meja kami. Duh di mana lagi nyari abang kayak gitu. Oh iya, sebelum mulai sesi penandatanganannya, Adys-Zahra baru banget dateng dan sempat-sempatnya kami kerjain dengan-bilang kalau lads baru aja pulang wkwkwk. Thalitha yang mengaku-ngaku sebagai Kendall Jenner dan Farah juga akhirnya ketemu lagi sama saya setelah terakhir hanya ketemu bentar di acara launching Selamanya.
Meja udah siap, spidol-spidol sudah siap, tunist pun gak kalah siap mengantre tanda tangan TheOvertunes. Waktu lagi ngantre, Om Ari yang lagi sibuk megangin beberapa poster Selamanya dan masing-masing lads dengan baik hati membagi-bagikannya kepada tunist. Awalnya aku mengira kalau posternya khusus buat yang beli album lebih dari satu, jadi aku sama Hotma sempat sekongkol. Album punya Hotma dan album punyaku aku pegang barengan, seolah-olah punya dua. Tapi ternyata Om Ari malah menawarkan dua poster setelah melihat saya memegang dua album. “Kamu mau yang mana?” “TheOvertunes!” “Terus apalagi? Itu dua kan albumnya” lah lah ya sudah, siapa yang bakal nolak dapet poster bertandatangan lads, akhirnya aku bilang aja “Reuben” buat Hotma yang emang Reulette. Kayak yang tadi aku bilang, ini bukan momen pertama kali ketemu lads, tapi anehnya waktu lagi ngantre, semakin dekat antreannya malah semakin nervous, tegang kayak mau ujian. Sambil mengantre, tunist juga asyik sing along track-track di album Selamanya yang memang langsung diputer sama KFCnya ketika TheOvertunes datang.
Akhirnya tiba giliranku meminta tanda tangan. Baru mau nunduk bermaksud menyebutkan namaku ke Kak Ugi (kenapa dia terus? dia memang kebetulan paling mudah dijangkau, tempat duduknya pas banget deket antrean lagi) setelah menyerahkan albumku, Om Nabil mungkin mengira kalau aku gak sabaran wkwk jadi dia langsung kayak, “Nanti dulu ya sayang, tunggu instruksi dari aku. Pasti semua ada gilirannya kok” XD. Aku langsung berdiri tegak lagi sambil memandangi tangan Kak Ugi yang langsung nulis-nulis di albumku. Kak Ugi sesekali ngeliat aku dan nulis lagi. Aku kepo dia nulis apa soalnya aku belum ngomong apa-apaan ke Kak Ugi, tapi daripada nanti Om Nabil gemes lagi, jadi saya hanya terdiam. Selain tanda tangan, kami juga berkesempatan untuk foto bareng mereka bertiga, makanya Om Nabil agak kesel kalo dia udah siap-siap mau ngefotoin, ada tunist giliran berikutnya yang menghalangi foto. “Boys!” instruksi Om Nabil supaya lads berhenti nulis dan ngeliat ke arah kamera sebentar. Setelah tunist di depanku selesai difotoin sama Om Nabil, aku akhirnya sempat ngomong dikit sama Kak Ugi. Albumku sudah dia oper ke Kak Mad. How fast.
*ketawa dulu* Mille fois merci! Tapi aku gak tau tulisannya bener atau gak
(HAHAHA DIA BENERAN NULIS BAHASA PERANCIS :””””) Aku hanya bisa ketawa dalam hati karena dia terlalu baik sampai mungkin bisa aja kemarinnya dia nyari di google translate dulu atau emang udah belajar sebelumnya trus harus mengingat-ingat lagi bahasa Perancis)
Iya kalo mercinya bener sih. Kamu Mera kan?
Hah kenapa? *mulai budeg*
*ngangguk ngangguk sambil ngecek Kak Mad, ngecek tulisan di albumku yang tadi baru dia tulis*
(Kak Ugi sepertinya mikir untung gak salah nulis karena tadi aku kan belum sempat nyebutin namaku ke dia karena ada yang mau foto, setidaknya ada kata “mera” “mera” nya deh. Btw aku belum pernah proper kenalan sama abangku itu, belum pernah kayak salaman sambil menyebutkan nama, tapi itu suatu keajaiban dia bisa tahu namaku, dan membuat panggilan sendiri, “mera”. Congratulations gi, you’ve made my 7th nickname, congrats! Lalu tiba-tiba Kak Mada noleh ke aku, kayaknya mikir mau nulis apa, jadi aku senyumin aja siapa tahu dapet inspirasi, lalu dia membalas dengan senyuman termanis yang pernah aku liat ala Mada Emmanuelle Brahmantyo dengan dimple dimplenya itu sebelum lanjut nulisin albumku lagi.)
Kak Ugi, foto dong *siap-siap ngeker di kamera*
*dia kayak mau tapi mager dan akhirnya senyum dengan gaya kayak anak kecil yang ogah-ogahan disuruh foto tapi tetep senyum*
Pas ngeliat hasil fotonya, aku beneran ketawa dan diketawain juga sama Kak Ugi, jadi kami tertawa bersama(?). Sekarang gantian aku yang difotoin sama Om Nabil. Tapi seperti biasa, hasil fotonya kalo dijepret sama orang lain pasti ada aja failednya, dan kali ini ke-failed-an nya itu gelap :”””) Thanks to photoscape, fotonya masih bisa diatur brightness nya setelah aku sampai di rumah. Setelah foto, albumku ternyata masih belum ditandatanganin sama Mik, jadi aku akhirnya langsung pindah tempat sebelum dimarahin Om Nabil karena menghalangi foto wkwkwk. Sementara Kak Ugi bisa ngobrol sambil tanda tangan, Kak Mada sibuk gambar-gambar sesuatu tapi ngobrol dan tanda tangan juga, Mikha justru serius banget waktu lagi nulis-nulis gitu. Kocak ngeliatnya, I could watch him for years. Kayak anak kecil kalau udah dikasih kertas sama krayon, Mikha langsung sibuk sendiri. Dia sampe harus nunduk, hati-hati banget nulisnya, kalau kata Hotma “Diukir itu mer!”.
Dialog, lebih tepatnya, monolog, dengan Mikha:
*aku nunjuk pake jariku ke tangan kirinya Mik*
*Mik tetep nunduk sambil nulis*
(Saking seriusnya, aku sampe gak digubris sama dia, kan maklum saya kepo soalnya di tangannya ada kayak bekas cap kecil bertuliskan huruf “M” wkwk)
*spidolnya udah mau abis, poor Mik ): nyisain tinta spidol di ujung bawah cover, gambar emot kecil*
(Karena kasian gitu kayak ngeliat anak kecil yang pengen banget gambar tapi crayonnya patah, aku inget kalau aku punya spidol juga.)
(Sambil saya merogoh kantong, Mikha kayak antara excited pengen nulis lagi karena ada spidol baru dan malu banget gitu entah kenapa, dia MASIH nunduk gitu. Santai aja kali Mik hahaha)
*nerima spidol dengan ragu-ragu, terus akhirnya beneran keasyikan gambar di album*
(Sebelum gambar dia nyabut kertas “ppn” yang ada di albumku, dia gak tahu aja padahal aku selalu sengaja meninggalkan sticker itu setiap beli album -_- tapi ya sudahlah gak apa-apa, daripada dia jadi ngerasa awkward akhirnya aku diamkan saja tangannya dengan leluasa mencabut dan membuang sticker)
(AKHIRNYA Mikha gak nunduk lagi dan malah senyum pas kami high five)
Setelah kami bertiga dapet semuanya, signing session di Plaza itu pun berakhir. Seperti biasa beberapa tunist langsung menyerbu lads untuk selfie, ngobrol, atau meminta mereka mengucapkan sesuatu di voice note. Tiba-tiba, di dekat meja yang tadi dipakai untuk signing session, tergeletak di lantai satu poster abang plus tanda tangannya yang sudah lusuh dan ada bekas injekan sepatu. Sebagai adik yang baik dan harus melindungi martabat abang, jadi akhirnya saya rela menyimpan poster tak bertuan yang sudah lusuh itu dan membawanya ke rumah HA HA. Sebelum bubar, Om Nabil dan Om Ari meminta tunist dan TheOvertunes untuk foto bareng di KFC.
Setelah selesai di Plaza, visit store selanjutnya adalah di mall yang ada di seberang persis. Karena jaraknya kalau jalan kaki lumayan, aku, Hotma, dan Ismi akhirnya buru-buru pergi naik angkot, takut keduluan sama ladsnya sendiri. Setelah sampai di tempatnya, kami gak langsung ke KFC, tapi ke toilet sebentar. Waktu keluar dari toilet dan rencananya mau nyari KFC, Hotma pas banget ngeliat lads baru dateng dan lagi jalan di tangga. Berhubung Hotma udah pake acara nunjuk-nunjuk ke mereka dan mereka ngeliat, kami langsung panik dan refleks kabur. Kocaknya karena kami sendiri juga gak tahu KFC di mana, akhirnya kami berhenti dan malah jadi ngikutin lads dari samping tapi dengan sembunyi-sembunyi. Kayak kucing-kucingan jadinya sampe diliatin orang-orang :””)
Tapi ternyata, mereka beli minuman dulu, dan kami sendiri pun sudah melihat dari jauh KFCnya di mana. Jadi kami kayak lari lagi waktu ngelewatin mereka karena sudah terlalu malu. Dengan keadaan masih ngos-ngosan setelah dateng ke stall KFCnya (di mall ini KFCnya hanya kedai, gabung sama kedai-kedai lain di satu food court), kami ngeliat Tante Vo sama Endu lagi duduk berdua di salah satu mejanya. Berhubung gak pernah nyalam Tante Vo, akhirnya kami bertiga memberanikan diri menghampiri mejanya. “Tante Vo!”. “Apa kabar?” tanya Tante Vo ramah sambil menyalam kami satu per satu. Dan dari sekedar salim sama Tante Vo, kami bertiga malah jadi curhat dan ngobrol banyak tentang ujian :””) Mulai dari ditanyain lagi liburan atau gak, kapan pengumuman ujian, ngejelasin ke Tante bedanya SBMPTN sama SIMAK, sampe ditanyain satu-satu jurusan yang kami pilih apa. Tante Vo juga notice kalau kami bertiga ngos-ngosan dan ketawa waktu kami bilang habis lari-lari dan sebenernya juga udah ketemu lads sebelumnya di Plaza. Tante cerita katanya belum pernah liat ketiga anak-anaknya itu waktu ‘membajak’ kasir, makanya hari ini dia dateng ditemenin Endu. Biar basa-basi karena gak enak Tante Vo terus yang banyak topic pembicaraannya, aku iseng nanya “Endu udah libur, Tante?”. “Endu besok baru bagi rapor” sambil nengok ke arah Endu yang tadinya lagi mager-mageran di meja jadi nengok karena terpanggil. Btw, Tante Vo nya emang baik dan ramah banget banget banget, jadi gak kerasa kalau lagi ngobrol sama ibunya artis, lebih kayak ngobrol sama ibunya teman sendiri, down to earth kayak anak-anaknya. Peribahasa “Buah jatuh gak jauh dari pohonnya” ternyata memang benar.
Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kami yang sebelumnya udah didoain Tante Vo supaya lulus (dan semoga kami nantinya bakal nyalim lagi ke Tante Vo dengan sudah berjaket kuning AMIN) lalu pamit buat ikut ngantre ke stallnya KFC. Kali ini Hotma dan Ismi beneran ngantre karena ada yang mau dibeli, dan ya sekalian biar bisa ngobrol bareng sama lads juga sih haha. Lagi-lagi, Kak Mada sibuk banget melambai-lambaikan Selamanya ke arah pengunjung, bahkan kali ini sampe nawarin mas dan mbak yang lagi jaga di stall-stall makanan lain di seberang wkwkwk. Kalau Ismi sempat ngobrol sama Mikha karena antrean di barisannya gak begitu panjang, Hotma malah gak kedapetan ngobrol karena antreannya panjang :””) gagal. Terus kalau tadi waktu di Plaza, pengunjung mall nya setidaknya tahu Mikha, kali ini di City Square, pengunjungnya sebagian besar kebingungan waktu ngeliat stall KFC dipenuhi sama fans-fans dan ada empat orang (Endu ikutan juga) di kasir yang lagi dikerumunin. Ada satu ibu-ibu muda yang tiba-tiba nanya ke aku, “Siapa sih? Siapa sih?”, “TheOvertunes”, “Siapa tuh?”, “Band baru Indonesia, mereka kakak beradik gitu” “Wah ganteng-ganteng semua ya” (oh iya dong, baru tahu sih) jawab saya dalam hati wkwkwk.
Signing session pun dimulai, kali ini lebih longgar dan lebih sepi dari yang di Plaza. Bukan apa-apa, sebagian besar tunist yang ada di tempat ini sebelumnya juga sama-sama pindah dari Plaza tadi haha. Lads juga keliatannya sudah mulai kelelahan, banjir keringat, dan sibuk menyeruput minumannya masing-masing. Tapi entah kenapa, dari sejak di Plaza sampai di City Square ini, Mikha jauh lebih kalem dari biasanya. Kali ini dia udah tenggelam di dunianya sendiri, sibuk nulis-nulis dan gambar-gambar dengan spidol baru wkwk. Mungkin Mikha kecapekan.
Setelah semua kebagian tanda tangan dan foto (btw Ismi juga minta tanda tangan Kak Mad di case hpnya wkwk) lads dan kedua om Sony pun pulang. Mereka disuruh berdiri di depan reklame KFC dan ngomong beberapa patah kata gitu tentang visit store dan sekalian promosi album. Setelah bubar, berhubung Kak Mad dan Mikha jalannya jauh lebih cepat, akhirnya aku nunggu pamitan sama Kak Ugi dan Tante Vo aja. Ternyata Tante Vo masih inget kami dan didoain lagi supaya sukses (AMIN) :”) Pas mau high five sama Kak Ugi, tiba-tiba dia bilang lagi, “Au revoir!” Hahaha fix hari ini latihan bahasa Perancis lagi sama Kak Ugi. “Au revoir!” aku jawab lagi sebelum high five terakhir. Seperti biasa, tunist pantang pulang sebelum bener-bener liat mobil mereka sudah menghilang. Meskipun waktu di tangga eskalator Om Ari sudah menghalangi tunist ikutan naik, dan lads sudah sayonara sambil dadah-dadah, tunist tetep ngeyel. Ujungnya tunist tetap mengantar lads sampe ke mobilnya. Mikha yang hari ini lagi diem banget langsung masuk mobil dan duduk di kursi penumpang depan, sementara Kak Ugi dan Kak Mad masih ‘ditahan’ sama beberapa tunist buat ngobrol atau foto. Ada tunist yang naro bunga di samping telinganya Kak Ugi, tapi karena dia juga gak tahan digituin akhirnya bunganya dicopot lagi. Terus ada yang nyuruh dia untuk senyum lima jari sepertinya, soalnya tiba-tiba dia senyam senyum gaje yang keliatan semua gigi depannya gitu. Sebelum masuk mobil Kak Mad juga bilang makasih banyak buat tunist, lalu tiba-tiba, kakak beralmamater yang tadi aku ceritain jatuh dan semua orang langsung diam. “Eh kenapa tuh?” Om Ari langsung panik. Aku yang berdirinya cuma berapa langkah dari kakak itu cuma bisa melongo, bingung kenapa sampe bisa jatuhnya sebegitu keras. Untungnya kakaknya gak kenapa-kenapa, malah dia kayak malu gitu terus ketawa wkwkwk. Waktu pulang ternyata Tante Vo nitip sebungkus marning sebagai oleh-oleh buat tunist, jadi Kak Debora, salah satu tunist, ngebagiin satu-satu buat kami. Berhubung besoknya puasa, kami sesama tunist, dan Om Ari juga saling maaf-maafan satu sama lain hehe :D